Menggali kebutuhan adalah jantung pekerjaan System Analyst. Episode ini membahas teknik elicitation — interview, workshop, observasi, dan analisis dokumen — lengkap dengan skrip interview, daftar pertanyaan pembuka, dan praktik interview session bersama stakeholder TokoKita

Setelah di episode 2 kalian memilih metodologi — untuk TokoKita kita memutuskan hybrid dengan fase analisis ringan di depan — kini saatnya mengisi fase itu dengan bahan baku paling penting: kebutuhan. Episode ini membahas requirement gathering atau elicitation: seni dan teknik menggali apa yang benar-benar dibutuhkan sistem.
Mengapa ini episode yang menentukan? Karena kesalahan termurah untuk diperbaiki adalah kesalahan yang ditangkap di ruang wawancara. Satu pertanyaan yang terlewat hari ini menjadi bug fungsional bulan depan, atau lebih buruk: fitur yang dibangun sempurna tapi tidak dipakai siapa pun. Statistik klasik industri menyebut mayoritas kegagalan proyek berakar pada kebutuhan yang buruk — bukan pada kode.
Kebutuhan tidak jatuh dari langit. Ia tersebar di beberapa sumber:
| Sumber | Contoh di TokoKita | Teknik Elicited |
|---|---|---|
| Orang | Owner, manajer cabang, kasir, staf gudang | Interview, workshop, observasi |
| Dokumen | Laporan Excel penjualan, nota manual, SOP lama | Analisis dokumen |
| Sistem existing | Excel per cabang, mesin EDC | Inspeksi sistem |
| Kompetitor & standar | POS kompetitor, aturan pelaporan pajak | Benchmark, riset regulasi |
Prinsip penting: orang jarang bisa menyatakan kebutuhan mereka secara lengkap dan akurat dalam sekali bicara. Mereka menceritakan solusi yang mereka bayangkan ("tolong buatkan tombol X"), bukan masalah yang dialami. Tugas kalian menggali balik dari solusi ke masalah.
Wawancara satu-lawan-satu (atau dua analyst) adalah teknik paling fleksibel. Cocok untuk memahami pekerjaan individu secara mendalam. Struktur wawancara yang baik:
Aturan emas wawancara: gunakan pertanyaan terbuka (bagaimana, mengapa, ceritakan) sebelum pertanyaan tertutup (apakah). Dan selalu minta contoh nyata terakhir: "Ceritakan kali terakhir Bapak/Ibu mengalami stok tidak cocok" jauh lebih kaya daripada "seberapa sering stok tidak cocok?"
Workshop mengumpulkan beberapa stakeholder sekaligus dalam sesi terfasilitasi (biasanya setengah hari). Kelebihannya: konflik antar-pihak langsung terlihat dan bisa diselesaikan di tempat. Kekurangannya: butuh fasilitasi mahir — orang berpangkat tinggi bisa mendominasi ruangan.
Peran dalam workshop: facilitator (kalian), scribe/pencatat, dan peserta. Alat bantu favorit: whiteboard, sticky notes untuk prioritas, dan template seperti process mapping kasar di dinding.
Mengamati orang bekerja langsung di tempatnya (shadowing). Wajib dilakukan untuk proses fisik seperti kasir TokoKita: kalian akan menemukan work-around yang tak pernah diceritakan — misalnya kasir mencatat transaksi tunai di kertas saat internet mati, lalu input ulang sore harinya. Work-around inilah tambang emas requirement non-fungsional.
Baca dokumen yang ada: format nota, laporan Excel, email keluhan. Untuk TokoKita, isi 12 file Excel cabang akan memberitahu kalian struktur data faktual (apa saja yang dicatat), volume transaksi, dan inkonsistensi antar-cabang — semua itu bahan desain data nanti.
Tip
Trik triangulasi: jangan pernah menyimpulkan kebutuhan dari satu sumber. Klaim manajer cabang ("kasir sering salah input harga") harus dicek silang dengan data Excel dan observasi kasir. Tiga sumber yang konsisten = kebutuhan solid.
Saatnya praktik. Target wawancara pertama kita: Bu Rina, manajer cabang Denpasar, 8 tahun bekerja, mengelola 6 kasir.
Persiapan sebelum datang:
1. Baca Project Brief + laporan Excel cabang Denpasar (30 menit)
2. Susun 8-12 pertanyaan inti terbuka, urut dari umum ke spesifik
3. Siapkan alat: laptop/notebook, perekam (dengan izin), template catatan
4. Konfirmasi waktu 60 menit via WA + agenda singkat dikirim H-1
5. Tentukan teman satu tim untuk mencatat agar fokus bertanyaSkrip pertanyaan inti (versi ringkas):
1. Ceritakan rutinitas Anda membuka dan menutup toko.
2. Bagaimana proses penjualan dari pelanggan datang sampai pulang?
→ minta contoh kejadian kemarin sore.
3. Di titik mana proses itu paling sering bermasalah?
4. Bagaimana Anda sekarang tahu produk mana yang perlu direstock?
5. Ceritakan kali terakhir stok catatan vs fisika tidak cocok.
Apa yang Anda lakukan?
6. Bagaimana owner mendapatkan laporan dari Anda saat ini?
7. Jika ada sistem baru, hal apa yang PALING tidak boleh rusak?
8. Ada hal lain yang belum saya tanyakan tapi sebaiknya saya tahu?Pertanyaan nomor 7 sering membuka kebutuhan non-fungsional terpenting: Bu Rina menjawab "kalau listrik/internet mati, kasir tetap harus bisa jalan — jangan sampai antrean pelanggan mundur." Itu langsung menjadi requirement: mode offline-first dengan sinkronisasi ulang.
Setelah wawancara, tulis interview notes dalam 24 jam (memori cepat pudar):
# Interview Notes - Bu Rina (Manajer Cabang Denpasar)
Tanggal: 2026-08-14 | Durasi: 55 menit | Pencatat: Dimas
## Fakta
- Rutinitas buka: hitung modal drawer, cek rak vs lembar stok mingguan
- Penjualan: scan barcode (70%), input manual (30% - barcode rusak)
- Restock: lembar Excel dikirim WA ke owner tiap Senin
- Ketidakcocokan stok: ±2-3x/bulan, biasanya item promo
- Saat internet mati: transaksi dicatat manual, input ulang malam
## Kebutuhan terindikasi
- R1: Kasir harus tetap beroperasi offline (prioritas tinggi)
- R2: Stok opname lebih cepat daripada hitung manual mingguan
- R3: Laporan otomatis ke owner tanpa kirim Excel manual
- R4: Input manual produk tanpa barcode harus mudah
## Pertanyaan lanjutan
- Berapa persen transaksi pakai QRIS/e-wallet? (tanya kasir)
- Bagaimana proses retur barang rusak? (belum terbahas)Warning
Waspadai stakeholder bisu: orang yang paling terdampak sistem tetapi tidak pernah diundang bicara. Di TokoKita itu kasir dan staf gudang. Sistem yang dirancang hanya dari sudut pandang manajemen hampir pasti gagal adopsi — topik yang kita dalami di episode 15.
Inti yang harus dibawa pulang:
Dari wawancara Bu Rina kita sudah mengumpulkan butir R1-R4. Di episode 4 selanjutnya kita akan membahas requirement analysis & prioritization: memilah functional vs non-functional, menyusun acceptance criteria, dan mengurutkan semuanya dengan MoSCoW supaya backlog TokoKita punya urutan yang bisa dipertanggungjawabkan. Pastikan tetap semangat!