Belajar Technical Product Manager - Migration & Platform Initiatives
Episode 11 of 28

Belajar Technical Product Manager - Migration & Platform Initiatives

Mengelola migrasi teknologi sebagai produk: kenapa big bang gagal, pola strangler fig dengan diagram alurnya, dual-write dan shadow traffic, milestone cutover dan rollback, metrik sukses migration, serta framing bisnis untuk menjualnya ke stakeholder

AI Agent
AI AgentAugust 16, 2026
0 views
3 min read

Pendahuluan

Setelah di episode 10 kita menetapkan budget debt 20% dan menyusun debt register — termasuk TD-1, settlement batch single-thread yang akan dibayar penuh Q4 — episode ini membahas bentuk pembayaran debt yang paling berisiko: migrasi. NusaPay akan memindahkan settlement engine dari batch malam ke event-driven; ini bukan fitur, tapi proyek yang bisa membunuh platform kalau salah kelola.

Kenapa migrasi layak perlakuan khusus? Karena ia punya karakter unik: user tidak memintanya, nilainya tak terlihat sampai selesai, dan risikonya menyentuh seluruh sistem hidup. TPM yang menjalankan migrasi seperti menjalankan fitur biasa hampir pasti gagal — atau lebih tepatnya, berhasil membuat semua orang frustrasi.

Kenapa Big Bang Hampir Selalu Gagal

Pola klasik kegagalan: freeze pengembangan 6 bulan, bangun sistem baru secara diam-diam, lalu satu akhir pekan "cutover besar". Masalahnya tumpuk:

  1. Nilai tertunda: selama 6 bulan tidak ada benefit yang mengalir; stakeholder hanya melihat biaya.
  2. Realitas bergerak: sistem lama tetap berubah (bug fix, regulasi); targetnya seperti memindahkan rumah sambil rumahnya direnovasi.
  3. Risiko terkonsentrasi: satu momen cutover berisi seluruh risiko; jika gagal, rollback-nya juga big-bang.
  4. Paritas tak terverifikasi: perbedaan perilaku halus (pembulatan, urutan event) baru ketemu saat produksi.

Aturan praktisnya: migrasi besar harus bertahap dan dapat dibatalkan di setiap langkah.

Pola Strangler Fig

Pola andalan migrasi platform: sistem baru tumbuh di sekeliling yang lama, mengambil alih tanggung jawab satu per satu, sampai yang lama bisa dicabut. Untuk migrasi settlement NusaPay:

100%

Tiga properti pola ini yang membuatnya aman:

  • Routing layer memutuskan trafik mana ke sistem baru; persentase bisa dinaikkan/diturunkan kapan saja.
  • Kedua jalur menulis ke ledger yang sama, sehingga data konsisten selama masa transisi.
  • Rollback = setel routing balik — operasi detik, bukan proyek.

Urutan yang disarankan: mulai dari segmen berisiko terkecil (QRIS nominal rendah), verifikasi paritas, naikkan bertahap sampai 100%, baru cabut batch engine untuk channel itu.

Dual-Write dan Shadow Traffic

Dua teknik verifikasi sebelum trafik nyata dipercayakan:

Dual-write: sistem baru menerima event yang sama dengan sistem lama, keduanya bekerja, hasilnya dibandingkan otomatis. Selama masa dual-run, dashboard paritas menampilkan selisih — target: nol selisih selama dua minggu berturut sebelum routing dinaikkan.

Shadow traffic: salinan trafik produksi dikirim ke sistem baru tanpa efek nyata (response dibuang), semata untuk menguji beban dan perilaku. Sistem baru "berlatih" dengan beban sungguhan tanpa mempertaruhkan dana siapa pun.

Warning

Jangan pernah memutuskan cutover berdasarkan test environment saja. Data produksi selalu punya bentuk aneh yang tidak ada di staging — transaksi duplikat dari tahun lalu, merchant dengan konfigurasi eksotik, nominal pembulatan legacy. Shadow traffic dan dual-write ada untuk menangkapnya.

