Mengamankan jaringan dari dalam: ancaman klasik Layer 2 seperti ARP spoofing dan CAM flooding, penguasaan ACL standar dan extended dengan aturan penempatannya, hardening switch access lewat port security, DHCP snooping, dan BPDU guard, autentikasi 802.1X, serta strategi segmentasi berbasis zona

Setelah di episode 8 layanan inti kalian berjalan terpusat, sekarang kita hadapi asumsi yang berbahaya: "karena ada firewall di edge, jaringan dalam sudah aman". Kenyataannya, mayoritas serangan dan insiden dimulai dari dalam — laptop karyawan terinfeksi, perangkat tamu iseng, atau kabel liar yang disambungkan ke port kosong.
Episode ini membangun lapisan pertahanan dasar network engineer: pertahanan Layer 2 di switch access, kontrol trafik dengan ACL, autentikasi 802.1X, dan segmentasi zona.
Switch memercayai siapa pun yang mencolok kabel. Tiga serangan klasik yang wajib kalian kenali karena mitigasinya nanti satu paket:
Penyerang membanjiri switch dengan frame MAC palsu hingga tabel MAC penuh → switch jatuh ke mode flood untuk semua trafik → penyerang menerima frame yang bukan miliknya (sniffing).
ARP tidak punya autentikasi. Penyerang menjawab "IP gateway saya!" lebih cepat dari gateway asli; korban mengirim semua trafik lewat penyerang dulu — pintu menuju man-in-the-middle. Di Linux kalian bisa melihat efeknya: dua entri IP berbeda mengklaim alamat gateway yang sama di cache ARP.
ip neigh show
arp -a # alternatif klasikDHCP discover adalah broadcast — siapa pun boleh menjawab. DHCP server palsu menawarkan gateway/DNS milik penyerang; seluruh VLAN bisa dialihkan tanpa menyentuh satu konfigurasi client pun.
Lapisan pertama: batasi siapa yang boleh bicara lewat tiap port fisik. Mode paling praktis untuk produksi adalah sticky — switch belajar MAC pertama yang muncul dan menguncinya ke running-config:
interface gi1/0/10
switchport mode access
switchport port-security
switchport port-security maximum 2
switchport port-security mac-address sticky
switchport port-security violation restrictTiga aksi pelanggaran (violation): protect diam-diam buang, restrict buang + hitung/log, shutdown matikan port (err-disable). Untuk area kantor umum, restrict memberikan visibilitas tanpa drama operasional; ruang sensitif layak shutdown.
Tip
Err-disabled ports butuh prosedur pemulihan yang jelas (shutdown/no shutdown atau errdisable recovery otomatis) — sertakan di runbook, kalau tidak tim helpdesk akan menelepon tiap kali user pindah meja.
Duo penyelamat dari DHCP palsu dan ARP poisoning:
ip dhcp snooping
ip dhcp snooping vlan 10,20,30
!
interface gi1/0/48
description UPLINK-DHCP-SERVER
ip dhcp snooping trust
!
ip arp inspection vlan 10,20
interface range gi1/0/1-24
ip arp inspection limit rate 15Urutan aktivasi penting: trust uplink sebelum mengaktifkan global snooping, kalau tidak seluruh cabang kehilangan alamat seketika.
Melanjutkan pembahasan STP episode 4:
Keduanya murah dikonfigurasi dan menutup skenario storm paling umum: orang pasang switch mini Rp150 ribu di bawah meja.
ACL adalah filter paket paling dasar di router/L3 switch. Dua jenisnya:
Contoh kebijakan nyata dari desain kita: GUEST (VLAN 30) hanya boleh keluar internet, sama sekali tidak boleh menyentuh VLAN internal:
ip access-list extended GUEST-IN
deny ip 192.168.3.0 0.0.0.63 192.168.0.0 0.0.255.255
permit tcp any any eq 80
permit tcp any any eq 443
deny ip any any log
!
interface vlan30
ip access-group GUEST-IN inAturan dievaluasi berurutan dari atas — first match wins. Baris deny ip any any log eksplisit membuat pelanggaran terlihat di syslog daripada hilang senyap.
Warning
Ada implicit deny tersembunyi di akhir semua ACL: apa pun yang tidak diizinkan secara eksplisit akan ditolak. ACL yang ditambahkan ke interface tanpa baris permit cukup akan memutus seluruh VLAN — uji selalu dengan trafik nyata setelah apply.
Port security mengunci MAC — tapi MAC bisa dipalsukan. Standar yang benar-benar memverifikasi identitas pengguna adalah 802.1X: port switch tetap tertutup sampai kredensial valid.
Tiga aktornya (sering disebut supplicant-authenticator-authentication server):
Alur EAPOL singkatnya: client mengidentifikasi diri → switch meneruskan challenge ke RADIUS → RADIUS memutus Accept/Reject → port terbuka dengan policy (VLAN dinamis, ACL download). Bonus besar: dynamic VLAN berdasarkan grup user — staf marketing dan mesin produksi dapat segmen berbeda walau mencolok port yang sama. MAB (MAC Authentication Bypass) menjadi jalur fallback untuk printer/IoT yang tak punya supplicant.
Semua teknik di atas bermuara pada satu strategi: zona kepercayaan. Prinsipnya: antar-zona harus lewat titik kontrol, di dalam zona bebas:
| Zona | Isi | Policy Inti |
|---|---|---|
| USERS | staff desktop/laptop | keluar ke SERVERS sesuai kebutuhan |
| VOICE | IP phone | hanya ke PBX/SBC |
| GUEST | Wi-Fi tamu | internet only |
| SERVERS | aplikasi internal | akses per-port dari USERS |
| MGMT | switch/router/IPMI | hanya dari jump host admin |
| DMZ | service publik | dicapai internet, tak menyentuh LAN |
Zona MGMT sering dilupakan padahal paling kritikal: kalau attacker masuk management VLAN, ia memiliki semua perangkat. Minimal: subnet terpisah, akses hanya dari jump host, SSH dengan key.
Desain lengkapnya (firewall antar zona, IDS/IPS) kita lanjutkan di episode 18; hari ini fokus kalian: switch dan ACL sudah harus bisa berdiri sendiri sebagai lapisan pertahanan.
Inti yang harus dibawa pulang:
Di episode 10 selanjutnya: monitoring dan troubleshooting — SNMP, NetFlow, syslog, tool monitoring populer, dan metodologi diagnosis layer-by-layer yang membuat insiden selesai cepat, bukan sekadar keberuntungan. Sampai jumpa!