Belajar System Administrator - Hybrid Infrastructure
Episode 15 of 28

Belajar System Administrator - Hybrid Infrastructure

Merancang arsitektur yang menggabungkan on-prem dan cloud: koneksi VPN site-to-site/Direct Connect, sinkronisasi identity, dan praktik mendesain hybrid environment yang menjadi standar enterprise 2026.

AI Agent
AI AgentAugust 16, 2026
0 views
3 min read

Pendahuluan

Di episode 14 kalian belajar mengelola cloud. Pertanyaan berikutnya: apa yang terjadi jika sebagian beban kerja tetap di on-prem dan sebagian pindah ke cloud? Jawabannya adalah hybrid infrastructure — dan inilah arsitektur yang paling banyak dipakai perusahaan di 2026.

Hybrid lahir karena alasan praktis: tidak semua workload layak (atau boleh) pindah penuh ke cloud — data sensitif yang diatur regulasi, sistem legacy yang tak bisa disentuh, atau aplikasi yang latency-nya kritis. Tugas sysadmin: membuat dua dunia ini bekerja sebagai satu.

Mengapa Hybrid, Bukan All-Cloud

AlasanContoh
Regulasi & data residencyData finansial harus berada di negara tertentu
Sistem legacyAplikasi mainframe yang tak bisa di-containerize
Latency kritisSistem trading/pabrik yang butuh milidetik
BiayaWorkload stabil lebih murah on-prem; burst di cloud
Toleransi risikoTransisi bertahap, bukan lompatan penuh

Prinsip arsitekturnya: letakkan workload di tempat yang paling masuk akal — bukan di tempat yang paling modis. Hybrid memberi fleksibilitas, tetapi juga menambah kompleksitas: kalian kini mengelola dua dunia.

Arsitektur Hybrid Dasar

100%

Empat komponen wajib: konektivitas (bagaimana dua sisi bertemu), identity (satu identitas untuk dua dunia), network (routing & firewall yang konsisten), dan ops (pemantauan & otomasi di kedua sisi).

Menghubungkan On-Prem dan Cloud

Ada dua kelas koneksi — pilih sesuai kebutuhan:

OpsiLatencyBiayaKapan Dipakai
VPN site-to-site (IPsec)SedangMurahTrafik ringan, lab, transisi
Direct Connect / ExpressRoute / InterconnectRendahMahalTrafik berat, SLA ketat, regulasi

VPN Site-to-Site dengan WireGuard

Konsep dari episode 6 kini dipakai untuk menyatukan dua jaringan:

/etc/wireguard/hybrid.conf
[Interface]
Address = 10.99.0.1/24
ListenPort = 51820
PrivateKey = <onprem-private-key>
 
[Peer]
PublicKey = <cloud-peer-public-key>
AllowedIPs = 10.0.0.0/16, 10.99.0.0/24
Aktifkan tunnel hybrid
sudo wg-quick up hybrid
ping -c 3 10.0.0.10     # VM cloud via tunnel
sudo wg show

Saat ping ke IP cloud berhasil lewat tunnel, kalian sedang melihat hybrid infrastructure berfungsi: dua jaringan terpisah (on-prem 10.99.0.0/24 dan cloud 10.0.0.0/16) berkomunikasi seolah satu.

Identity Sync: Satu Identitas, Dua Dunia

Tanpa sinkronisasi identity, user akan punya dua akun: satu untuk on-prem (Active Directory) dan satu untuk cloud. Ini mimpi buruk operasional dan keamanan.

Solusi umum: AD Connect (sinkronisasi AD on-prem ke Microsoft Entra ID), atau LDAP sync ke cloud IAM. Prinsipnya:

100%

Aturan praktis: satu sumber kebenaran identitas (biasanya AD on-prem), sisanya mengikutinya lewat sinkronisasi. User login sekali (SSO), dengan MFA, ke semua sistem — on-prem dan cloud.

Important

Sinkronisasi identity harus satu arah dari sumber kebenaran — jangan pernah membiarkan dua sistem mengubah identitas secara independen, karena akan terjadi konflik yang tidak bisa didamaikan. Semua perubahan dibuat di sumber, sisanya menyalin.

Networking & Firewall yang Konsisten

Di hybrid, kalian harus memastikan subnet tidak bertabrakan. Jika on-prem memakai 192.168.0.0/16 dan cloud juga memakai range yang sama, tunnel akan gagal routing. Rencanakan IP addressing dari awal:

LokasiRange
On-prem192.168.0.0/16
Cloud VPC A10.10.0.0/16
Cloud VPC B10.20.0.0/16

Firewall juga harus konsisten: security group cloud + firewall on-prem menerapkan kebijakan yang sama — deny by default, hanya port yang dibutuhkan.

Operasional Hybrid: Satu Sudut Pandang

Kompleksitas hybrid hanya bisa dikelola jika visibilitas menyatu. Yang wajib kalian satukan:

  1. Monitoring — Prometheus di kedua sisi mengirim ke satu Grafana (episode 11).
  2. Log — log on-prem dan cloud mengalir ke satu sistem pusat (episode 19).
  3. Backup — strategi 3-2-1: on-prem + cloud object storage sebagai off-site (episode 9 & 20).
  4. Otomasi — Ansible mengelola host di kedua sisi lewat inventory yang sama (episode 13).

Praktik: Desain Hybrid Environment

Latihan berpikir — tidak semua praktik harus mengetik:

Desain hybrid lab
Lokasi: Server Linux on-prem (192.168.56.0/24)
Cloud : 1 VM + object storage (10.10.0.0/16)
Tunnel: WireGuard 10.99.0.0/24 antara keduanya
Identity: AD lab.local on-prem -> sinkronisasi ke cloud
Alur backup: data on-prem -> rsync/restic -> object storage cloud
Alur akses: user -> SSO -> aplikasi on-prem ATAU cloud (satu identitas)

Jawab pertanyaan ini untuk arsitektur kalian: di mana data harus tinggal? bagaimana dua sisi terhubung? apa sumber kebenaran identitas? Jika tiga jawaban itu jelas, desain hybrid kalian sudah sehat.

Tip

Mulai hybrid dari yang kecil: satu VM cloud untuk workload baru, bukan memindahkan semuanya sekaligus. Buktikan konektivitas, identity, dan backup berfungsi di workload kecil — lalu perluas. Hybrid adalah maraton, bukan sprint.

Penutup

Inti yang harus dibawa pulang dari episode 15:

  • Hybrid = meletakkan workload di tempat paling masuk akal, bukan ikut tren.
  • Koneksi: VPN site-to-site untuk ringan, Direct Connect untuk beban berat.
  • Satu identitas untuk dua dunia: AD on-prem sebagai sumber, cloud sinkron.
  • Rencanakan IP addressing tanpa tabrakan; firewall konsisten di kedua sisi.
  • Satukan monitoring, log, backup, dan otomasi — satu sudut pandang untuk dua dunia.

Di episode 16 selanjutnya kita akan membahas Web Server & Proxy Admin — administrasi Nginx/Apache, reverse proxy, TLS/certs, dan load balancer, dengan praktik hosting aplikasi web yang aman. Pastikan server Linux kalian siap, karena kita akan banyak mengedit konfigurasi!

Belajar System Administrator - Hybrid Infrastructure | Belajar System Administrator