Sebelum menyentuh Figma, kalian perlu menguasai dasar UX/UI, empati user, dan komunikasi lintas fungsi karena product designer bekerja di persimpangan bisnis, teknologi, dan pengguna. Di episode ini kalian menyiapkan Figma, tool riset, dan analytics tools, lalu memverifikasi seluruh environment siap dipakai sepanjang series dengan studi kasus Sehati

Selamat datang di series Belajar Product Designer! Series ini akan membawa kalian menguasai peran Product Designer — peran yang menghubungkan kebutuhan user, bisnis, dan teknologi dalam satu produk — dari design thinking end-to-end, riset & discovery, sistem desain, hingga AI-era product design. Total ada 28 episode yang tersusun dalam enam fase, dari fondasi konsep sampai production readiness.
Sebelum membuka Figma, ada skill dasar dan perangkat yang wajib kalian siapkan. Mengapa prasyarat ini penting? Karena product designer bukan sekadar "yang menggambar tampilan". Kalian akan duduk di rapat dengan Product Manager (PM), berbicara dengan engineer tentang constraint teknis, dan berhadapan langsung dengan user yang frustrasi. Tanpa empati, komunikasi lintas fungsi, dan dasar UX/UI, kalian akan kesulitan menjembatani ketiganya.
Episode 0 ini adalah peta jalan kalian: kita memastikan skill dasar terpenuhi, menyiapkan perangkat lunak, dan memverifikasi environment. Studi kasus sepanjang series adalah Sehati, aplikasi telemedicine & manajemen kesehatan digital untuk konsultasi dokter online, pengingat obat, dan catatan kesehatan pribadi — aplikasi ini akan menemani kalian dari discovery hingga AI features di episode 21.
Product designer harus bisa membaca dan mengevaluasi desain, bukan hanya membuatnya. Kalian wajib memahami konsep dasar UX (usability, hierarchy, information
architecture) dan UI (layout, tipografi, warna). Jika belum pernah menyentuh keduanya, series learn-ui-ux dan learn-ux-designer bisa jadi pijakan. Di series ini,
semua konsep dibahas dalam konteks produk: keputusan desain selalu punya alasan bisnis di belakangnya.
Empati adalah kemampuan menempatkan diri pada posisi pengguna — memahami frustrasi, kebutuhan, dan konteks mereka. Bukan simpati (ikut merasa kasihan), melainkan pemahaman yang bisa ditindaklanjuti: "kenapa pemilik warung lebih suka menulis stok di buku, padahal ada aplikasinya?" Latih kebiasaan mencatat satu momen frustrasi digital setiap hari — bahan riset paling jujur untuk discovery di episode 4.
Produk dibangun tim lintas fungsi: PM, engineer, data analyst, marketing, dan support. Kalian harus bisa menjelaskan keputusan desain ke semua audiens dengan bahasa yang mereka pahami. Latihan kecil: ambil satu keputusan desain di aplikasi favorit, lalu jelaskan alasannya dalam tiga versi — untuk user, untuk engineer, dan untuk stakeholder bisnis.
Untuk user : "Tombol ini besar dan dekat ibu jari supaya mudah dijangkau."
Untuk eng : "Komponen ini punya 4 state agar error handling terpusat."
Untuk bisnis: "Flow ini menaikkan konversi checkout 12% di A/B test."Figma adalah tool utama product designer: free tier-nya cukup untuk seluruh series. Buat file project bernama Sehati dan frame berukuran 390 × 844 (mobile) serta
1440 × 900 (desktop) — dua ukuran ini akan dipakai terus-menerus mulai episode 6.
Di episode 4 dan 12 kita butuh tool untuk survey dan usability testing. Maze untuk unmoderated test (participant mengerjakan task tanpa moderator), Typeform atau Google Forms untuk survey. Buat akun free tier sekarang; cara pakainya dijelaskan detail di episode masing-masing.
Episode 11 dan 12 membahas keputusan berbasis data. Buat akun Amplitude atau Mixpanel (free tier) dan siapkan Google Analytics untuk data acquisition dasar. Kalian juga butuh export sederhana dari tools ini untuk latihan funnel analysis.
Note
Tidak wajib menyiapkan semuanya sekaligus. Untuk fase 1 (episode 0-3) Figma saja sudah cukup. Tool riset dibutuhkan mulai episode 4, analytics di episode 11, tool aksesibilitas di episode 10. Kalian bisa menyiapkannya bertahap.
Sebelum lanjut ke episode 1, jalankan verifikasi menyeluruh:
Sehati dibuat, frame 390 × 844 dan 1440 × 900 ada.Tip
Jadikan folder rapi sejak awal: di Figma buat struktur halaman bernama 01 Research, 02 Wireframe, 03 Hi-fi, 04 Design System, 05 Prototype. Product designer profesional dibaca dari kebersihan file-nya, bukan hanya hasil desainnya.
Rangkuman yang sudah kalian siapkan di episode 0:
Sehati dan dua frame ukuran standar.Jika ada yang belum terpenuhi, berhenti dulu dan lengkapi sebelum melanjutkan. Perjalanan 27 episode ke depan akan jauh lebih lancar dengan pijakan yang kuat ini.
Inti yang harus dibawa pulang:
Di episode 1 selanjutnya kita akan membahas peran product designer dan perbedaannya dengan UI/UX designer — dari cakupan tanggung jawab, level kedalaman, hingga mengapa di 2026 peran ini paling dicari oleh tim kecil & cross-functional. Pastikan environment kalian sudah siap, karena perjalanan Belajar Product Designer baru saja dimulai!