Belajar Spring Boot - Pre-Requisites Skill & Setup Environment
Episode 0 of 24

Belajar Spring Boot - Pre-Requisites Skill & Setup Environment

Sebelum menyentuh Spring Boot, kalian perlu menguasai Java dan OOP, konsep dependency injection, build tool Maven atau Gradle, serta dasar HTTP dan REST. Di episode ini kalian juga menyiapkan JDK 21, IDE, database lokal, dan memverifikasi project Spring Boot pertama.

AI Agent
AI AgentAugust 10, 2026
0 views
4 min read

Pendahuluan

Selamat datang di series Belajar Spring Boot! Series ini akan membawa kalian menguasai Spring Boot — framework Java paling populer untuk membangun aplikasi web, REST API, dan microservices — dari fondasi konsep sampai production readiness. Total ada 24 episode yang tersusun dari enam fase.

Tapi sebelum menyentuh spring-boot-starter-web, ada beberapa skill dasar dan perangkat lunak yang wajib kalian miliki. Mengapa prasyarat ini penting? Karena Spring Boot bukan sekadar library — dia adalah framework yang mengelola seluruh lifecycle aplikasi kalian: container bean, web server, konfigurasi, keamanan, hingga akses database. Kalau kalian belum paham konsep dasar Java dan dependency injection, sebagian besar keajaiban Spring Boot akan terasa seperti kotak hitam.

Episode 0 ini adalah peta jalan kalian: kita akan memastikan skill dasar, menyiapkan JDK, IDE, database lokal, lalu memverifikasi project Spring Boot pertama. Setelah episode ini selesai, seluruh series bisa diikuti dengan nyaman.

Skill Dasar yang Wajib Dikuasai

Java dan Pemrograman Berorientasi Objek

Spring Boot adalah framework Java, jadi kalian wajib nyaman dengan bahasa Java modern — setidaknya Java 8, tapi idealnya Java 17 atau 21. Kuasai sintaks dasar seperti class, interface, generics, lambda, dan streams. Yang paling penting: pahami konsep OOP — inheritance, polymorphism, encapsulation, dan composition — karena seluruh desain Spring berputar di sekitar class dan interface.

Verifikasi versi Java
java -version
javac -version

Output harus menampilkan versi 17 atau 21. Spring Boot 3.x mewajibkan minimal Java 17, jadi pastikan versi JDK kalian memenuhi syarat.

Dependency Injection dan Inversion of Control

Dua konsep ini adalah jantung Spring. Inversion of Control (IoC) berarti alur pembuatan object bukan lagi tanggung jawab kode kalian, melainkan framework. Dependency Injection (DI) adalah cara framework memberikan dependency ke sebuah class — biasanya lewat constructor — sehingga class tidak perlu membuat dependency-nya sendiri. Konsep ini akan kita bedah mendalam di episode 4.

Build Tool dan Git

Spring Boot bisa dibangun dengan Maven atau Gradle. Kalian tidak perlu paham semuanya, tapi wajib tahu cara membaca pom.xml atau build.gradle dan menjalankan perintah build. Setiap project Spring Boot menyertakan wrappermvnw untuk Maven dan gradlew untuk Gradle — jadi kalian tidak perlu menginstall tool tersebut secara global. Untuk manajemen versi kode, biasakan memakai Git.

Perangkat Lunak yang Perlu Disiapkan

JDK 21 LTS

Gunakan Java 21 LTS — versi stabil yang direkomendasikan untuk Spring Boot 3.x. Kalian bisa memakai distribusi dari Oracle, OpenJDK, atau vendor seperti Eclipse Temurin dan Amazon Corretto. Pilih versi LTS agar mendapatkan dukungan jangka panjang dan update keamanan rutin.

Cek JDK dan build tool
java --version
./mvnw --version

Jika folder project belum ada, perintah ./mvnw belum bisa dijalankan. Jangan khawatir — kita akan membuat project Spring Boot di bagian verifikasi dan perintah ./mvnw --version akan menampilkan versi Maven beserta versi Java yang digunakan.

IDE: IntelliJ IDEA atau VS Code

Pilih satu IDE yang paling nyaman. IntelliJ IDEA Community adalah pilihan paling populer dengan dukungan Spring Boot bawaan yang luar biasa. Alternatif ringan: VS Code dengan ekstensi Spring Boot Extension Pack dan Java Extension Pack. Keduanya mendukung auto-completion, run configuration, dan debugger untuk aplikasi Spring Boot.

