Menganalisis sistem berbasis AI/LLM menuntut cara pandang baru: mutu bersifat probabilistik, data adalah bahan bakar, dan UX harus mengelola ketidakpastian. Episode ini membedah requirement fitur Asisten Stok Cerdas TokoKita — strategi data grounding, rencana evaluasi, dan guardrails — dari sudut pandang analyst

Setelah di episode 21 kalian punya workflow AI sebagai alat kerja pribadi, kali ini tantangannya naik kelas: menganalisis sistem yang dibangun di atas AI sendiri. Pemilik TokoKita melihat demo chatbot dan bertanya: "kita bisa punya asisten stok yang dijawab pakai bahasa sehari-hari, nggak?" Episode ini membahas apa yang berbeda saat menganalisis fitur berbasis LLM — strategi data, evaluasi mutu, dan desain UX yang jujur terhadap ketidakpastian.
Mengapa butuh episode tersendiri? Karena semua kebiasaan analisis tradisional kita goyangkan oleh satu sifat: non-determinisme. Sistem klasik TokoKita bisa diuji biner — input X harus menghasilkan output Y, pass atau fail. Model bahasa menjawab pertanyaan yang sama dengan kalimat berbeda setiap kali, kadang benar brilian, kadang meyakinkan-yet-salah. Requirement "sistem harus akurat" tidak lagi cukup; kita harus mendefinisikan akurat untuk kasus mana, diukur bagaimana, toleransi berapa. Di sinilah analyst menjadi penerjemah antara ekspektasi bisnis ("seperti ChatGPT dong") dan realitas engineering (eval dataset, threshold, guardrails).
Empat pergeseran fundamental yang harus masuk ke cara kalian menganalisis:
Bayangkan karyawan magang yang sangat fasih berbicara: dia menjawab semua pertanyaan pelanggan dengan percaya diri, tapi kadang mengarang harga karena belum hafal buku stok. Kalian tidak menghentikan dia bicara — kalian (1) berikan dia buku stok yang rapi untuk dibaca (grounding), (2) uji pengetahuannya sebelum diterjukan ke pelanggan (evaluasi), dan (3) pasang aturan "cek buku dulu sebelum menyebut angka" (UX + guardrails). Tiga langkah itu persis struktur requirement fitur AI.
Scope yang kita sepakati dengan pemilik — sengaja sempit untuk versi pertama:
| Aspek | Keputusan |
|---|---|
| Pengguna | Pemilik & kepala toko (bukan kasir saat melayani antrean) |
| Fungsi | Menjawab pertanyaan stok dalam bahasa natural; usul reorder |
| Sumber kebenaran | Master produk + kartu stok di database POS (sudah ada sejak ep.09) |
| Aksi | Hanya membaca & menyarankan — tidak boleh mengubah stok |
| Kanal | Dashboard web pemilik, teks biasa |
Pembatasan "read-only" adalah keputusan analisis terpenting di tabel itu: nilai bisnis sudah tercapai dengan jawaban cepat, sementara aksi tulis (mengurangi stok otomatis) membuka kelas risiko baru yang layak ditunda ke versi dua.
Pertanyaan arsitektur pertama yang analyst harus siap diskusikan: bagaimana model "tahu" stok TokoKita? Dua opsi besar:
Untuk TokoKita keputusannya jelas: RAG di atas master produk dan kartu stok. Konsekuensi requirement-nya penting dan sering terlewat: mutu retrieval menjadi requirement tersendiri — pencarian "indom" harus menemukan "Indomie Goreng", artinya master produk butuh pembersihan (sinonim, satuan konsisten). Ini pekerjaan analisis data nyata, bukan pekerjaan model.
Sejak awal kita sepakati definisi "cukup baik". Kita susun golden set: 60-80 pertanyaan nyata (dari wawancara kepala toko) beserta jawaban referensi dan rubrik penilaian:
Q-12 : "Indomie goreng di cabang Tebos masih ada?"
Sumber kebenaran : kartu stok SKU-00123 @ Tebos = 48 pcs
Rubrik:
- Angka stok sesuai DB (wajib benar)
- Menyebut cabang yang dimaksud (wajib benar)
- Bahasa ringkas, maks 2 kalimat (preferensi)
Ambang versi 1 : >= 90% item wajib-benar lolos
pada seluruh golden setPenilaian dilakukan dua lapis: LLM-as-judge untuk penyaringan massal murah, lalu manusia (kalian!) menilai sampel acak dan semua kasus gagal — judge juga bisa salah, jadi audit berkala tetap wajib. Pola ini identik dengan filosofi UAT episode 14: mutu didefinisikan sebagai kriteria yang bisa diverifikasi, bukan perasaan saat demo.
Warning
Demo menggoda, evaluasi menyelamatkan. Satu demo sukses dengan 5 pertanyaan favorit pemilik bukan bukti kesiapan produksi — model mudah tampak jenius pada contoh yang sering muncul di latihannya. Jadikan golden set sebagai gerbang rilis resmi, dan jalankan ulang setiap kali prompt/model/data berubah.
Desain pengalaman adalah setengah dari manajemen risiko fitur AI. Empat keputusan UX yang kita tulis sebagai requirement:
Guardrails adalah requirement non-fungsional khas AI, dan semuanya bisa dipetakan ke warisan seri kita:
[PELANGGAN-01], dan retensi log percakapan dibatasi 30 hari.Rangkuman keputusan di atas menjadi 02-requirements/ai-assistant-spec.md di repo dokumentasi:
# Spec Fitur AI: Asisten Stok Cerdas v1.0
## Scope
Pengguna: pemilik & kepala toko. Kanal: dashboard web.
Fungsi: Q&A stok bahasa natural + usul reorder (draft saja).
## Requirement Inti
AI-01 Jawaban stok WAJIB dirujuk dari kartu stok via
retrieval; dilarang menjawab dari ingatan model.
AI-02 Retrieval WAJIB menemukan produk utk typo/sinonim
umum (indomie/indom/mie goreng); master produk
dibersihkan sebagai prasyarat rilis.
AI-03 Ambigu (>= 2 kandidat produk) -> asisten bertanya
balik, dilarang menebak.
AI-04 Tidak ada operasi tulis; reorder berhenti di draft PO.
AI-05 Setiap jawaban menampilkan sumber + waktu update data.
## Evaluasi (gerbang rilis)
Golden set 70 item (wajib-benar >= 90%), rubrik per item,
judge LLM + audit manusia mingguan atas 20% sampel acak.
## Guardrails
Batas topik stok; anonimisasi nama member di prompt;
retensi log 30 hari; audit trail per jawaban;
fallback penuh ke dashboard stok manual.
## Di luar scope v1
Suara, multi-bahasa daerah, aksi tulis otomatis,
prediksi permintaan statistik.Perhatikan pola nomornya: AI-nn untuk kebutuhan spesifik-AI, sementara NFR lama (kinerja, keamanan) tetap berlaku tanpa diganti — fitur AI hidup di dalam tata kelola yang sudah kalian bangun sepanjang seri ini.
Inti yang harus dibawa pulang:
Fitur kalian kini modern — tetapi ia hidup di dalam organisasi yang lebih besar darinya. Di episode 23 selanjutnya kita naik satu tingkat ke enterprise architecture awareness: bagaimana TOGAF memandang perusahaan sebagai kesatuan arsitektur bisnis-data-aplikasi-teknologi, dan bagaimana proyek-proyek kecil seperti milik kita seharusnya selaras dengan peta besar itu. Pastikan tetap semangat!