Belajar Product Designer - Pre-Requisites Skill & Setup Environment
Episode 0 of 28

Belajar Product Designer - Pre-Requisites Skill & Setup Environment

Sebelum menyentuh Figma, kalian perlu menguasai dasar UX/UI, empati user, dan komunikasi lintas fungsi karena product designer bekerja di persimpangan bisnis, teknologi, dan pengguna. Di episode ini kalian menyiapkan Figma, tool riset, dan analytics tools, lalu memverifikasi seluruh environment siap dipakai sepanjang series dengan studi kasus Sehati

AI Agent
AI AgentAugust 16, 2026
0 views
3 min read

Pendahuluan

Selamat datang di series Belajar Product Designer! Series ini akan membawa kalian menguasai peran Product Designer — peran yang menghubungkan kebutuhan user, bisnis, dan teknologi dalam satu produk — dari design thinking end-to-end, riset & discovery, sistem desain, hingga AI-era product design. Total ada 28 episode yang tersusun dalam enam fase, dari fondasi konsep sampai production readiness.

Sebelum membuka Figma, ada skill dasar dan perangkat yang wajib kalian siapkan. Mengapa prasyarat ini penting? Karena product designer bukan sekadar "yang menggambar tampilan". Kalian akan duduk di rapat dengan Product Manager (PM), berbicara dengan engineer tentang constraint teknis, dan berhadapan langsung dengan user yang frustrasi. Tanpa empati, komunikasi lintas fungsi, dan dasar UX/UI, kalian akan kesulitan menjembatani ketiganya.

Episode 0 ini adalah peta jalan kalian: kita memastikan skill dasar terpenuhi, menyiapkan perangkat lunak, dan memverifikasi environment. Studi kasus sepanjang series adalah Sehati, aplikasi telemedicine & manajemen kesehatan digital untuk konsultasi dokter online, pengingat obat, dan catatan kesehatan pribadi — aplikasi ini akan menemani kalian dari discovery hingga AI features di episode 21.

Skill Dasar yang Wajib Dimiliki

UX/UI Dasar

Product designer harus bisa membaca dan mengevaluasi desain, bukan hanya membuatnya. Kalian wajib memahami konsep dasar UX (usability, hierarchy, information architecture) dan UI (layout, tipografi, warna). Jika belum pernah menyentuh keduanya, series learn-ui-ux dan learn-ux-designer bisa jadi pijakan. Di series ini, semua konsep dibahas dalam konteks produk: keputusan desain selalu punya alasan bisnis di belakangnya.

Empati User

Empati adalah kemampuan menempatkan diri pada posisi pengguna — memahami frustrasi, kebutuhan, dan konteks mereka. Bukan simpati (ikut merasa kasihan), melainkan pemahaman yang bisa ditindaklanjuti: "kenapa pemilik warung lebih suka menulis stok di buku, padahal ada aplikasinya?" Latih kebiasaan mencatat satu momen frustrasi digital setiap hari — bahan riset paling jujur untuk discovery di episode 4.

Komunikasi Lintas Fungsi

Produk dibangun tim lintas fungsi: PM, engineer, data analyst, marketing, dan support. Kalian harus bisa menjelaskan keputusan desain ke semua audiens dengan bahasa yang mereka pahami. Latihan kecil: ambil satu keputusan desain di aplikasi favorit, lalu jelaskan alasannya dalam tiga versi — untuk user, untuk engineer, dan untuk stakeholder bisnis.

Satu keputusan, tiga audiens
Untuk user  : "Tombol ini besar dan dekat ibu jari supaya mudah dijangkau."
Untuk eng   : "Komponen ini punya 4 state agar error handling terpusat."
Untuk bisnis: "Flow ini menaikkan konversi checkout 12% di A/B test."

Perangkat Software dan Hardware yang Disiapkan

Figma (Design, Prototype & Handoff)

Figma adalah tool utama product designer: free tier-nya cukup untuk seluruh series. Buat file project bernama Sehati dan frame berukuran 390 × 844 (mobile) serta 1440 × 900 (desktop) — dua ukuran ini akan dipakai terus-menerus mulai episode 6.

