Episode ini menelusuri sejarah React Native dari eksperimen Facebook tahun 2013, rilis open-source 2015, sampai New Architecture yang default sejak 0.76, plus masalah yang diselesaikannya: satu codebase untuk iOS dan Android dengan UI native.

Sebelum React Native ada, tim mobile harus menulis aplikasi yang sama dua kali: sekali dengan Swift atau Objective-C untuk iOS, sekali dengan Kotlin atau Java untuk Android. Biaya pengembangan berlipat ganda, dan menjaga fitur tetap sinkron di dua platform menjadi pekerjaan harian yang melelahkan.
Episode 1 membawa kalian ke awal mula React Native: kenapa Facebook membuatnya, bagaimana ia berkembang dari prototype hackathon menjadi framework produksi yang dipakai perusahaan raksasa, dan masalah besar apa yang ia pecahkan. Memahami latar belakang ini penting karena arsitektur yang kita pelajari di episode 2 adalah jawaban langsung dari masalah-masalah sejarah ini.
Semua berawal dari Facebook Ads Manager di tahun 2013. Saat itu tim Facebook ingin punya satu aplikasi mobile yang menjalankan React — yang sebelumnya berjalan di web — langsung di native. Eksperimen ini memunculkan ide untuk menulis UI dengan komponen React, tapi di-render menjadi kontrol native asli iOS dan Android, bukan WebView.
Facebook mengumumkan React Native sebagai project open-source di Maret 2015, bersamaan dengan konferensi React.js Conf. Sejak saat itu React Native meledak: banyak perusahaan besar seperti Instagram, Shopify, dan Walmart mulai mengadopsinya. Instagram bahkan dilaporkan memakai React Native untuk bagian besar aplikasinya karena berbagi kode dengan tim web.
Selama bertahun-tahun React Native berjalan di atas Bridge — antarmuka asinkron antara JavaScript dan native yang kita bahas di episode 2. Bridge terbukti lambat untuk kasus tertentu, sehingga Facebook membangun penggantinya secara bertahap:
Siklus rilis React Native kini sekitar dua bulan sekali. Versi 0.86.2 adalah stable terbaru per penulisan series ini, dengan 0.87 dalam tahap RC.
Info
Timeline versi penting: 0.76 menjadikan New Architecture dan Hermes default, lalu 0.80-an memantapkan stabilitas dan aksesibilitas. Selalu cek release notes di situs resmi sebelum upgrade.
Masalah paling utama: duplikasi kerja. Dengan React Native, satu kode JavaScript bisa berjalan di iOS dan Android sekaligus. Kalian menulis logika bisnis, state management, dan komposisi UI sekali, lalu React Native menangani perbedaan platform di balik layar. Hasilnya, estimasi penghematan bisa mencapai puluhan persen dari total biaya pengembangan mobile.
Pendekatan lain seperti Cordova atau Capacitor me-render aplikasi dalam WebView — artinya kalian membuat web app yang dibungkus browser. Konsekuensinya: performa dan feel tidak sepenuhnya native. React Native berbeda: komponen View di JavaScript dirender menjadi UIView asli di iOS dan View asli di Android. Scroll, animasi, dan interaksi terasa seperti aplikasi native sungguhan.
Pengalaman developer juga menjadi alasan kuat. React Native punya Fast Refresh yang menampilkan perubahan kode dalam hitungan detik tanpa build ulang. Tim yang sudah nyaman dengan React, hooks, dan ekosistem npm langsung produktif tanpa belajar bahasa atau framework baru dari nol.
React Native memakai katalis rilis minor sekitar dua bulan sekali. Saat series ini ditulis, versi stable adalah 0.86.2, dengan 0.87 dalam tahap RC yang dijadwalkan rilis sekitar Agustus 2026.
Tiga versi minor terakhir yang didukung secara aktif: 0.86, 0.85, dan 0.84. Di luar itu, versi lama dianggap end-of-life dan tidak lagi menerima patch keamanan.
Jangan mengandalkan ingatan untuk urusan versi. Selalu cek langsung ke sumber resmi:
npm view react-native version
npm view react-native@0.86 versionPerintah npm view react-native version menampilkan versi stable terbaru dari registry npm, dan npm view react-native@0.86 version menampilkan patch terbaru dari rilis 0.86. Untuk changelog lengkap, kunjungi halaman versions di reactnative.dev atau release notes di repository resmi.
Upgrade sebaiknya dilakukan bertahap dan diuji, bukan lompat jauh sekaligus. Naik satu rilis minor, jalankan seluruh test, lalu lanjut ke rilis berikutnya. Baca release notes sebelum upgrade karena rilis minor kadang memuat breaking changes kecil yang butuh penyesuaian kode.
Sebelum upgrade, periksa dukungan library yang dipakai terhadap versi target. Library yang belum kompatibel sering menjadi sumber error paling menyebalkan setelah upgrade, jadi pastikan semua dependency sudah siap.
Tip
Catat versi React Native di package.json dan pin dependency yang berhubungan. Versi yang tidak terkunci membuat build tidak bisa direproduksi dan debugging menjadi sulit. Jadikan upgrade rutinitas terjadwal, bukan acara darurat menjelang rilis besar.
React Native paling masuk akal jika:
Jawaban jujur terhadap kriteria ini menentukan kenyamanan tim selama bertahun-tahun, jadi diskusikan bersama sebelum memutuskan.
Sebaliknya, pertimbangkan ulang jika aplikasi kalian sangat bergantung pada animasi kompleks di level sistem, game berat dengan rendering custom, atau tim kecil yang hanya menargetkan satu platform. Episode 22 akan membahas perbandingan mendalam dengan Flutter, Kotlin Multiplatform, dan pendekatan WebView.
Episode 1 membuka wawasan kenapa React Native ada: lahir dari kebutuhan Facebook membangun aplikasi mobile dengan satu codebase React, dirilis open-source tahun 2015, lalu berevolusi dengan New Architecture yang menjadi default sejak 0.76.
Inti yang harus dibawa pulang:
Di episode 2 selanjutnya kita akan membedah konsep dasar dan arsitektur utama React Native: peran JS Thread dan UI Thread, jembatan Bridge di arsitektur lama, serta JSI, Fabric, dan TurboModules di New Architecture — lengkap dengan komponen inti yang akan kalian pakai setiap hari.