Merancang dua dunia fisik sekaligus: arsitektur campus dua-tiga tier dan batas desainnya, lalu data center modern dengan traffic east-west, topologi spine-leaf yang menjamin hop konsisten, underlay routing BGP, serta EVPN-VXLAN sebagai fabric standar — ditutup latihan sizing fabric untuk studi kasus nyata

Setelah di episode 21 kalian bisa bernegosiasi dengan internet, kita masuk ke gedung-gedung paling padat perangkat: campus (tempat manusia bekerja) dan data center (tempat aplikasi hidup). Keduanya sering digambar dalam satu diagram, padahal filosofi desainnya berbeda mendasar — dan memahami perbedaan itu adalah tanda engineer mulai berpikir arsitektural.
Episode ini membahas pola campus modern, lalu mendalam ke data center: kenapa three-tier klasik kalah, bagaimana spine-leaf menjawabnya, dan EVPN-VXLAN sebagai fabric-nya.
Materi episode 2 (access-distribution-core) adalah kerangka campus. Yang menarik di level ini adalah keputusan evolusinya, bukan teorinya:
| Pola | Cocok Untuk | Trade-off |
|---|---|---|
| Collapsed core (2-tier) | Satu gedung, hingga ribuan port | Sederhana; skala terbatas |
| Three-tier | Multi-gedung/kampus luas | Mahal, kompleks; skala besar |
| Routed access | Gedung besar, trafik timur-barat tinggi | Konvergensi cepat; butuh skill L3 lebih |
Tren penting campus 2026: routed access — routing diterjarkan sampai switch akses sehingga STP domain menyusut hingga hilang, failover via ECMP, broadcast terkendali. Ditambah wireless-first (episode 7) dan segmentasi policy-based, campus modern praktis menjadi mini data center dengan manusia di dalamnya.
Prinsip yang tetap abadi di kedua dunia: redundansi tanpa loop logis panjang, gateway redundan (episode 8), manajemen terpusat, dan dokumentasi (episode 25).
Data center era 2005-an dirancang untuk client mengakses server (north-south): three-tier dengan agregasi masuk akal. Lalu virtualisasi datang: satu server fisik memuat 30 VM yang saling bicara — mayoritas trafik menjadi server-to-server di rack yang sama (east-west). Konsekuensi desainnya brutal:
Arsitektur jawabannya diambil dari teori Clos tahun 1950-an: dua lapis switch penuh-sambungan.
Sifat-sifatnya yang revolusioner:
Aturan desainnya disiplin: leaf tidak saling tersambung langsung, spine hanya bicara ke leaf — melanggarnya merusak model deterministiknya.
Di bawah overlay (VXLAN dari episode 16), fabric butuh IP network yang tugasnya sederhana: menghubungkan semua VTEP sebaik-baiknya. Standarnya:
Underlay yang sehat itu membosankan: konfigurasikan sekali, jarang sentuh, biarkan overlay berkembang di atasnya.
Kalian sudah tahu VXLAN butuh control plane agar VTEP tahu lokasi MAC/IP (episode 16). Jawaban industrinya EVPN (RFC 7432 family): BGP address family yang mengiklankan MAC/IP antar-VTEP.
Apa yang berubah dibanding flood-and-learn:
Ekosistem vendor semuanya bertemu di sini: Arista EOS, Cisco NX-OS, Juniper Junos, NVIDIA Cumulus, hingga open source SONiC/FRR — konsep identis, sintaks beda tipis. Skill kalian portabel.
Tip
Cara belajar EVPN-VXLAN termurah: containerlab + FRR (dari episode 14 dan 21). Empat node Linux dengan VXLAN+EVPN berjalan penuh di laptop — cukup untuk memahami route type 2 (MAC), type 5 (IP prefix), dan proses IRB secara nyata.
Latihan sizing untuk brief nyata: data center 40 rack, tiap rack 24 server dual-25G, target oversubscription 3:1.
Hitungan berlapis:
Bandwidth per rack : 24 x 25 Gbps = 600 Gbps potensial
Dibatasi oversub 3:1 : uplink per rack = 600/3 = 200 Gbps
Uplink per leaf : 2 x 100G (dua spine, ECMP)
Jumlah leaf : 40 (satu ToR per rack)
Kapasitas east-west : 40 x 200 Gbps bisection-readyKeputusan lanjutan yang mengikutinya:
Presentasikan angka seperti ini ke manajemen dan kalian sudah berbicara bahasa capacity planning, bukan sekadar spesifikasi katalog.
Inti yang harus dibawa pulang:
Di episode 23 kita pastikan semuanya tetap hidup saat komponen mati: high availability — perhitungan uptime, eliminasi single point of failure, MLAG/virtual chassis, stateful failover firewall, dan desain redundansi yang benar-benar diuji. Sampai jumpa!