Episode ini menelusuri kelahiran Java oleh Sun Microsystems, filosofi Write Once Run Anywhere, evolusi platform dari JDK 1.0 hingga JDK 21 LTS, model rilis enam bulan dengan LTS dua tahunan, serta alasan Java masih relevan untuk backend dan cloud-native.

Setelah environment siap di episode 0, saatnya memahami dari mana Java berasal dan mengapa bahasa ini begitu penting. Episode 1 menelusuri sejarah Java — dari proyek kecil di Sun Microsystems hingga menjadi bahasa yang menggerakkan miliaran perangkat dan sebagian besar sistem enterprise dunia.
Memahami sejarah bukan sekadar nostalgia. Evolusi Java menjelaskan banyak keputusan teknis yang akan kalian temui sepanjang series: mengapa ada bytecode, mengapa ada model rilis LTS, dan mengapa ekosistemnya begitu besar. Dengan konteks ini, setiap konsep berikutnya terasa lebih bermakna.
Java lahir dari proyek Green Project yang dipimpin James Gosling di Sun Microsystems pada awal 1990-an. Awalnya dirancang untuk perangkat elektronik konsumen dengan nama Oak, bahasa ini kemudian dinamai ulang menjadi Java dan dirilis publik pada 1995.
Janji besarnya adalah Write Once, Run Anywhere (WORA): kode yang dikompilasi menjadi bytecode bisa berjalan di platform mana pun selama ada JVM. Inilah yang membuat Java revolusioner — aplikasi tidak perlu dikompilasi ulang untuk setiap sistem operasi.
Pada era 1990-an, aplikasi harus ditulis ulang untuk setiap platform. Web baru mulai berkembang dan membutuhkan konten interaktif. Java hadir dengan dua jawaban: portabilitas melalui JVM dan eksekusi di browser melalui Java Applet, membuatnya menjadi bahasa paling populer di awal era internet.
JDK 1.0 dirilis 1996 dengan sekitar 250 class. JDK 1.2 pada 1998 memperkenalkan Collections Framework, Swing, dan pembagian edisi J2SE, J2EE, serta J2ME. Java 5 pada 2004 menambahkan generics, annotation, dan enhanced for loop yang mengubah cara menulis kode sehari-hari.
Java 8 pada 2014 membawa lambda dan Stream API yang merevolusi gaya pemrograman. Java 9 memperkenalkan JPMS (module system) dan jshell. Java 11 menjadi LTS pertama di bawah model rilis baru Oracle. Java 17 menghadirkan sealed classes dan pattern matching. JDK 21 pada 2023 menambahkan virtual threads dan record patterns sebagai fitur LTS.
Perintah berikut menampilkan versi JDK yang sedang aktif:
java -version
java --versionjava -version menampilkan detail versi, sedangkan java --version menampilkan ringkasan satu baris. Keduanya berguna untuk memastikan versi yang dipakai.
Sejak 2018, Java mengadopsi model rilis berbasis waktu: sebuah feature release setiap enam bulan pada bulan Maret dan September. Penomoran naik berurutan — 21, 22, 23, dan seterusnya — tanpa penomoran mayor-minor.
Setiap dua tahun, salah satu rilis ditetapkan sebagai LTS (Long-Term Support) yang didukung lebih lama untuk produksi. JDK 21 adalah LTS saat ini, menggantikan JDK 17. Bagi pengembang aplikasi produksi, memilih versi LTS adalah keputusan paling aman karena jaminan update keamanan dan stabilitas.
Maret + September: rilis fitur setiap 6 bulan
Dua tahunan: versi LTS, misalnya 17 dan 21Pendekatan tradisional mengompilasi kode menjadi instruksi mesin spesifik platform. Java memecahkan portabilitas dengan bytecode yang dijalankan JVM. Konsekuensinya ada trade-off: JVM menambah lapisan abstraksi, tapi kompensasi dengan JIT compiler yang membuat eksekusi cepat.
Bahasa seperti C dan C++ menuntut pengembang mengalokasi dan membebaskan memori secara manual. Java menggunakan garbage collection otomatis: objek yang tidak lagi direferensikan dibersihkan sendiri oleh JVM. Ini menghilangkan kelas bug berbahaya seperti memory leak dan dangling pointer.
Java memiliki ekosistem terbesar untuk enterprise: Spring, Jakarta EE, Hibernate, dan ribuan library di Maven Central. Untuk aplikasi web, mobile (Android), dan mikroservis, Java menjadi pilihan utama karena kestabilan dan dukungan komunitas yang luas.
Java terus beradaptasi dengan era cloud. Native image via GraalVM, virtual threads untuk konkurensi tinggi, dan framework ringan seperti Quarkus membuat Java tetap kompetitif untuk aplikasi cloud-native. Banyak perusahaan finansial, e-commerce, dan platform besar masih berjalan di atas Java.
Kompatibilitas ke belakang yang kuat berarti kode sepuluh tahun lalu masih bisa berjalan di JDK terbaru. Bagi perusahaan, ini berarti investasi yang aman. Kombinasi kinerja, ekosistem, dan kestabilan inilah yang membuat Java bertahan lebih dari dua dekade.
Java hadir di hampir setiap sektor: aplikasi enterprise, perbankan dan layanan keuangan, e-commerce, sistem transportasi, hingga miliaran perangkat Android. Secara konsisten, Java berada di jajaran teratas bahasa pemrograman paling populer di dunia.
perbankan & layanan keuangan
e-commerce & logistik
platform cloud & big data
aplikasi AndroidJava juga beradaptasi dengan tren baru: native image via GraalVM mempermudah deployment yang ringan, virtual threads meningkatkan efisiensi layanan cloud, dan banyak platform data serta AI berjalan di atas JVM. Fondasi yang kalian pelajari sepanjang series ini adalah modal untuk berkarya di era tersebut.
Episode 1 menjelaskan mengapa Java menjadi salah satu bahasa paling penting di dunia: lahir dari Sun Microsystems dengan filosofi Write Once Run Anywhere, berevolusi dari JDK 1.0 hingga JDK 21 LTS, menggunakan model rilis enam bulan dengan LTS dua tahunan, dan memecahkan masalah portabilitas serta manajemen memori.
Inti yang harus dibawa pulang:
Di episode 2 selanjutnya kita akan membahas konsep dasar dan arsitektur utama — proses kompilasi dari source code menjadi bytecode, arsitektur JVM dengan class loader, bytecode verifier, JIT compiler, dan garbage collector, peran JDK, JRE, dan JVM, struktur project standar, serta classpath, module path, dan JPMS. Inilah fondasi teknis yang bekerja di balik setiap program Java.