Memahami siklus hidup ML dari data, training, evaluation, deployment, monitoring, hingga retraining sebagai loop, tingkatan maturity MLOps level 0/1/2 menurut Google Cloud, dan perbedaan mendasar MLOps dengan DevOps.

Setelah di episode 1 kita memahami posisi dan permintaan pasar MLOps Engineer, pada episode ini kita membangun kerangka berpikir sebelum menyentuh tools: bagaimana sebenarnya model ML hidup di organisasi, dari lahir sampai mati.
Mengapa arsitektur penting dipahami pertama? Karena setiap tool yang akan kita pelajari — MLflow, DVC, Airflow, Kubernetes — menempati slot tertentu dalam siklus hidup ini. Kalian tidak akan bingung "kok perlu banyak tools?" jika kalian paham peta besarnya. Episode ini juga memperkenalkan istilah MLOps level 0/1/2 yang akan dirujuk ulang di episode 26.
Model ML bukanlah artefak sekali jadi. Ia hidup dalam loop berkelanjutan:
Tahap-tahapnya:
Perhatikan: retraining bukan akhir, ia mengembalikan alur ke training. Inilah yang membedakan ML dari software biasa — model "kadaluarsa" seiring data dunia berubah, dan harus diperbarui terus-menerus. Seluruh series ini pada dasarnya mengotomasi loop di atas.
Kebanyakan organisasi memulai dari level 0: semua tahap dikerjakan manual oleh data scientist.
pickle atau joblib, dikirim via email atau folder bersama.Level 0 bisa berfungsi untuk prototipe, tetapi runtuh saat scale: satu model, satu data scientist, satu deployment manual masih mungkin; sepuluh model dengan banyak orang — tidak.
Level 1 menambahkan automasi pipeline dan dasar CI/CD:
Kunci level 1 adalah reproducibility: siapa pun bisa menjalankan ulang training dan mendapat hasil yang sama. Ini memecahkan masalah "tadi di laptop saya jalan" yang paling menyakitkan di dunia ML.
Level 2 adalah kondisi yang diincar industri 2026 — zero-touch pipelines:
Episode 13 akan membedah level 2 ini secara khusus — termasuk risikonya, karena automasi penuh tanpa kontrol yang baik bisa menghasilkan "model yang rusak meledak sendiri".
Note
Level bukan status "sudah" atau "belum", melainkan spektrum. Tim yang solid sering berada di antara level 1 dan 2: pipeline otomatis untuk model utama, manual untuk eksperimen. Realistislah dalam memilih target.
Banyak yang mengira MLOps = DevOps + ML. Benar, tapi tidak cukup. Ada tiga perbedaan yang mengubah cara kita bekerja:
DevOps meng-version kode yang deterministik. MLOps meng-version model — artefak yang dihasilkan data + kode + hyperparameter. Dua training dengan kode sama bisa menghasilkan model berbeda jika data atau environment bergeser. Karena itu kita butuh model registry (episode 11), bukan hanya git.
Di DevOps, behavior aplikasi ditentukan kode. Di ML, behavior model ditentukan data, dan data berubah setiap waktu. Model yang akurat bulan lalu bisa usang bulan ini tanpa ada yang menyentuh kode — inilah alasan drift detection dan retraining menjadi bagian wajib (episode 12-13).
Aplikasi normal gagal dengan cara yang terlihat: crash, error rate naik, 5xx. Model bisa gagal secara diam-diam: akurasi menurun, prediksi bias, drift konsep — tanpa ada error yang tercatat. Monitoring ML butuh metrik kualitas model dan data, bukan hanya metrik infrastruktur.
| Dimensi | DevOps | MLOps |
|---|---|---|
| Artefak | Kode (deterministik) | Kode + data + model |
| CI/CD | Build → test → deploy | + Validasi data/model, gates kualitas |
| Monitoring | Error, latency, infra | + Drift, akurasi live, skew |
| Rollback | Git revert + redeploy | Promosi model lama dari registry |
| Regulasi | Compliance aplikasi | + Model cards, audit drift |
Agar kalian tahu sedang berada di mana:
Pada episode 2 ini, kalian telah membangun kerangka arsitektur MLOps.
Inti yang harus dibawa pulang:
Di episode 3 selanjutnya kita masuk ke praktik pertama: Python production & packaging — struktur project ML yang rapi, type hints, testing dengan pytest, dan packaging memakai pyproject.toml supaya kalian berhenti hidup dari Jupyter saja. Sampai jumpa di episode 3!