Episode ini membahas block storage: volume sebagai virtual hard disk yang persisten dan portable, operasi membuat, melampirkan, melepas, dan memindahkan volume, snapshot untuk recovery point-in-time, serta pemilihan backend driver dari LVM hingga Ceph RBD.

Sampai episode 7, semua data instance kalian tersimpan di disk ephemeral — disk yang ikut hilang ketika instance dihapus. Di dunia cloud, itu tidak cukup. Database, aplikasi, dan data pengguna butuh penyimpanan yang bertahan hidup dari siklus hidup instance. Inilah pekerjaan Cinder, Block Storage Service OpenStack.
Episode 8 membahas Cinder dari konsep hingga praktik: apa itu volume dan mengapa persisten, cara membuat dan melampirkan volume ke instance, melepas dan memindahkan volume antar instance, snapshot dan backup untuk recovery, serta strategi memilih backend driver sesuai kebutuhan lab atau produksi.
Volume adalah penyimpanan berformat block yang disajikan ke instance seperti hard disk eksternal — di dalam instance ia muncul sebagai perangkat seperti /dev/vdb. Karakter utama volume:
Cinder Volume (backend: LVM/Ceph)
↓ attach via virtio-scsi / iSCSI / RBD
Instance → /dev/vdb → mount /dataBayangkan volume sebagai disk yang bisa dipindahkan dari satu komputer ke komputer lain — data di dalamnya ikut pindah. Inilah yang membuat volume menjadi fondasi database dan aplikasi stateful di cloud.
Aturan praktisnya sederhana: jika datanya penting dan harus bertahan melewati siklus hidup instance, simpan di volume. Jika instance bersifat sementara dan bisa dibangun ulang dari image, biarkan di disk ephemeral. Kombinasi keduanya adalah pola yang paling umum di produksi.
openstack volume create --size 50 --name my-volume
openstack volume listopenstack volume create --size 50 meminta Cinder mengalokasikan 50 GB dari backend. Status volume berubah dari creating menjadi available saat siap. Perhatikan kolom Attached to — ketika kosong, volume belum terpasang ke instance mana pun.
openstack server add volume my-server my-volume
openstack volume show my-volume -c attachmentsSetelah openstack server add volume my-server my-volume, di dalam instance kalian bisa memformat dan mount:
sudo mkfs.ext4 /dev/vdb
sudo mkdir -p /data
sudo mount /dev/vdb /dataPola di atas memakai volume sebagai penyimpanan data terpisah. Agar mount bertahan setelah reboot, tambahkan entri di /etc/fstab di dalam instance.
Volume bisa dilepas dari instance yang berjalan:
openstack server remove volume my-server my-volumeVolume yang sudah available bisa dipasang ke instance lain — persis memindahkan hard disk fisik antar server:
openstack server add volume my-server-2 my-volumeopenstack server remove volume melakukan detach yang aman. Pastikan data sudah di-unmount dari dalam instance sebelum melepas, agar tidak ada data yang korup.
Snapshot adalah salinan point-in-time dari volume. Gunanya untuk dua hal: recovery ketika data rusak, dan cloning ketika butuh duplikat volume.
openstack volume snapshot create --volume my-volume my-volume-snap
openstack volume create --snapshot my-volume-snap --size 50 my-volume-restoreopenstack volume snapshot create merekam kondisi volume pada saat itu. Untuk recovery, cukup buat volume baru dari snapshot tersebut — data kembali ke kondisi saat snapshot diambil. Di DevStack, backend LVM memakai thin provisioning sehingga snapshot cepat dan hemat ruang.
Penting membedakan keduanya:
| Metode | Lokasi | Tujuan |
|---|---|---|
| Snapshot | Backend sama, salinan cepat | Recovery cepat, cloning |
| Backup | Backend lain, bisa ekspor | Perlindungan jangka panjang |
Backup Cinder (openstack volume backup create) menyimpan data ke backend terpisah seperti Swift atau Object Storage — melindungi dari kegagalan backend utama, misalnya kerusakan physical disk LVM. Keduanya saling melengkapi, bukan pengganti.
Cinder tidak menyimpan data sendiri — dia mengorkestrasi backend penyimpanan di belakangnya. Pilihan backend menentukan performa, fitur, dan skala:
openstack volume service listOutput openstack volume service list menampilkan status backend Cinder. Kolom State harus up dan kolom Binary menunjukkan cinder-volume. Integrasi Ceph RBD akan kita bedah mendalam di episode 16.
Episode 8 memberi kalian kendali penuh atas penyimpanan persisten: memahami volume sebagai virtual hard disk yang persisten dan portable, membuat dan melampirkan volume, melepas dan memindahkannya antar instance, snapshot untuk recovery dan cloning, backup untuk perlindungan jangka panjang, serta memilih backend dari LVM hingga Ceph RBD.
Inti yang harus dibawa pulang:
openstack volume create lalu openstack server add volume adalah alur dasar.Di episode 9 selanjutnya kita akan membahas Swift (Object Storage Service) — penyimpanan data tidak terstruktur yang skalabel, perbandingannya dengan block storage dan shared filesystem, arsitektur proxy dan storage server Swift, serta operasi membuat container, mengunggah object, dan mengaksesnya via REST API dan temporary URL.