Episode ini menelusuri sejarah Python dari kelahiran oleh Guido van Rossum, evolusi rilis 2.x menuju 3.x, hingga filosofi batteries included. Kalian juga belajar membandingkan Python dengan bahasa lain dan memahami trade-off interpretasi versus kompilasi.

Setiap bahasa pemrograman lahir dari masalah nyata. Python tidak terkecuali: ia lahir dari frustrasi penulisnya terhadap bahasa yang terlalu kompleks. Memahami sejarah Python membantu kalian mengerti kenapa bahasa ini dirancang seperti sekarang, dan kapan ia adalah pilihan terbaik.
Episode 1 membawa kalian menelusuri perjalanan Python: dari kelahiran oleh Guido van Rossum, pergeseran besar 2.x menuju 3.x, filosofi batteries included, hingga perbandingan dengan bahasa lain. Ini adalah fondasi kontekstual sebelum kita menyelami teknisnya di episode 2.
Python diciptakan oleh Guido van Rossum, seorang programmer Belanda, yang mulai mengembangkan bahasa ini pada akhir 1980-an sebagai penerus bahasa ABC. Rilis publik pertamanya, Python 0.9.0, muncul pada 1991. Nama "Python" bukan diambil dari ular, melainkan dari grup komedi Inggris Monty Python yang ditonton Guido saat itu.
Tujuan utama Guido adalah menciptakan bahasa yang mudah dibaca dan ekspresif. Ia percaya kode dibaca lebih sering daripada ditulis, sehingga keterbacaan menjadi prioritas utama. Prinsip ini tertuang dalam Zen of Python, yang bisa kalian lihat langsung dengan menjalankan perintah berikut:
python3 -c "import this"Output dari python3 -c "import this" adalah 19 prinsip yang memandu desain Python. Beberapa yang paling terkenal: Beautiful is better than ugly, Explicit is better than implicit, dan Readability counts.
Python 2 dirilis pada tahun 2000 dan tumbuh menjadi standar industri selama dua dekade. Namun pada 2008, tim pengembang memutuskan Python 3 yang tidak kompatibel ke belakang untuk memperbaiki kelemahan desain, seperti penanganan unicode dan pembagian integer. Contoh perbedaan mencolok:
# Python 2.x
print "halo"
# Python 3.x
print("halo")Di Python 2, print adalah statement; di Python 3, print adalah fungsi. Perubahan kecil semacam ini membuat migrasi besar-besaran. print("halo") adalah bentuk yang benar di Python 3.
Python 2.7 resmi dihentikan pada 1 Januari 2020, dan tidak lagi menerima perbaikan keamanan. Seluruh ekosistem modern — dari FastAPI sampai NumPy — hanya mendukung Python 3. Karena itu, series ini fokus penuh pada Python 3.12.
Python membawa filosofi batteries included: distribusi standarnya sudah menyertakan library untuk HTTP, JSON, SQLite, threading, logging, dan pengujian. Kalian bisa membangun aplikasi nyata tanpa menginstall apa pun. Contoh: modul sqlite3 memungkinkan kalian memakai database SQLite langsung:
import sqlite3
conn = sqlite3.connect(":memory:")
conn.execute("CREATE TABLE buku (judul TEXT)")
conn.execute("INSERT INTO buku VALUES (?)", ("Python Dasar",))
print(conn.execute("SELECT * FROM buku").fetchall())Perintah import sqlite3 memuat modul bawaan. Dengan tiga baris, kalian sudah memakai database relasional sungguhan — inilah arti batteries included.
Dengan stdlib yang kaya, kalian bisa fokus pada logika bisnis tanpa bergantung pada banyak dependency eksternal. Ini juga memperkecil serangan supply-chain karena semakin sedikit package pihak ketiga yang perlu diaudit, seperti yang akan kita bahas di episode 14.
Python sangat kuat untuk beberapa kategori:
Setiap bahasa punya keunggulan domainnya sendiri. Python tidak selalu menjadi pilihan terbaik:
Pilihan bahasa harus mengikuti kebutuhan project, bukan tren. Untuk kecepatan pengembangan dan ekosistem data, Python sangat sulit ditandingi.
Python adalah bahasa interpreted: kode dieksekusi langsung oleh interpreter tanpa proses kompilasi terpisah ke file binary. Ini membuat iterasi cepat — tulis dan langsung jalankan. Sebaliknya, bahasa seperti C dikompilasi ke kode mesin sebelum dieksekusi.
Pendekatan interpreted membuat Python lebih lambat secara eksekusi daripada bahasa kompilasi, tapi jauh lebih produktif untuk dikembangkan. Tiga konsekuensi penting yang harus kalian ingat:
Inti yang harus dibawa pulang:
Di episode 2 selanjutnya kita akan membahas konsep dasar dan arsitektur utama — bagaimana Python berjalan di balik layar dengan CPython, bytecode, interpreter loop, dan GIL, plus implementasi alternatif seperti PyPy dan Jython. Persiapkan environment kalian, karena kita mulai menyelami mesin di balik bahasa ini!