Sebelum proyek disetujui, pertanyaan wajib dijawab: layakkah dibangun dan berapa biayanya. Episode ini membahas studi kelayakan lima dimensi, analisis cost-benefit dengan angka nyata TokoKita, serta teknik estimasi yang jujur — analogi, three-point PERT, dan bottom-up dari backlog

Setelah di episode 11 prototype layar kasir memastikan semua pihak melihat solusi yang sama, muncul dua pertanyaan yang menentukan nasib proyek di tangan sponsor: layakkah ini dibangun dan berapa biaya serta waktunya secara realistis. Episode ini membahas studi kelayakan dan seni estimasi.
Mengapa analyst harus terlibat di sini, bukan hanya manajemen? Karena kalian pemilik data terlengkap: hasil process mapping episode 8 memberi angka pemborosan, SDD episode 7 memberi kompleksitas arsitektur, dan prototype episode 11 memberi cakupan fitur yang disepakati. Tanpa kontribusi kalian, keputusan investasi diambil dari tebakan — dan proyek yang lolos dengan feasibility bohong akan mati perlahan setelah anggaran habis.
Studi kelayakan menimbang proyek pada beberapa sumbu sekaligus:
| Dimensi | Pertanyaan Inti | Alat Ukur |
|---|---|---|
| Technical | Bisakah dibangun dengan kapabilitas yang ada? | Riset teknologi, proof-of-concept |
| Operational | Akankah organisasi memakainya dengan baik? | Analisis adopsi, readiness user |
| Economic | Apakah manfaat melebihi biaya hidupnya? | CBA, ROI, payback period |
| Schedule | Bisakah selesai sebelum jendela peluang tertutup? | Estimasi, critical path |
| Legal/Compliance | Adakah halangan regulasi atau lisensi? | Mapping regulasi (ep. 19) |
Praktik penting: kelayakan dinilai terhadap alternatif, bukan terhadap nol. Alternatif TokoKita bukan "tidak ada apa-apa" melainkan: tetap Excel dengan biaya tersembunyinya, belajar POS komersial langganan bulanan, atau hire satu staf konsolidator. Proyek internal kadang kalah lawan SaaS — dan itu temuan sah yang menghemat ratusan juta.
Untuk TokoKita, risiko teknis terbesar adalah pola offline-first + sinkronisasi multi-cabang. Cara menilainya bukan diskusi filosofis melainkan proof-of-concept berukuran kecil: satu aplikasi kasir sederhana menyimpan transaksi lokal, satu skrip server menerima batch, uji skenario internet putus-sambung.
Skenario 1: 50 transaksi saat offline, sinkron saat pulih
-> sukses, durasi sync 8 detik, tanpa duplikasi (UUID idempotent)
Skenario 2: koneksi putus DI TENGAH upload batch
-> retry otomatis berhasil; transaksi tidak hilang
Skenario 3: dua cabang edit produk sama selama offline
-> TERDETEKSI: konflik harga; perlu aturan prioritas pusat
-> keputusan desain: master produk read-only di kasir (DL-03)
Kesimpulan: feasible dengan pendekatan antrian pending_sync;
risiko tersisa: jam device (tablet murah) -> uji ketahanan bateraiPerhatikan nilai PoC nomor tiga: konflik yang ditemukan di minggu riset mengubah desain lebih murah daripada ditemukan saat UAT. Inilah esensi kelayakan teknis — membeli kepastian dengan eksperimen murah, bukan dengan optimisme.
Manfaat dikuantifikasi langsung dari process mapping episode 8 dan data operasional:
| Komponen | Dasar Hitung | Nilai/Bulan |
|---|---|---|
| Efisiensi stok opname | 240 jam kerja/tahun... per bulan: 20 jam x 12 cabang x Rp 25rb | Rp 6,0 jt |
| Berkurang shrinkage | Penjualan Rp 500 jt x 1,5% selisih stok | Rp 7,5 jt |
| Hilang input ulang & salah harga | 100 jam x Rp 15rb | Rp 1,5 jt |
| Total manfaat | Rp 15,0 jt/bln |
Biaya:
| Komponen | Jenis | Nilai |
|---|---|---|
| Pengembangan software | Sekali | Rp 180 jt |
| Hardware 12 cabang (tablet+scanner+printer) | Sekali | Rp 84 jt |
| Cloud + maintenance | Bulanan | Rp 2,0 jt |
Dengan investasi awal Rp 264 jt dan arus kas bersih pasca-go-live Rp 13 jt/bulan:
Payback period = 264 jt / 13 jt per bln ~= 20 bulan
ROI 3 tahun = (manfaat 540 jt - biaya total 336 jt) / 336 jt
~= 61%
Break-even = sekitar bulan ke-20 dari mulai pengembanganAngka-angka ini bukan presisi ilmiah — dan itu wajar. Fungsinya adalah kerangka keputusan yang bisa didebat: Pak Budi boleh menantang asumsi shrinkage 1,5%, lalu kita hitung ulang bersama. Keputusan atas asumsi yang terbuka jauh lebih sehat daripada angka pasti-yang-palsu.
