Menghadapi serangan yang bertujuan melumpuhkan, bukan mencuri: taksonomi DDoS dari volumetrik, protokol, sampai application layer, mekanisme amplifikasi DNS dan memcached, lapisan mitigasi dari scrubbing center, anycast CDN, rate limiting, RTBH dan FlowSpec, serta praktik mengamankan edge jaringan

Setelah di episode 19 koneksi kalian terenkripsi, kita hadapi ancaman yang tidak berusaha masuk sama sekali — ia hanya ingin semuanya lumpuh. Serangan DDoS (Distributed Denial of Service) adalah satu-satunya kategori insiden yang bisa menjatuhkan bank besar berjam-jam tanpa satu pun credential dicuri, dan edge jaringan kalian adalah medan pertempuran pertamanya.
Episode ini membahas taksonomi serangan, ekonomi amplifikasinya, lapisan-lapisan mitigasi dari upstream sampai server, ditutup checklist proteksi edge yang bisa langsung dipraktikkan.
Bedakan dulu dua kata kuncinya:
| Lapis | Target | Contoh | Ukuran Tipikal |
|---|---|---|---|
| Volumetrik | Bandwidth link | UDP flood, DNS/NTP/memcached amplification | Ratusan Gbps-Tbps |
| Protokol | State perangkat infra | SYN flood, ACK/PING flood | Menitri-Gbps |
| Application (L7) | Resource aplikasi/DB | HTTP GET/POST flood, slowloris | Kecil tapi mematikan |
Perhatikan asimetrisnya: volumetrik menyerang jalur (link penuh sebelum sampai ke kalian), protokol menyerang memori perangkat (SYN backlog table), L7 menyerang logika aplikasi (satu request mahal vs murah). Mitigasinya berbeda total — makanya klasifikasi adalah langkah pertama respons insiden.
Kekuatan reflection dihitung sebagai response bytes / request bytes:
DNS open resolver : hingga ~50x (ANY query)
NTP monlist (lama) : hingga ~550x
Memcached (UDP) : hingga ~50.000x <- pemerkosa rekor 2018 (1.7 Tbps)Pelajaran arsitekturnya: layanan UDP publik tanpa autentikasi adalah amunisi siap pakai. Server kalian sendiri harus dicek menjadi bukan sumber amplifikasi (topik hygiene di bawah), bukan cuma dibekali pertahanan sebagai korban.
Tidak ada satu kotak penyelamat; pertahanan DDoS adalah susunan lapisan sesuai letak serangan:
Serangan volumetrik ratusan Gbps tidak mungkin dimitigasi di router kalian — link sudah mati sebelum trafik tiba. Solusinya menyerahkan penyaringan ke infrastruktur yang lebih besar:
Kontrak pentingnya: always-on vs on-demand. On-demand lebih murah tetapi butuh deteksi + aktivasi (menit-jam) — selama itu situs mati. Hitung toleransi downtime bisnis, bukan cuma harga bulanan.
Trafik yang lolos sampai edge harus disaring efisien:
Contoh rate limiting ICMP pada Cisco-style edge:
access-list 110 permit icmp any any echo
class-map match-all ICMP-FLOOD
match access-group 110
policy-map EDGE-IN
class ICMP-FLOOD
police cir 2000000 conform-action transmit exceed-action drop
interface gi0/0
service-policy input EDGE-INUntuk vektor protokol & L7, pertahanan terakhir ada di sistem:
limit_req, HAProxy stick-table): HTTP flood dibuang sebelum menyentuh app server.Episode 10 kini bayar: indikator awal serangan terlihat di dashboard sebelum telepon user berbunyi:
Bangun alert threshold-nya SEKARANG — deteksi manual saat serangan adalah olahraga menit-menit yang kalah cepat.
Warning
Jangan rate-limit terlalu agresif "biar aman": NAT carrier-grade, proxy kantor besar, dan mobile CGNAT berbagi ribuan user di satu IP publik — memblokir satu IP bisa memblokir ribuan pelanggan sah. Gunakan ambang adaptif dan whitelist partner penting.
Rangkuman aksi konkret untuk jaringan studi kasus kita — urut prioritas:
[ ] Audit layanan UDP publik: DNS recursion off utk dunia luar, NTP monlist off,
memcached TIDAK expose publik (cegah jadi sumber amplifikasi!)
[ ] Aktifkan uRPF strict pada interface customer-facing
[ ] Rate-limit ICMP/UDP tak-resmi di edge (contoh policy di atas)
[ ] Sinkronkan dengan ISP: apakah tersedia scrubbing on-demand? SLA aktivasinya?
[ ] Siapkan runbook RTBH: komunitas blackhole + prosedur eskalasi 24/7
[ ] Depan web publik: CDN/anycast + WAF + challenge layer
[ ] Kernel host: tcp_syncookies=1, conntrack sizing cukup
[ ] Reverse proxy: limit_req/limit_conn per endpoint sensitif (login!)
[ ] Uji berkala: load test sendiri + simulasi failover mitigasi
[ ] Kontak darurat ISP/security team tersimpan offline (serangan = internet pun chaos)Dua baris pertama layak digarisbawahi: hygiene jadi sumber adalah kontribusi kalian bagi ekosistem internet — dan audit keamanan formal akan menanyakannya.
Inti yang harus dibawa pulang:
Di episode 21 kita kembali ke routing level tertinggi: BGP lanjutan — path attributes, route reflector, communities, peering IX versus transit, dan praktik multihoming dua ISP yang benar. Sampai jumpa!