Mendokumentasikan keputusan desain agar terekam dan bisa dirujuk: menyusun PRD design, spesifikasi desain, dan design notes. Di episode ini kalian menulis dokumentasi untuk fitur cek gejala Sehati, belajar kapan cukup dan kapan terlalu banyak, dan memahami mengapa dokumentasi adalah aset tim, bukan sekadar kewajiban admin

Setelah di episode 15 kita mengasah critique dan presentasi desain, pada episode ini kita memastikan semua yang sudah dipelajari tidak hilang: documentation. Keputusan desain yang tidak didokumentasikan akan ditanyakan ulang berkali-kali, salah diinterpretasikan, atau diubah tanpa jejak saat orangnya pindah.
Dokumentasi bukan birokrasi — ia adalah memori organisasi. Di tim Sehati yang sedang berkembang, dokumentasi menjawab tiga pertanyaan: mengapa keputusan ini diambil (design notes), apa yang harus dibangun (spesifikasi), dan siapa yang menilai keberhasilannya (metrik & eksperimen). Di episode ini kita susun ketiganya secara ringkas dan praktis.
Design notes adalah catatan keputusan desain beserta alasannya. Format paling ringkas adalah Decision Log — tabel kronologis yang menyimpan keputusan penting:
| Tanggal | Keputusan | Alasan | Alternatif ditolak |
|---|---|---|---|
| 2026-08-10 | Pertanyaan alergi dibuat opsional | Completion naik 8pt di eksperimen | Tetap wajib (triase kurang lengkap) |
| 2026-08-12 | Warna triase hijau/kuning/merah + label teks | A11y: warna bukan satu-satunya sinyal | Warna tanpa label (gagal audit) |
| 2026-08-14 | Booking langsung dari hasil triase | Flow 9 → 6 langkah (episode 6) | Wajib masuk ke halaman dokter dulu |
Cukup satu baris per keputusan. Nilainya muncul saat ada yang bertanya "kenapa sih diubah?" — jawabannya ada, terhubung ke data, dan bisa dipertanggungjawabkan. Biasakan menulis dalam format masalah-keputusan-alasan (ADR / Architecture Decision Record versi desain).
PRD design (design brief) adalah dokumen singkat sebelum desain dimulai: masalah, user, goals, constraint, dan scope. Ia menjawab "apa yang sedang kita coba selesaikan?" sehingga desain tidak melenceng. Struktur satu halaman:
# Cek Gejala — Design Brief
Problem : pasien menunda konsultasi karena tidak yakin
: perlu ke dokter atau tidak
Target user : pasien baru 18-40, pertama kali pakai Sehati
Goals : completion ≥ 60%, konversi booking ≥ 15%
Constraint : tidak boleh membuat user panik (tone terjaga)
Scope : in = triase 5 pertanyaan, hasil + rekomendasi
: out = AI diagnosis, bahasa selain Indonesia
Keputusan : dibahas di critique, lihat Decision LogPRD design berbeda dari PRD PM: PRD PM berisi requirement bisnis, PRD design berisi arah dan batasan desain. Keduanya saling melengkapi di handoff episode 13.
Spesifikasi adalah terjemahan desain menjadi instruksi yang bisa dieksekusi engineer. Tiga komponen inti yang sudah kita kumpulkan di episode-episode sebelumnya:
Contoh spesifikasi untuk layar hasil triase:
Frame : 04 HasilTriase (mobile 390px)
Komponen: badge.triage {hijau|kuning|merah} + label teks
Aksi : CTA "Booking Sekarang" (button.primary, lg, 48px)
: CTA sekunder "Tips perawatan" (button.secondary)
Behavior: hasil kuning → rekomendasi dokter tampil
: hasil hijau → tips tampil, CTA booking disembunyikan
A11y : role=status, aria-live=polite (episode 10)
Events : cek_gejala_completed {result, duration_s}Perhatikan: spesifikasi ini merangkum keputusan dari episode sebelumnya menjadi satu dokumen yang siap dipakai engineer. Inilah output handoff yang di episode 13 dijanjikan.
Tip
Ukuran dokumentasi yang sehat: cukup untuk engineer membangun tanpa bertanya, tanpa menulis esai. Jika satu halaman sudah cukup, jangan buat sepuluh. Dokumentasi yang terlalu panjang tidak dibaca — dan yang tidak dibaca lebih buruk daripada tidak ada, karena memberi ilusi kepastian.
docs/ project Sehati (Notion/Google Docs/GitHub).Inti yang harus dibawa pulang:
Di episode 17 selanjutnya kita akan membahas design ops & process — mengelola workflow, tooling, dan mengukur dampak desain di tingkat tim agar praktik-praktik yang sudah kalian pelajari berjalan konsisten dan efisien. Sampai jumpa di episode 17!