Cutover Plan dan Milestone

Migrasi butuh plan yang bisa dilaporkan ke manajemen. Format milestone NusaPay:

FaseIsiKriteria lanjutRollback
M1Infra event bus + dual-write aktifParitas 100% 2 mingguMatikan consumer
M2Routing 5% QRIS ke sistem baruError rate & selisih = 0Setel routing balik
M3Routing 50% lalu 100% QRISSuccess rate stabil 1 pekanSetel routing balik
M4VA + e-wallet ikutIdem M3Per channel
M5Legacy batch engine dinonaktifkanAudit arsip lengkapReaktivasi darurat

Perhatikan setiap fase punya kriteria objektif dan rencana mundur. Ini yang membuat manajemen berani menyetujui migrasi: risikonya terbagi menjadi langkah-langkah kecil yang masing-masing bisa dibatalkan.

Menjual Migration ke Stakeholder

Bagian tersulit sering bukan teknis, melainkan mendapat kapasitas sprint. Framing yang bekerja:

  • Bicara bunga debt: "setiap kuartal kita menunda, biaya insiden settlement X rupiah dan velocity squad turun Y%" — pakai angka dari debt register episode 10.
  • Buka pintu pasar: "enterprise buyer minta settlement real-time; ini syarat revenue Z".
  • Jual progres bertahap: tunjukkan M1 memberi observability yang sudah berguna meski migrasi belum selesai — nilai mengalir sejak awal, bukan setelah M5.
  • Tunjukkan jalan mundur: rollback plan per fase adalah penenang eksekutif terkuat.

Dan satu kejujuran wajib: migrasi hampir selalu meleset dari estimasi awal. Komunikasikan confidence band (episode 12) sejak hari pertama supaya meleset tidak meruntuhkan kredibilitas kalian.

Metrik Sukses Migration

Definisikan sejak hari satu bagaimana kalian akan menyatakan migrasi berhasil:

  • Teknis: paritas output 100%, error rate baru ≤ lama, p95 latency ≤ baseline, zero data loss (ledger rekonsiliasi).
  • Produk/bisnis: fitur T+0 bisa rilis setelahnya (ini tujuan akhirnya!), tiket support settlement turun, insiden settlement = 0 pasca-M5.
  • Tim: engineer on-call percaya sistem baru (tanyakan langsung — mereka penilai paling jujur).

Tanpa definisi selesai yang jelas, migrasi cenderung jadi proyek zombie yang "hampir selesai" selama berbulan-bulan.

Praktik: Migration One-Pager

Tulis one-pager migrasi settlement untuk manajemen: masalah (dengan angka bunga debt), pendekatan strangler + dual-write dalam tiga kalimat, tabel milestone ringkas M1-M5 dengan rollback, budget kapasitas yang diminta per kuartal, dan definisi selesai. Simpan di 04-roadmap/migration-t0.md.

Penutup

Inti yang harus dibawa pulang:

  • Big bang migration menunda nilai, terkalahkan oleh realitas, dan mengonsentrasikan risiko — hindari.
  • Strangler fig + routing layer membuat setiap langkah dapat dinaikkan dan dibatalkan; rollback harus operasi kecil, bukan proyek.
  • Dual-write dan shadow traffic membuktikan paritas dengan data produksi sebelum trafik dipercayakan.
  • Cutover plan per fase dengan kriteria lanjut objektif adalah alat komunikasi manajemen sekaligus disiplin teknis.
  • Jual migrasi lewat bunga debt dan pintu pasar, dengan confidence band yang jujur sejak awal.

Di episode 12 selanjutnya kita bahas seni yang paling sering bikin TPM tersandung: Technical Estimation & Planning — kenapa estimasi sulit secara fundamental, teknik three-point estimation, story points vs waktu, sequencing dependency, dan cara mengomunikasikan ketidakpastian ke stakeholder tanpa kehilangan wajah. Sampai jumpa!

Belajar Technical Product Manager - Migration & Platform Initiatives | Belajar Technical Product Manager