Episode ini menelusuri asal-usul Proxmox Backup Server: proyek yang dimulai Proxmox pada 2018 dan rilis stabil 1.0 pada 2020 sebagai backbone backup ekosistem Proxmox VE. Kalian juga memahami mengapa PBS dibutuhkan — deduplication per-chunk, enkripsi client-side, restore instan, integrasi native, sync off-site, hingga peran sebagai target Veeam/Bacula.

Setelah environment siap di episode 0, sekarang kita bicara mengapa PBS ada dan mengapa kalian membutuhkannya. Memahami latar belakang tidak hanya menambah wawasan — ia menjelaskan mengapa PBS dirancang seperti sekarang: dedup per-chunk, enkripsi di sisi client, dan integrasi mulus dengan Proxmox VE.
Bayangkan PBS seperti gudang arsip dengan sistem pengindeksan cerdas: ia tidak menyimpan ulang setiap dokumen yang sama, cukup menyimpan sekali dan mencatat siapa saja yang memakai salinannya. Ia juga mengunci setiap amplop dengan kunci yang hanya dimiliki pengirim, sehingga petugas gudang pun tidak bisa membacanya. Itulah inti filosofi PBS: hemat, aman, dan cepat.
PBS dikembangkan oleh Proxmox — perusahaan yang sama di balik Proxmox VE dan Proxmox Mail Gateway. Proyek dimulai pada 2018 sebagai jawaban atas kebutuhan backup yang tidak terpenuhi oleh solusi existing, dan rilis stabil pertama 1.0 meluncur pada 2020. PBS lahir sebagai backbone backup ekosistem Proxmox VE: ia memahami struktur data VM dan container secara mendalam, bukan sekadar menyalin file mentah.
Filosofinya sederhana namun tegas:
Perjalanan PBS cukup aktif: PBS 3.x (2023-2025) memperkenalkan namespace, 3.4 (10 April 2025) menutup seri 3, 4 (6 Agustus 2025) membawa basis Debian baru, dan 4.2 (29 April 2026) menjadi rilis saat ini dengan dukungan S3 object storage. Model rilis mengikuti Debian, dan dukungan security PBS 3 berakhir 31 Agustus 2026 — bahan diskusi di episode 17.
Masalah terbesar backup VM adalah pemborosan storage: ratusan VM menjalankan sistem operasi yang sama, menyimpan data yang sama berulang-ulang di setiap snapshot. PBS memecah data menjadi chunk dan melakukan dedup content-defined, sehingga satu blok data hanya disimpan sekali meski muncul di puluhan backup. Compression (default zstd) menekan ukuran lebih jauh lagi. Dampaknya: kebutuhan disk bisa turun drastis, dan bandwidth backup mengecil.
Data backup adalah target empuk pencuri. PBS memungkinkan enkripsi di sisi client: data dienkripsi sebelum dikirim ke server, jadi server — bahkan admin PBS sekalipun — hanya menyimpan ciphertext. Tanpa key yang tersimpan aman di client, tidak ada yang bisa membaca snapshot. Detail praktiknya di episode 7.
Restore PBS sangat cepat karena memakai mekanisme sparse: blok yang berisi nol tidak dialokasikan, dan restore bisa dimulai sementara data masih mengalir dari jaringan. Kalian bisa boot VM dari backup seolah-olah dari disk asli, tanpa menunggu restore penuh selesai — krusial saat incident dan RTO ketat.
Ini pembeda terbesar PBS. Di datacenter Proxmox VE, PBS didaftarkan sebagai storage backup satu-klik: scheduler PVE memanggil PBS secara native, restore bisa dilakukan langsung dari antarmuka, dan file restore tersedia per VM. Tidak ada skrip glue atau ekspor-impor manual.
PBS menyediakan sync job yang menarik snapshot dari satu server PBS ke server PBS lain di lokasi berbeda. Kombinasi dedup + remote sync membuat strategi 3-2-1 (3 salinan, 2 media berbeda, 1 off-site) terjangkau — kita praktikkan di episode 10.
PBS tidak egois: datastore-nya bisa diekspos sebagai share NFS/SMB, sehingga tool backup enterprise lain seperti Veeam atau Bacula bisa memakai PBS sebagai target repository. Ini memperluas peran PBS dari "backup Proxmox" menjadi "storage engine backup". Detail di episode 19.
Inti yang harus dibawa pulang:
Di episode 2 selanjutnya kita akan membedah konsep dasar & arsitektur utama PBS — apa itu datastore, bagaimana chunking content-defined bekerja, apa itu backup group dan snapshot, serta peran komponen seperti proxmox-backup, web UI port 8007, proxmox-backup-client, dan API. Fondasi ini akan membuat semua episode praktik berikutnya terasa ringan!