Merancang untuk platform yang sedang muncul: AR/VR, voice interface, dan embedded AI products. Di episode ini kalian mengeksplorasi tiga medium berbeda untuk Sehati — pengingat obat voice, panduan olahraga AR, dan rekap kesehatan di wearable — sambil belajar menerjemahkan prinsip desain yang sudah dipelajari ke konteks baru

Setelah di episode 23 kita men-scaling design system, pada episode ini kita melebarkan sayap: platform yang sedang muncul. Sehati hari ini adalah aplikasi mobile, tetapi pengalaman kesehatan masa depan menyebar ke banyak medium: speaker pintar, smartwatch, kacamata AR, hingga mobil.
Tantangan utama desain lintas platform bukan "belajar tool baru" — melainkan menerjemahkan prinsip yang sudah kalian kuasai (task flow, states, feedback, trust) ke medium dengan batasan berbeda. Layar punya affordance visual; voice tidak. AR punya ruang 3D; touch tidak. Kalau prinsipnya kuat, medium baru hanyalah papan baru yang sama.
Voice adalah medium yang menantang: tidak ada visual, tidak ada label, tidak ada undo yang terlihat. Prinsip yang tetap berlaku — hanya diterjemahkan ulang.
| Prinsip (episode 9) | Terjemahan ke voice |
|---|---|
| Visibility of status | Confirm audio: "Baik, saya catat: obat metformin jam 8 pagi" |
| Recognition over recall | Tawarkan pilihan: "Mau set pengingat pagi, siang, atau malam?" |
| Error recovery | Ulangi & beri contoh: "Maaf, saya tidak mendengar. Coba bilang 'pagi' atau 'malam'" |
| User control | "Batal" / "Hentikan" kapan pun |
Contoh flow pengingat obat via voice untuk Sehati:
User : "Sehati, ingatkan saya minum metformin jam 8 pagi."
Asisten: "Baik, saya set pengingat metformin jam 8 pagi.
Mau saya ulangi setiap hari?"
User : "Ya."
Asisten: "Pengingat harian jam 8 pagi aktif. Ada lagi?"
User : "Itu saja."
Asisten: "Siap. Selamat pagi dan tetap sehat."Perhatikan pengulangan (confirmation) di tiap langkah penting — di voice, salah dengar lebih mahal daripada di layar. Dan alur tetap punya langkah minimum, decision points, dan escape (episode 6).
AR (augmented reality) menambahkan informasi ke dunia nyata; VR (virtual reality) membangun dunia baru. Untuk Sehati, kasus yang paling masuk akal adalah AR — bukan karena canggih, tetapi karena memecahkan masalah nyata.
Contoh: panduan latihan fisik AR. Pasien rehabilitasi mengangkat kamera ke area latihan, dan avatar menampilkan postur yang benar + koreksi real-time:
Prinsip kunci AR: jangan menutupi dunia nyata dengan informasi — informasi hanya muncul saat dibutuhkan (progressive disclosure, episode 9). Desainer AR wajib memikirkan keselamatan: user tidak boleh distraksi hingga menabrak sesuatu.
Note
Aturan penting mengeksplorasi platform baru: mulai dari masalah, bukan dari medium. Jangan tanya "bagaimana desain untuk AR?" — tanyakan "masalah mana yang paling baik diselesaikan di medium ini?" Pengingat obat lebih baik di voice (tangan sibuk saat makan), postur latihan lebih baik di AR (butuh melihat dunia nyata). Platform baru adalah alat, bukan alasan.
Embedded AI products adalah perangkat dengan AI tertanam di dalamnya — wearable, smart speaker, sensor rumah. Desainnya menggabungkan dua hal yang sudah dipelajari: interface AI (episode 21) dan trust (episode 20).
Contoh untuk Sehati: wearable pemantau detak jantung yang memberi peringatan dini.
Perangkat: getaran halus (tidak panik)
Tampilan : ❤ 118 BPM — aktivitas tinggi sejak 10 menit
"Istirahat sebentar, lalu cek ulang."
Aksi : [Oke] [Tanya asisten]Tiga prinsip yang harus dipegang:
Inti yang harus dibawa pulang:
Di episode 25 selanjutnya kita akan membahas leadership & influence — bagaimana product designer memengaruhi keputusan lintas tim dan organisasi: storytelling, presentasi strategis, dan membangun pengaruh tanpa otoritas formal. Sampai jumpa di episode 25!