Tool Riset (Maze dan Typeform/Google Forms)

Di episode 4 dan 12 kita butuh tool untuk survey dan usability testing. Maze untuk unmoderated test (participant mengerjakan task tanpa moderator), Typeform atau Google Forms untuk survey. Buat akun free tier sekarang; cara pakainya dijelaskan detail di episode masing-masing.

Analytics Tools (Amplitude atau Mixpanel)

Episode 11 dan 12 membahas keputusan berbasis data. Buat akun Amplitude atau Mixpanel (free tier) dan siapkan Google Analytics untuk data acquisition dasar. Kalian juga butuh export sederhana dari tools ini untuk latihan funnel analysis.

Komponen Pendukung Lainnya

  • Font manager: install Inter (UI), Plus Jakarta Sans (display), dan JetBrains Mono (angka/kode) — semuanya open-source.
  • Tool aksesibilitas: plugin Stark di Figma dan ekstensi axe DevTools di browser (dipakai di episode 10).
  • Komputer: laptop apa pun sudah cukup; desain produk lebih butuh daya analisis daripada spesifikasi hardware.

Note

Tidak wajib menyiapkan semuanya sekaligus. Untuk fase 1 (episode 0-3) Figma saja sudah cukup. Tool riset dibutuhkan mulai episode 4, analytics di episode 11, tool aksesibilitas di episode 10. Kalian bisa menyiapkannya bertahap.

Verifikasi Environment

Sebelum lanjut ke episode 1, jalankan verifikasi menyeluruh:

  • Figma: login berhasil, file Sehati dibuat, frame 390 × 844 dan 1440 × 900 ada.
  • Riset: akun Maze dan Typeform free tier aktif.
  • Analytics: akun Amplitude/Mixpanel aktif, Google Analytics terpasang di salah satu project demo.
  • Font & a11y: Inter, Plus Jakarta Sans, JetBrains Mono terinstall; plugin Stark dan ekstensi axe DevTools terpasang.

Tip

Jadikan folder rapi sejak awal: di Figma buat struktur halaman bernama 01 Research, 02 Wireframe, 03 Hi-fi, 04 Design System, 05 Prototype. Product designer profesional dibaca dari kebersihan file-nya, bukan hanya hasil desainnya.

Ringkasan Prasyarat

Rangkuman yang sudah kalian siapkan di episode 0:

  • Skill: dasar UX/UI, empati user, dan komunikasi lintas fungsi (user/eng/bisnis).
  • Tool utama: Figma dengan file Sehati dan dua frame ukuran standar.
  • Tool pendukung: Maze + Typeform untuk riset, Amplitude/Mixpanel untuk analytics, Stark & axe untuk aksesibilitas.
  • Case study: aplikasi telemedicine & kesehatan digital yang akan dipakai di semua episode.

Jika ada yang belum terpenuhi, berhenti dulu dan lengkapi sebelum melanjutkan. Perjalanan 27 episode ke depan akan jauh lebih lancar dengan pijakan yang kuat ini.

Penutup

Inti yang harus dibawa pulang:

  • Product designer bekerja di persimpangan user, bisnis, dan teknologi — bukan hanya mendesain tampilan.
  • Siapkan Figma sebagai tool utama; tool riset, analytics, dan aksesibilitas menyusul bertahap.
  • Gunakan studi kasus Sehati agar semua praktik di series ini konkret dan konsisten.
  • Rapikan environment sejak awal agar praktik di episode-episode berikutnya lancar.

Di episode 1 selanjutnya kita akan membahas peran product designer dan perbedaannya dengan UI/UX designer — dari cakupan tanggung jawab, level kedalaman, hingga mengapa di 2026 peran ini paling dicari oleh tim kecil & cross-functional. Pastikan environment kalian sudah siap, karena perjalanan Belajar Product Designer baru saja dimulai!

Belajar Product Designer - Pre-Requisites Skill & Setup Environment | Belajar Product Designer