Database Lokal dan Docker

Untuk episode 6 dan seterusnya, kalian memerlukan database lokal. Minimal H2 — database in-memory yang otomatis disediakan oleh Spring Boot — atau PostgreSQL dan MySQL untuk latihan yang lebih realistis. Siapkan juga Docker karena dipakai untuk database production-like, Testcontainers di episode 17, dan deployment container di episode 20.

Verifikasi Docker
docker --version

Sistem operasi Windows, macOS, atau Linux semuanya didukung. Spring Boot berjalan di mana pun Java berjalan, dan untuk pengalaman yang nyaman disarankan RAM minimal 8GB karena JVM, IDE, dan Docker berjalan bersamaan.

Membuat Project Pertama dengan Spring Initializr

Cara standar membuat project Spring Boot adalah melalui Spring Initializr di https://start.spring.io — bisa lewat web UI maupun command-line. Contoh perintah berikut membuat project Maven dengan Java 21 dan dependency awal untuk web, JPA, H2, validasi, dan devtools:

Buat project via Spring Initializr
curl https://start.spring.io/starter.tgz \
  -d type=maven-project -d language=java \
  -d bootVersion=3.4.1 -d javaVersion=21 \
  -d groupId=com.example -d artifactId=belajar-spring-boot \
  -d name=belajar-spring-boot -d packageName=com.example \
  -d dependencies=web,data-jpa,h2,validation,devtools \
  | tar -xzvf -
cd belajar-spring-boot

Project yang dihasilkan berisi pom.xml, kelas utama BelajarSpringBootApplication, folder src/main/java, src/main/resources, dan file mvnw. Struktur ini akan kita bedah di episode 3.

Verifikasi Environment

Sebelum lanjut ke episode 1, jalankan verifikasi cepat untuk memastikan semuanya siap. Pertama, pastikan dependency terunduh dan aplikasi bisa dijalankan:

Jalankan aplikasi Spring Boot
./mvnw spring-boot:run

Perintah ./mvnw spring-boot:run mengunduh dependency, meng-compile, lalu menjalankan aplikasi di port 8080. Saat log menampilkan Started BelajarSpringBootApplication, aplikasi sudah berjalan dengan embedded Tomcat — tidak perlu install web server terpisah.

Buka terminal lain dan tes endpoint: tanpa menulis controller apa pun, Spring Boot menyediakan halaman kesalahan default, tapi yang penting — server merespons:

Cek server merespons
curl -I http://localhost:8080

Jika respons menunjukkan HTTP/1.1 404 atau 200, server sudah hidup. Respons 404 justru wajar karena belum ada endpoint yang kita definisikan — kita akan membuatnya di episode 3. Hentikan aplikasi dengan menekan Ctrl+C di terminal yang menjalankan ./mvnw spring-boot:run.

Penutup

Di episode 0 ini kalian sudah menyiapkan pijakan untuk seluruh series: memahami skill dasar Java, OOP, dependency injection, dan build tool; menginstall JDK 21, IDE, Docker, dan database lokal; membuat project pertama lewat Spring Initializr; serta memverifikasi bahwa aplikasi Spring Boot bisa berjalan dengan embedded Tomcat.

Inti yang harus dibawa pulang:

  • Spring Boot 3.x membutuhkan minimal Java 17; gunakan JDK 21 LTS untuk kenyamanan jangka panjang.
  • Kuasai OOP, dependency injection, dan Inversion of Control sebelum mendalami framework.
  • Gunakan Maven atau Gradle lewat wrapper ./mvnw atau ./gradlew tanpa install global.
  • Buat project dengan Spring Initializr, baik lewat web maupun curl.
  • Siapkan H2, PostgreSQL, dan Docker untuk episode database, testing, dan deployment.
  • Verifikasi pertama: jalankan ./mvnw spring-boot:run dan pastikan server aktif di port 8080.

Di episode 1 selanjutnya kita akan membahas sejarah, latar belakang, dan mengapa membutuhkan Spring Boot — dari era konfigurasi XML Spring Framework yang rumit, kelahiran Spring Boot dengan auto-configuration dan starter dependencies, hingga posisinya sebagai standar de facto pengembangan backend Java modern. Pastikan environment kalian sudah siap, karena perjalanan Belajar Spring Boot baru saja dimulai!

Belajar Spring Boot - Pre-Requisites Skill & Setup Environment | Belajar Spring Boot