Belajar MLOps dari dasar hingga production-grade: pre-requisites skill & setup environment, peran MLOps Engineer & mengapa paling dicari 2026, arsitektur & siklus hidup ML, Python production & packaging, reproducibility & environment, experiment tracking dengan MLflow, data versioning & pipelines, training pipelines (Kubeflow/Airflow), CI/CD untuk ML, model packaging & serving, model deployment patterns, model registry & versioning, monitoring & drift detection, model retraining & automation, feature store in production, model governance & compliance, cloud ML platforms, Kubernetes untuk ML, security ML (adversarial & prompt), secrets privacy & data governance, supply chain & model trust, LLMOps & GenAI platforms, cost & GPU optimization, performance & latency tuning, multi-model & multi-cloud, MLOps untuk edge & IoT, ekosistem & tren modern 2026, hingga roadmap karir & refleksi akhir dengan total 28 episode.
Sebelum menyentuh pipeline ML, kalian perlu menguasai Python production, dasar ML, Docker, dan cloud dasar. Di episode ini kalian menyiapkan Python 3.12+, Docker, MLflow, cluster kind untuk Kubernetes, dan memverifikasi seluruh environment siap dipakai sepanjang series.

Mengenal peran MLOps Engineer sebagai jembatan riset ke produksi, fakta 85-87% model ML gagal mencapai produksi, lonjakan lowongan 340% (2024-2026), dan alasan DevOps/SRE/data engineer bisa langsung transisi ke peran dengan kompensasi senior 220K+ ini.

Memahami siklus hidup ML dari data, training, evaluation, deployment, monitoring, hingga retraining sebagai loop, tingkatan maturity MLOps level 0/1/2 menurut Google Cloud, dan perbedaan mendasar MLOps dengan DevOps.

Membawa kode ML keluar dari Jupyter menuju Python production: struktur project src-layout, type hints & dataclass untuk skema data, unit testing dengan pytest, dan packaging dengan pyproject.toml agar model code siap dipakai pipeline.

Mengamankan reproduktibilitas eksperimen ML: dependency pinning dengan lockfile, container Docker untuk training dengan base image yang konsisten, pinning image berdasarkan digest, dan best practice environment agar hasil training identik di semua mesin.

Mengelola eksperimen ML secara sistematis: MLflow untuk mencatat parameter, metrik, dan artifact, Weights & Biases sebagai alternatif, hyperparameter logging, perbandingan run, dan pengenalan Model Registry sebagai gerbang menuju episode 11.

Mengontrol data seperti mengontrol kode: DVC untuk versioning dataset, eksperimen yang terkait hash data, LakeFS sebagai alternatif data lake versioning, serta pengenalan feature store (Feast/Tecton) untuk menjembatani data dan fitur.

Mengotomasi alur training ML sebagai pipeline: konsep DAG, Kubeflow Pipelines untuk native Kubernetes ML, Airflow dan Dagster untuk orkestrasi general, serta best practice retry, caching, dan alerting agar training tidak lagi dijalankan manual.

Membangun CI/CD khusus untuk machine learning: unit test data & model, validasi skema, training test, quality gates evaluasi, dan promo model via GitHub Actions, plus perbandingan dengan GitLab CI.

Mengubah model yang sudah dilatih menjadi API produksi: FastAPI untuk endpoint custom, BentoML untuk packaging terotomasi, TorchServe & Triton untuk model berat, plus skema request-response dan praktik serving yang benar.
