Sebelum menyentuh Quarkus, kalian perlu menguasai Java dan OOP, konsep dependency injection, dasar HTTP dan REST, serta kebiasaan menggunakan CLI, Git, dan Docker. Di episode ini kalian juga menyiapkan JDK, IDE, Quarkus CLI, Maven, dan Docker, lalu memverifikasi seluruh instalasi.

Selamat datang di series Belajar Quarkus! Series ini akan membawa kalian menguasai Quarkus — framework Java cloud-native yang terkenal dengan startup super cepat, konsumsi memori kecil, dan dukungan native image GraalVM — dari fondasi sampai production readiness. Total ada 24 episode yang tersusun dalam enam fase.
Tapi sebelum menulis kode Quarkus pertama, ada beberapa skill dasar dan perangkat lunak yang wajib kalian miliki. Mengapa prasyarat ini penting? Karena Quarkus dibangun di atas ekosistem Jakarta EE dan CDI. Kalau kalian belum paham konsep dependency injection atau cara kerja REST, seluruh seri ini akan terasa membingungkan.
Episode 0 ini adalah peta jalan kalian: kita akan memastikan skill dasar, menyiapkan environment development, menginstall tool utama, dan melakukan verifikasi pertama. Setelah episode ini selesai, seluruh series bisa diikuti dengan nyaman.
Quarkus adalah framework untuk bahasa Java, jadi kalian wajib nyaman dengan sintaks Java modern. Pastikan pemahaman tentang class, interface, inheritance, dan polymorphism sudah kuat. Kalian juga perlu mengenal lambdas dan Stream API karena banyak dipakai di kode Quarkus.
import java.util.List;
public class Main {
public static void main(String[] args) {
List<String> nama = List.of("Andi", "Budi", "Cici");
nama.stream().map(String::toUpperCase).forEach(System.out::println);
}
}Jika baris-baris di atas masih terasa asing, luangkan waktu dulu untuk berlatih Java dasar sebelum lanjut ke episode berikutnya.
Quarkus menggunakan CDI (Contexts and Dependency Injection) sebagai jantung dependency injection-nya. Kalian harus paham konsep dasar: bean, container, dan injection. Jangan khawatir jika belum mendalam — episode 4 akan membahas CDI secara menyeluruh. Untuk sekarang, cukup pahami bahwa DI memungkinkan class tidak membuat dependency-nya sendiri, melainkan menerimanya dari container.
Sebagian besar episode akan membangun REST API. Kalian harus paham metode HTTP seperti GET, POST, PUT, dan DELETE, konsep resource, status code seperti 200 dan 404, serta perbedaan request dan response. Latihan cepat dengan curl akan sangat membantu:
curl -X GET https://api.github.com/users/octocat
curl -X POST https://httpbin.org/post -d 'halo=world'Quarkus 3.x mendukung Java 21 sebagai LTS yang direkomendasikan. Install JDK dengan cara yang mudah dikelola. Di Linux atau macOS, SDKMAN! adalah pilihan paling nyaman karena memungkinkan beberapa versi Java hidup berdampingan:
curl -s "https://get.sdkman.io" | bash
source "$HOME/.sdkman/bin/sdkman-init.sh"
sdk install java 21.0.5-temPilihan terbaik adalah IntelliJ IDEA dengan plugin Quarkus, atau VS Code dengan ekstensi Quarkus Tools. Keduanya memberikan autocomplete, debugging, dan integrasi dev mode. Eclipse juga didukung lewat plugin Quarkus Tools for Eclipse. Gunakan IDE yang paling nyaman — yang penting kalian bisa menjalankan dan men-debug aplikasi Java.
Kalian perlu Maven (paling umum di ekosistem Quarkus) atau Gradle, ditambah Quarkus CLI untuk kenyamanan. Quarkus CLI bisa diinstall via SDKMAN:
sdk install quarkus
quarkus --versionJika menggunakan Maven, pastikan minimal versi 3.8.1. Cek dengan mvn -v. Setiap project Quarkus juga menyertakan Maven wrapper (mvnw), jadi instalasi global sebenarnya tidak wajib.
Docker diperlukan untuk Dev Services — fitur Quarkus yang otomatis menjalankan database dan middleware dalam container saat mode dev. Untuk database, Quarkus mendukung PostgreSQL, MySQL, dan MariaDB secara native, plus H2 sebagai database in-memory untuk development cepat. Pastikan Docker berjalan:
docker --version
docker infoQuarkus berjalan baik di Windows, macOS, atau Linux. Untuk kenyamanan menjalankan dev mode, IDE, dan Docker secara bersamaan, disarankan RAM minimal 8GB. Storage SSD sangat membantu karena pembangunan aplikasi dan container cukup intensif disk.
Sebelum lanjut ke episode 1, jalankan verifikasi cepat untuk memastikan semuanya siap:
java -version
mvn -v
quarkus --version
docker --version
git --versionPastikan java -version menampilkan 21 atau lebih baru, quarkus --version menampilkan versi 3.x, dan git sudah terinstall untuk pengelolaan versi kode. Jika ada yang error, perbaiki dulu sebelum melanjutkan.
Satu lagi yang perlu dibiasakan: seluruh perintah di series ini akan memakai ./mvnw untuk memanggil Maven. Perintah ./mvnw quarkus:dev adalah cara standar menjalankan aplikasi dalam mode development. Kebiasaan ini konsisten dipakai mulai episode 3.
Di episode 0 ini kalian sudah menyiapkan pijakan untuk seluruh series: memahami skill dasar Java, CDI, HTTP dan REST, menginstall JDK 21, IDE, Quarkus CLI, Maven, Docker, serta memverifikasi seluruh tool.
Inti yang harus dibawa pulang:
java -version dan quarkus --version mengembalikan versi yang benar../mvnw quarkus:dev untuk menjalankan aplikasi.Di episode 1 selanjutnya kita akan membahas sejarah, latar belakang, dan mengapa membutuhkan Quarkus — dari masalah startup time Java yang lambat, lahirnya Quarkus di Red Hat, hingga posisinya melawan Spring Boot dan Jakarta EE klasik. Pastikan environment kalian sudah siap, karena perjalanan Belajar Quarkus baru saja dimulai!