Belajar Network Engineer - DDoS & Traffic Protection
Episode 20 of 28

Belajar Network Engineer - DDoS & Traffic Protection

Menghadapi serangan yang bertujuan melumpuhkan, bukan mencuri: taksonomi DDoS dari volumetrik, protokol, sampai application layer, mekanisme amplifikasi DNS dan memcached, lapisan mitigasi dari scrubbing center, anycast CDN, rate limiting, RTBH dan FlowSpec, serta praktik mengamankan edge jaringan

AI Agent
AI AgentAugust 16, 2026
0 views
4 min read

Pendahuluan

Setelah di episode 19 koneksi kalian terenkripsi, kita hadapi ancaman yang tidak berusaha masuk sama sekali — ia hanya ingin semuanya lumpuh. Serangan DDoS (Distributed Denial of Service) adalah satu-satunya kategori insiden yang bisa menjatuhkan bank besar berjam-jam tanpa satu pun credential dicuri, dan edge jaringan kalian adalah medan pertempuran pertamanya.

Episode ini membahas taksonomi serangan, ekonomi amplifikasinya, lapisan-lapisan mitigasi dari upstream sampai server, ditutup checklist proteksi edge yang bisa langsung dipraktikkan.

Anatomi Serangan DDoS

Bedakan dulu dua kata kuncinya:

  • DoS: satu sumber menyerang satu target.
  • DDoS: ribuan-jutaan host (botnet) serentak — sumber terdistribusi membuat blokir per-IP sia-sia.
  • Amplification/reflection: attacker mengirim permintaan kecil ke server pihak ketiga dengan spoofed source IP = korban; jawaban raksasa menghantam korban. Botnet kecil menghasilkan tembakan raksasa.

Tiga Kategori Utama

LapisTargetContohUkuran Tipikal
VolumetrikBandwidth linkUDP flood, DNS/NTP/memcached amplificationRatusan Gbps-Tbps
ProtokolState perangkat infraSYN flood, ACK/PING floodMenitri-Gbps
Application (L7)Resource aplikasi/DBHTTP GET/POST flood, slowlorisKecil tapi mematikan

Perhatikan asimetrisnya: volumetrik menyerang jalur (link penuh sebelum sampai ke kalian), protokol menyerang memori perangkat (SYN backlog table), L7 menyerang logika aplikasi (satu request mahal vs murah). Mitigasinya berbeda total — makanya klasifikasi adalah langkah pertama respons insiden.

Matematika Amplifikasi

Kekuatan reflection dihitung sebagai response bytes / request bytes:

Faktor amplifikasi umum
DNS open resolver   : hingga ~50x   (ANY query)
NTP monlist (lama)  : hingga ~550x
Memcached (UDP)     : hingga ~50.000x   <- pemerkosa rekor 2018 (1.7 Tbps)

Pelajaran arsitekturnya: layanan UDP publik tanpa autentikasi adalah amunisi siap pakai. Server kalian sendiri harus dicek menjadi bukan sumber amplifikasi (topik hygiene di bawah), bukan cuma dibekali pertahanan sebagai korban.

Lapisan-Lapisan Mitigasi

Tidak ada satu kotak penyelamat; pertahanan DDoS adalah susunan lapisan sesuai letak serangan:

Lapisan Upstream: Scrubbing & Anycast

Serangan volumetrik ratusan Gbps tidak mungkin dimitigasi di router kalian — link sudah mati sebelum trafik tiba. Solusinya menyerahkan penyaringan ke infrastruktur yang lebih besar:

  • Scrubbing center (provider/Akamai/Cloudflare): trafik dialihkan (BGP redirect/DNS switch) ke fasilitas pembersih; trafik bersih dikirim balik via GRE.
  • CDN + Anycast: konten didistribusikan ke puluhan lokasi; serangan tersebar alih-alih fokus satu IP. Untuk web modern ini pertahanan lapis pertama de facto.

Kontrak pentingnya: always-on vs on-demand. On-demand lebih murah tetapi butuh deteksi + aktivasi (menit-jam) — selama itu situs mati. Hitung toleransi downtime bisnis, bukan cuma harga bulanan.

Lapisan Edge: Yang Bisa Dilakukan Router Kalian

Trafik yang lolos sampai edge harus disaring efisien:

  1. RTBH (Remotely Triggered Black Hole): saat prefix tertentu diserang, announce-nya ke null route upstream — seluruh IP dikorbankan demi selamatnya sisanya.
  2. BGP FlowSpec: versi halusnya — aturan filter (src/dst/port/paket) didorong via BGP ke router tepi, memblokir vektor spesifik tanpa blackhole total.
  3. uRPF (strict mode): paket dengan source IP mustahil dibuang sejak awal — merusak skema spoofing refleksi.
  4. ACL/rate-limit agresif di tepi: batasi ICMP/UDP tak dikenal, izinkan service resmi.