Important
Selalu sertakan biaya tahun kedua dan ketiga: lisensi, server, perbaikan bug, perubahan kecil. Banyak proyek tampak untung karena hanya dihitung biaya bangun — padahal maintenance bisa 15-20% dari biaya awal tiap tahun. TCO (total cost of ownership), bukan harga tiket masuk.
Bandingkan dengan pekerjaan serupa yang sudah selesai: "modul retur mirip modul penyesuaian stok di proyek X, ambil baseline 8 hari." Murah dan cepat, akurasi bergantung kemiripan nyata — wajib catat penyimpangan.
Tiap item diestimasi tiga kali: optimis (O), paling-mungkin (M), pesimis (P). Ekspektasi dan simpangannya:
E = (O + 4M + P) / 6 # expected duration
SD = (P - O) / 6 # standar deviasi / ketidakpastian
Contoh - modul sinkronisasi offline:
O = 5 hari, M = 10 hari, P = 22 hari
E = (5 + 40 + 22) / 6 = 11,2 hari
SD = (22 - 5) / 6 = 2,8 hari <- risiko tinggi!Nilai SD yang besar adalah sinyal: item ini butuh spike riset lebih dulu, bukan cuma buffer tambahan. Estimasi yang baik mengukur ketidakpastian, bukan menyembunyikannya.
Rinci epic menjadi story (episode 5), estimasi per story oleh orang yang mengerjakan, jumlahkan. Ini paling akurat tapi termahal; cocok untuk fase eksekusi, terlalu berat untuk proposal awal. Pola dewasa: analogi untuk proposal, PERT untuk item berisiko, bottom-up untuk sprint.
Tiga hukum yang menjaga estimasi tetap jujur:
Tip
Simpan riwayat estimasi vs aktual tim Anda. Setelah 3-4 proyek, kalian punya faktor kalibrasi unik tim ("kami konsisten underestimate 30% untuk integrasi") — aset yang membuat estimasi Anda berbeda kelas dari tebakan orang lain.
Output akhir episode ini satu dokumen 01-brd/feasibility-study.md — padat, angka, siap diputuskan:
# Studi Kelayakan - Sistem POS & Inventori TokoKita
Status: untuk keputusan sponsor | Tanggal: 2026-08-16
## Rekomendasi
PROCEED dengan pendekatan bertahap (pilot 1 cabang),
metodologi hybrid sesuai ep.02. Alternatif SaaS komersial
ditolak karena: kebutuhan offline-first tak terpenuhi penuh,
biaya langganan 12 cabang Rp 4,5 jt/bln (Rp 162 jt/3 thn),
dan data member milik vendor.
## Temuan per dimensi
Technical : LAYAK - PoC offline-sync sukses; 1 risiko tersisa
(ketahanan tablet) -> mitigasi uji lapangan pilot
Operational : LAYAK DENGAN SYARAT - adopsi kasir butuh program
change management (ep.15); Bu Rina mendukung aktif
Economic : LAYAK - payback 20 bln; ROI 3 thn 61%;
asumsi sensitif: shrinkage 1,5% & volume penjualan
Schedule : PILOT 14 MINGGU - breakdown estimasi terlampir;
rollout penuh +4 bulan setelah pilot stabil
Compliance : AMAN - pencatatan pajak standar; PDP dicek ep.19-20
## Keputusan yang diminta dari sponsor
D1 Setujui anggaran tahap pilot (dev Rp 95 jt + hw 1 cabang Rp 7 jt)
D2 Tetapkan cabang pilot: Denpasar (volume tertinggi, manajer terkuat)
D3 Sepakati gerbang evaluasi pilot: 2 sprint + kriteria kelulusanCatatan bagian rekomendasi: alternatif SaaS ikut dihitung dan ditolak dengan alasan — dokumen yang menampilkan opsi gugur lebih kredibel daripada yang hanya membela satu jawaban.
Inti yang dibawa pulang:
Proyek sudah layak dan terjadwal — sekarang sistem harus bicara dengan dunia luarnya. Di episode 13 selanjutnya kita membahas system integration analysis: memetakan integrasi TokoKita dengan payment gateway QRIS, sistem akuntansi Mbak Dwi, dan supplier — lengkap dengan kontrak API dan pola pertukaran data. Pastikan tetap semangat!