Mengelola penyimpanan sebagai sysadmin: pilihan filesystem, LVM untuk fleksibilitas disk, RAID untuk ketersediaan, file sharing NFS/SMB, dan disk quota, lalu praktik setup storage server di Linux.

Setelah menguasai jaringan di episode 6, kita berpindah ke fondasi lain yang tak kalah penting: storage. Data adalah aset paling berharga sebuah organisasi — dan sysadmin adalah penjaganya. Tanpa pemahaman yang benar tentang filesystem, LVM, RAID, dan cara berbagi file, kalian tidak akan bisa menjaga data tetap tersedia, aman, dan tidak habis.
Episode 7 ini membahas lima pilar storage: filesystem, LVM, RAID, file sharing (NFS/SMB), dan disk quota. Di akhir, kalian menyetel sebuah storage server Linux sederhana yang berfungsi.
Filesystem menentukan bagaimana data disimpan di atas blok disk. Linux mendukung banyak pilihan, masing-masing dengan trade-off:
| Filesystem | Keunggulan | Kapan Dipakai |
|---|---|---|
| ext4 | Stabil, default, mature | Server umum |
| XFS | Performa bagus untuk file besar | RHEL, file besar/media |
| btrfs | Snapshot & compression native | NAS, workload butuh snapshot |
| ZFS | Checksum, snapshot, RAID terintegrasi | Penyimpanan serius, data besar |
Aman untuk memakai ext4 di hampir semua kasus lab. Snapshot btrfs/ZFS akan berguna untuk strategi backup (episode 9).
lsblk
df -h
blkid
mount | grep ext4lsblk — struktur disk/partisi (gambaran "peta" disk).df -h — kapasitas terpakai per mount point.blkid — UUID filesystem (dipakai di /etc/fstab).LVM (Logical Volume Manager) memecah keterbatasan "satu partisi satu filesystem". Dengan LVM, kalian punya tiga lapisan:
Keuntungan terbesarnya: menambah kapasitas tanpa menghentikan layanan. Kapasitas bisa diperluas di tengah jalan — sesuatu yang mustahil dengan partisi biasa tanpa downtime.
sudo pvcreate /dev/sdb
sudo vgcreate vgdata /dev/sdb
sudo lvcreate -L 8G -n lvdata vgdata
sudo mkfs.ext4 /dev/vgdata/lvdata
sudo mkdir /data
echo "/dev/vgdata/lvdata /data ext4 defaults 0 2" | sudo tee -a /etc/fstab
sudo mount -aLalu perbesar volume tanpa downtime:
sudo lvextend -L +4G /dev/vgdata/lvdata
sudo resize2fs /dev/vgdata/lvdataTip
Ingat urutan yang sering bikin bingung: lvextend menambah ukuran logical volume, lalu resize2fs (atau xfs_growfs untuk XFS) memperluas filesystem di atasnya. Keduanya wajib dijalankan — kelupaan yang satu membuat kapasitas tambahan tidak terlihat.
RAID menggabungkan beberapa disk untuk ketersediaan atau performa. Level yang paling relevan untuk sysadmin:
| Level | Deskripsi | Kapasitas | Kegunaan |
|---|---|---|---|
| RAID 1 | Mirror 2 disk | 50% | Ketersediaan, sederhana |
| RAID 5 | Striping + parity | N-1 disk | Trade-off kapasitas/keamanan |
| RAID 10 | Mirror + striping | 50% | Performa + ketersediaan |
Rancangan hardware (RAID controller) vs software (mdadm). Di cloud, RAID nyata sering digantikan replikasi & snapshot level infrastruktur (episode 14). Di lab, software RAID cukup:
sudo mdadm --create /dev/md0 --level=1 --raid-devices=2 /dev/sdc /dev/sdd
sudo mkfs.ext4 /dev/md0
sudo mkdir /raid
echo "/dev/md0 /raid ext4 defaults 0 2" | sudo tee -a /etc/fstabWarning
RAID bukan backup. Ia melindungi dari kegagalan disk, bukan dari kebakaran, kesalahan manusia, ransomware, atau file terhapus. Aturan emas: RAID untuk ketersediaan, backup untuk pemulihan. Kita bahas backup menyeluruh di episode 9.
Server Linux tidak hidup sendirian. Ia perlu berbagi file — NFS untuk sesama Linux/Unix, SMB untuk klien Windows.
sudo apt install -y nfs-kernel-server
echo "/srv/data 192.168.56.0/24(rw,sync,no_subtree_check)" | sudo tee -a /etc/exports
sudo exportfs -a
sudo systemctl restart nfs-serverDi client, mount:
sudo apt install -y nfs-common
sudo mount -t nfs 192.168.56.11:/srv/data /mnt/datasudo apt install -y samba
sudo tee -a /etc/samba/smb.conf > /dev/null <<'EOF'
[shared]
path = /srv/shared
browseable = yes
valid users = budi
read only = no
EOF
sudo smbpasswd -a budi
sudo systemctl restart smbdDari Windows, user mengakses lewat \\192.168.56.11\shared.
Tanpa quota, satu user bisa memenuhi seluruh disk dan membuat semua orang menderita. Quota membatasi ruang per user/group:
sudo apt install -y quota
# Edit /etc/fstab: tambahkan usrquota,grpquota pada opsi mount /data
sudo mount -o remount /data
sudo quotacheck -cum /data
sudo quotaon /dataLalu atur limit:
sudo edquota -u budi
# set blocks soft=500000 hard=550000 (dalam 1K blocks)Verifikasi dengan quota -v budi.
Note
Quota bukan sekadar "pembatas" — ia adalah alat operasional. Dengan quota, kalian bisa memprediksi pertumbuhan storage (laporan pemakaian), melindungi layanan dari disk penuh, dan memberi akuntabilitas ke user. Mulai terapkan sejak dini di lab agar terbiasa.
Rangkuman: jadikan server Linux kalian storage server fungsional.
# 1. Filesystem: partisi /srv/data dengan ext4
sudo mkdir -p /srv/data
# 2. LVM untuk fleksibilitas (opsional jika disk ekstra)
# 3. Share via NFS untuk client Linux dan Samba untuk client Windows
# 4. Aktifkan quota agar pemakaian terkendali
# 5. Verifikasi dari client: mount + tulis + baca file
mount | grep /srv/data
df -h /srv/dataVerifikasi dari client Linux dengan menulis file ke mount NFS dan membacanya dari sisi server — begitu data terlihat dari kedua sisi, storage server kalian bekerja.
Inti yang harus dibawa pulang dari episode 7:
lvextend + resize2fs).Di episode 8 selanjutnya kita akan membahas Virtualization & Containers — hypervisor KVM/Proxmox/ESXi, manajemen VM, dan dasar containers dengan Docker, serta praktik mengelola VM + container di lab. Pastikan server Linux kalian punya kapasitas ekstra, karena kita akan menjalankan VM dan container di atasnya!