Episode pamungkas ini merangkai seluruh perjalanan: arsitektur end-to-end dengan TanStack, kombinasi query caching, table rendering, dan routing dalam satu aplikasi nyata, pertimbangan tradeoff performa dan UX, sampai deployment dan maintenance yang siap production.

Semua materi dari episode 0 sampai 22 kini bertemu di satu titik: membangun aplikasi data full-stack yang nyata. Episode 23 merancang arsitektur end-to-end dengan TanStack, menggabungkan query caching, table rendering, dan routing dalam satu aplikasi, mempertimbangkan tradeoff performa dan UX, serta menutup dengan deployment dan maintenance siap production.
Aplikasi studi kasusnya adalah dashboard inventaris: tabel produk dengan sorting dan filter, detail produk per route, mutasi stok dengan optimistic update, dan ringkasan statistik. Tiga masalah khas aplikasi data-driven yang sudah kalian latih di episode-episode sebelumnya.
Di akhir episode, kalian melihat bagaimana keputusan kecil yang konsisten selama 24 episode menghasilkan aplikasi yang cepat, type-safe, dan mudah dipelihara.
Setiap bagian aplikasi dipetakan ke library yang paling tepat: Query untuk server state dan caching, Router untuk navigasi dan loading data per halaman, Table untuk datagrid inventaris, dan Virtual untuk daftar produk yang panjang.
const inventarisRoute = createRoute({
getParentRoute: () => rootRoute,
path: "inventaris",
validateSearch: z.object({
halaman: z.number().default(1),
q: z.string().optional(),
}),
loader: ({ context, search }) =>
context.queryClient.ensureQueryData({
queryKey: ["inventaris", search],
queryFn: () => ambilInventaris(search),
}),
component: HalamanInventaris,
})loader pada route memanggil ensureQueryData agar data sudah tersedia sebelum komponen dirender. Search params halaman dan q divalidasi dengan Zod, sehingga URL selalu membawa state yang sah dan tipe-nya terbawa sampai ke komponen.
Cache Query menjadi satu-satunya sumber data di client. Komponen tidak pernah menyimpan salinan data server; mereka membaca cache dan menunggu mutasi memperbaruinya lewat invalidasi.
Table tidak menyimpan filter dan sorting sendiri; ia membaca dari search params Router dan menulis kembali perubahan ke URL. Query memakai nilai tersebut sebagai query key, sehingga navigasi dan fetch selalu selaras.
const table = useReactTable({
data: inventaris?.items ?? [],
columns,
state: {
sorting: search.sorting,
pagination: { pageIndex: search.halaman - 1, pageSize: 10 },
},
onSortingChange: (updater) =>
navigate({ search: { ...search, sorting: result(updater) } }),
})pagination dan sorting table membaca nilai dari search. Setiap perubahan ditulis balik ke URL, sehingga refresh halaman tidak mengembalikan pengguna ke kondisi awal.
Ketika stok diubah, useMutation memperbarui UI optimis lebih dulu, lalu invalidasi query inventaris menyinkronkan data dengan server. Kegagalan mutasi memicu rollback otomatis berkat state optimis TanStack.
Tidak semua data bisa dilayani dengan satu pola. Query per halaman memberi respons cepat untuk tabel, sedangkan daftar raksasa memakai virtual scrolling. Keputusan ini memengaruhi arsitektur secara keseluruhan.
const prefetchHalamanBerikutnya = () => {
void queryClient.prefetchQuery({
queryKey: ["inventaris", { ...search, halaman: search.halaman + 1 }],
queryFn: () => ambilInventaris({ ...search, halaman: search.halaman + 1 }),
})
}prefetchQuery untuk halaman berikutnya membuat pagination terasa instan karena data sudah masuk cache sebelum pengguna menekan tombol. Tradeoffnya adalah bandwidth ekstra yang dihabiskan untuk data yang belum tentu dibuka.
Gunakan loading skeleton yang proporsional, pertahankan data lama selama refetch (placeholderData), dan beri feedback jelas saat mutasi berjalan. Kombinasi ini membuat aplikasi terasa responsif meski backend sedang lambat.
Aplikasi ini memakai seluruh fondasi dari episode 19 sampai 21: build dengan Vite dan TypeScript, pipeline CI yang menjalankan lint dan typecheck, deployment ke platform hosting, serta observability yang mengirim metrik query dan error.
npm run typecheck && npm run build
git tag v1.0.0 && git push origin mainnpm run typecheck && npm run build adalah gerbang terakhir sebelum rilis. Tag versi kemudian menandai titik release yang bisa di-rollback kapan saja.
Dokumentasikan keputusan arsitektur, jaga query key factory tetap terpusat, dan jadwalkan upgrade library bertahap. Aplikasi yang mudah dipelihara adalah aplikasi yang bisa dirombak tanpa rasa takut.
Episode 23 menutup series ini dengan aplikasi dashboard inventaris end-to-end: arsitektur yang memetakan fitur ke library TanStack, sinkronisasi table state ke URL, prefetch dan optimistic update untuk UX, serta pipeline dan observability untuk production.
Inti yang harus dibawa pulang:
Series Belajar TanStack telah selesai. Dari pre-requisites di episode 0 sampai aplikasi full-stack di episode 23, kalian telah menempuh seluruh perjalanan: memahami arsitektur Query, Table, Router, Virtual, dan Charts, menguasai pola lanjutan, hingga mengantarkan aplikasi ke production dengan observability dan maintenance yang sehat. Terapkan fondasi ini di project kalian, terus ikuti pembaruan ekosistem, dan jadikan TanStack bagian dari perangkat kerja sehari-hari kalian. Selamat membangun!