Menguasai dasar jaringan dari sisi sysadmin: IP & subnetting, DNS, DHCP, VLAN, firewall, dan VPN, lalu praktik troubleshooting konektivitas dengan tool jaringan di lab dua server.

Di episode 2 kita melihat bahwa network services (DNS/DHCP) adalah fondasi yang jika tumbang, semuanya terasa rusak. Episode 6 ini melengkapi fondasi itu: kalian akan memahami cara kerja jaringan dari perspektif sysadmin — cukup untuk mengonfigurasi, mengamankan, dan yang terpenting, menroubleshoot konektivitas tanpa harus menjadi network engineer.
Mengapa ini penting? Karena hampir semua masalah server pada akhirnya berujung pada pertanyaan "apakah ini masalah jaringan?". Jika kalian tidak bisa menjawab dengan cepat, setiap tiket akan berubah menjadi teka-teki panjang.
Alamat IP adalah alamat rumah di jaringan. Sebagai sysadmin, kalian tidak perlu menghitung subnet dengan tangan setiap hari, tetapi wajib memahami tiga hal:
| Konsep | Arti Praktis |
|---|---|
| IP address | Identitas perangkat (misal 192.168.56.10) |
| Netmask/subnet | Batas jaringan lokal vs luar (/24 = 256 alamat) |
| Gateway | Pintu keluar ke jaringan lain (router) |
Perintah diagnostik wajib di Linux:
ip -4 addr show
ip route
ip neighip -4 addr show — IP & netmask.ip route — default gateway.ip neigh — tabel ARP: siapa yang merespons di jaringan lokal (berguna melihat bentrok IP).Troubleshooting DNS adalah skill hidup mati. Urutan pengujian yang benar:
dig +short google.com # 1. Server DNS menjawab?
host 192.168.56.10 # 2. Reverse lookup jalan?
cat /etc/resolv.conf # 3. Nameserver mana yang dipakai?Jika dig kosong tapi internet jalan lewat IP, masalahnya di DNS. Jika dig @8.8.8.8 bekerja tetapi resolver lokal tidak, masalahnya di server DNS internal kalian.
Pastikan client mendapatkan konfigurasi jaringan yang benar:
ip -4 addr show | grep dynamic
journalctl -u systemd-networkd -u dhclient --since "1 hour ago"Pitfall umum: server diberi IP reservation DHCP agar tidak berubah, atau IP statis yang di-pin di luar scope DHCP. Jangan pernah mencampur keduanya untuk perangkat yang sama.
VLAN membagi satu switch fisik menjadi beberapa jaringan logis. Manfaatnya bagi sysadmin: memisahkan lalu lintas sensitif (server, storage) dari lalu lintas user, dan membatasi blast radius saat satu segmen bermasalah.
Di lab, VLAN biasanya diatur di managed switch; di cloud, konsep yang sama muncul sebagai VPC/subnet (episode 14). Inti yang harus dipahami: traffic antar-VLAN harus melewati router — kalau dua segmen tidak saling bicara, cek dulu routing, bukan kabel.
Firewall menentukan siapa boleh masuk. Di Linux, dua tool utama: UFW (sederhana, wrapper iptables) dan firewalld (zoned, default di RHEL family).
sudo ufw default deny incoming
sudo ufw allow OpenSSH
sudo ufw allow 443/tcp
sudo ufw enable
sudo ufw status numberedPrinsip yang akan dipakai di episode 18 (hardening): default deny, lalu buka hanya yang dibutuhkan. Firewall bukan pelengkap — ia adalah gerbang pertama pertahanan.
VPN memperluas jaringan perusahaan ke karyawan remote secara terenkripsi. Dua arsitektur umum:
| Model | Contoh | Kapan Dipakai |
|---|---|---|
| Site-to-site | WireGuard tunnel antar kantor/cloud | Menghubungkan dua jaringan tetap |
| Remote access | WireGuard/Wireguard, OpenVPN, Zero Trust | Karyawan remote masuk ke jaringan internal |
WireGuard adalah pilihan modern yang ringan dan cepat:
sudo apt install -y wireguard
wg genkey | tee /etc/wireguard/server.key | wg pubkey > /etc/wireguard/server.pub[Interface]
Address = 10.0.0.1/24
ListenPort = 51820
PrivateKey = <server-private-key>
[Peer]
PublicKey = <client-public-key>
AllowedIPs = 10.0.0.2/32Aktifkan dengan sudo wg-quick up wg0. Catatan: ini lab; produksi memerlukan hardening tambahan (firewall port, PersistentKeepalive, dan manajemen key).
Model lapisan adalah alat berpikir terbaik. Saat koneksi bermasalah, uji dari bawah ke atas:
ping -c 3 192.168.56.10 # L1-L3: host hidup?
ping -c 3 8.8.8.8 # L3: internet/IP routing?
dig +short google.com # L3-L7: DNS bekerja?
curl -I https://google.com # L7: aplikasi merespons?Jika ping ke host lokal gagal: masalah kabel/switch/firewall lokal. Jika ping IP jalan tapi nama tidak: masalah DNS. Jika semuanya jalan kecuali browser: masalah proxy/firewall aplikasi. Urutan ini menyelamatkan kalian dari mengejar arah yang salah.
Tip
Aturan sysadmin: selalu mulai dari yang paling sederhana. Sebelum membongkar konfigurasi, cek: kabel terpasang? IP tidak bentrok (ip neigh)? Firewall lokal tidak memblokir? Mayoritas masalah jaringan di lab dan kantor kecil berakar di tiga hal itu.
Warning
Jangan pernah "menyelesaikan" masalah jaringan dengan mematikan firewall atau me-nonaktifkan semua aturan. Firewall yang dimatikan "biar cepat" adalah jebakan: masalahnya hilang sementara, tetapi keamanannya juga hilang permanen. Diagnosa akar masalahnya.
Latihan terpadu di lab dua server:
ping -c 3 192.168.56.20
ss -tulpn | grep :3389
nc -zv 192.168.56.20 3389
traceroute 192.168.56.20Jika ping gagal tapi nc -zv ke port 3389 berhasil, firewall Windows memblokir ICMP — koneksi sebenarnya sehat. Jika nc gagal, cek apakah RDP diaktifkan di Windows Server. Ini contoh nyata mengapa membaca output secara berlapis lebih penting daripada menebak.
Inti yang harus dibawa pulang dari episode 6:
ip addr, ip route, ip neigh).dig, host, cat /etc/resolv.conf.Di episode 7 selanjutnya kita akan membahas Storage & Filesystem — filesystem Linux, LVM, RAID, file sharing NFS/SMB, dan disk quota, dengan praktik setup storage server. Pastikan server Linux kalian punya sisa ruang disk, karena kita akan bermain dengan partisi dan filesystem!