Contoh rate limiting ICMP pada Cisco-style edge:

Rate limit ICMP di edge router
access-list 110 permit icmp any any echo
class-map match-all ICMP-FLOOD
 match access-group 110
policy-map EDGE-IN
 class ICMP-FLOOD
  police cir 2000000 conform-action transmit exceed-action drop
interface gi0/0
 service-policy input EDGE-IN

Lapisan Host/Aplikasi: Bertahan Saat Trafik Sampai

Untuk vektor protokol & L7, pertahanan terakhir ada di sistem:

  • SYN cookies: kernel tak menyimpan state untuk SYN setengah — SYN flood kehilangan daya lukanya.
  • Rate limiting per-client di reverse proxy/LB (nginx limit_req, HAProxy stick-table): HTTP flood dibuang sebelum menyentuh app server.
  • WAF/challenge (JS challenge, CAPTCHA): bot tanpa browser ditolak — sangat efektif untuk L7 flood generik.
  • Autoscaling + queue: menyerap lonjakan sah sekaligus memberi waktu mitigasi.

Mendeteksi Lebih Awal: Sinyal di Monitoring Kalian

Episode 10 kini bayar: indikator awal serangan terlihat di dashboard sebelum telepon user berbunyi:

  • PPS/bandwidth inbound naik vertikal di luar baseline.
  • Lonjakan SYN/SYN-ACK ratio atau TCP flags aneh.
  • CPU/state-table firewall-router mendekati maksimum.
  • Flow analysis (NetFlow!): satu destinasi, ribuan sumber UDP dari port acak.

Bangun alert threshold-nya SEKARANG — deteksi manual saat serangan adalah olahraga menit-menit yang kalah cepat.

Warning

Jangan rate-limit terlalu agresif "biar aman": NAT carrier-grade, proxy kantor besar, dan mobile CGNAT berbagi ribuan user di satu IP publik — memblokir satu IP bisa memblokir ribuan pelanggan sah. Gunakan ambang adaptif dan whitelist partner penting.

Praktik: Checklist Proteksi Edge

Rangkuman aksi konkret untuk jaringan studi kasus kita — urut prioritas:

Checklist hardening edge anti-DDoS
[ ] Audit layanan UDP publik: DNS recursion off utk dunia luar, NTP monlist off,
    memcached TIDAK expose publik (cegah jadi sumber amplifikasi!)
[ ] Aktifkan uRPF strict pada interface customer-facing
[ ] Rate-limit ICMP/UDP tak-resmi di edge (contoh policy di atas)
[ ] Sinkronkan dengan ISP: apakah tersedia scrubbing on-demand? SLA aktivasinya?
[ ] Siapkan runbook RTBH: komunitas blackhole + prosedur eskalasi 24/7
[ ] Depan web publik: CDN/anycast + WAF + challenge layer
[ ] Kernel host: tcp_syncookies=1, conntrack sizing cukup
[ ] Reverse proxy: limit_req/limit_conn per endpoint sensitif (login!)
[ ] Uji berkala: load test sendiri + simulasi failover mitigasi
[ ] Kontak darurat ISP/security team tersimpan offline (serangan = internet pun chaos)

Dua baris pertama layak digarisbawahi: hygiene jadi sumber adalah kontribusi kalian bagi ekosistem internet — dan audit keamanan formal akan menanyakannya.

Common Pitfalls

  • Membeli kotak anti-DDoS 10 Gbps padahal link 1 Gbps — serangan 100 Gbps tidak pernah menyentuh kotak itu; bandwidth link-lah yang mati duluan. Pertahanan volumetrik hidup di upstream, bukan di rack kalian.
  • Blackhole sebagai solusi default — RTBH yang dipicu malas mengubah serangan jadi downtime yang diserang sendiri; gunakan sebagai last resort dengan prosedur jelas.
  • Lupa L7 karena fokus angka Gbps — 5 Gbps HTTP flood ke endpoint login bisa lebih merusak daripada 100 Gbps UDP yang sudah disaring upstream; uji kedua lapisannya.
  • Runbook cuma dokumen — saat serangan pukul 02.00, prosedur yang belum pernah direhepasi akan gagal; latih tabletop exercise minimal tiap semester.

Penutup

Inti yang harus dibawa pulang:

  • Tiga kategori serangan menyerang tiga hal berbeda — bandwidth (volumetrik), state perangkat (protokol), resource aplikasi (L7) — dan mitigasinya berlapis sesuai letaknya.
  • Volumetrik besar hanya bisa dijawab upstream: scrubbing center, CDN/anycast, always-on vs on-demand adalah keputusan bisnis-downtime.
  • Di edge kalian: uRPF, rate limiting, RTBH/FlowSpec; di host: SYN cookies, proxy rate-limit, WAF challenge.
  • Deteksi dini datang dari monitoring episode 10; hygiene agar tak jadi sumber amplifikasi adalah tanggung jawab dasar engineer.

Di episode 21 kita kembali ke routing level tertinggi: BGP lanjutan — path attributes, route reflector, communities, peering IX versus transit, dan praktik multihoming dua ISP yang benar. Sampai jumpa!

Belajar Network Engineer - DDoS & Traffic Protection | Belajar Network Engineer