Sebelum menyentuh mdadm, kalian perlu menguasai dasar Linux administration seperti manajemen disk, partisi, dan mount. Di episode ini kalian juga menyiapkan lab dengan disk tambahan, menginstall mdadm dan OpenZFS, serta memverifikasi environment.

Selamat datang di series Belajar RAID! Series ini akan membawa kalian menguasai RAID — teknik menggabungkan banyak disk untuk redundancy, performa, dan kapasitas — dari fondasi konsep sampai production readiness. Total ada 23 episode yang tersusun dari enam fase, mulai dari fundamental, operasi mdadm, hingga ZFS dan ekosistem modern.
Tapi sebelum menyentuh mdadm, ada beberapa skill dasar dan perangkat lunak yang wajib kalian miliki. Mengapa prasyarat ini penting? Karena RAID bekerja di level block device — kalian harus paham bagaimana Linux melihat disk, partisi, dan filesystem. Kalau konsep ini masih kabur, seluruh operasi array akan terasa seperti ritual yang tidak kalian pahami.
Episode 0 ini adalah peta jalan kalian: kita akan memastikan skill dasar, menyiapkan environment lab, menginstall mdadm dan OpenZFS, lalu melakukan verifikasi pertama. Setelah episode ini selesai, seluruh series bisa diikuti dengan nyaman.
RAID adalah teknologi Linux tingkat menengah, jadi kalian wajib nyaman dengan terminal, hak akses root, dan perintah manajemen disk. Sebelum membangun array, kalian harus bisa membaca topologi disk yang terpasang:
lsblk -o NAME,SIZE,TYPE,FSTYPE,MOUNTPOINTSOutput menampilkan perangkat seperti sda, sdb, sdc dengan tipe disk atau part. Kalian juga harus paham perbedaan antara perangkat utuh dan partisi, serta cara menulis partisi dengan fdisk atau parted.
Sebuah block device adalah perangkat penyimpanan yang dibaca dan ditulis dalam blok, bukan per byte. Sector adalah unit fisik terkecil di disk, umumnya 512 byte atau 4K (Advanced Format). Mount adalah proses menghubungkan filesystem pada perangkat ke sebuah direktori sehingga isinya bisa diakses.
sda, nvme0n1, dan perangkat virtual seperti /dev/md0.mount /dev/md0 /mnt/raid membuat filesystem di array bisa diakses.Perintah lsblk dan mount akan dipakai terus sepanjang series, jadi biasakan sekarang.
Terakhir, kalian harus paham bahwa disk adalah komponen mekanis dan elektronik yang bisa gagal kapan saja. HDD punya moving part yang rentan aus, SSD punya endurance sel flash yang terbatas. Gagalnya sebuah disk bukan pertanyaan "apakah", melainkan "kapan". Pemahaman ini adalah alasan utama RAID ada — dan yang akan kita bedah lebih dalam di episode 1.
RAID membutuhkan minimal dua hingga empat disk agar eksperimennya bermakna. Gunakan VM seperti QEMU/KVM, VirtualBox, atau VMware, lalu tambahkan tiga sampai empat disk kosong berukuran sama. Jika tidak ada VM, gunakan disk image loopback:
truncate -s 4G disk-a.img
truncate -s 4G disk-b.img
truncate -s 4G disk-c.img
losetup /dev/loop0 disk-a.img
losetup /dev/loop1 disk-b.img
losetup /dev/loop2 disk-c.imgPerintah losetup di atas memasang setiap image sebagai perangkat loop yang bisa diperlakukan seperti disk sungguhan. Catat nama perangkatnya, karena akan dipakai sebagai anggota array di episode 4.
Tool utama seluruh series adalah mdadm — utility untuk mengelola Linux software RAID pada kernel MD driver:
sudo apt update
sudo apt install mdadm
mdadm --versionOutput mdadm --version harus menunjukkan versi 4.6 atau lebih baru per penulisan series ini. Versi terbaru membawa fitur seperti lockless bitmap yang akan kita bahas di episode 17 dan 21.
Selain mdadm, kalian juga akan belajar ZFS RAIDZ di episode 8. Install OpenZFS sekarang agar siap dipakai:
sudo apt install zfsutils-linux
zpool versionVersi OpenZFS 2.4.3 adalah stable terbaru dan membawa fitur seperti RAIDZ expansion dan AnyRaid. Jika distribusi kalian belum punya paket terbaru, tambahkan repository PPA resmi OpenZFS.
Sebelum lanjut ke episode 1, jalankan verifikasi cepat untuk memastikan semuanya siap:
lsblk
mdadm --version
zpool version
df -h /mntPastikan disk tambahan atau perangkat loop terlihat di lsblk, mdadm mengeluarkan versi 4.6+, dan zpool menampilkan versi ZFS yang valid. Jika semuanya berjalan tanpa error, environment kalian sudah layak mengikuti series ini.
Warning
Jangan pernah mencoba eksperimen RAID pada disk yang berisi data penting. Gunakan VM atau disk image khusus lab. Kesalahan satu perintah saja seperti mdadm --create bisa langsung menghancurkan data.
Rangkuman prasyarat yang sudah kalian siapkan di episode 0:
lsblk, fdisk, parted, dan mount.Jika ada yang belum terpenuhi, berhenti dulu dan lengkapi sebelum melanjutkan. Fondasi yang kuat akan membuat 22 episode berikutnya terasa jauh lebih ringan.
Di episode 0 ini kalian sudah menyiapkan pijakan untuk seluruh series: memahami konsep block device dan mount, membuat lab dengan tiga disk, menginstall mdadm versi 4.6, menginstall OpenZFS 2.4, dan memverifikasi semuanya berjalan.
Inti yang harus dibawa pulang:
lsblk, fdisk, dan mount.Di episode 1 selanjutnya kita akan membahas sejarah, latar belakang, dan mengapa membutuhkan RAID — dari makalah Patterson, Gibson & Katz di Berkeley tahun 1987, evolusi level RAID, hingga masalah failure rate disk yang menjadi alasan semuanya. Pastikan environment kalian sudah siap, karena perjalanan Belajar RAID baru saja dimulai!