Fondasi produk AI untuk TPM: cara kerja LLM secukupnya (token, context window, temperature, hallucination), karakteristik produk AI yang beda dari software biasa, empat pola produk AI, eval minimum sebelum rilis, dan studi kasus fitur fraud alert di NusaPay

Setelah di episode 8 kita merapikan kolaborasi harian dengan engineering — trust, RICE, tiket berkualitas — episode ini menyambangi gelombang terbesar yang mengubah pekerjaan TPM: produk AI. Di NusaPay, manajemen baru saja meminta "tambahkan AI di dashboard" — dan tugas kalian memastikan permintaan itu menjadi fitur bermakna, bukan demo yang mengesankan di rapat lalu mati di produksi.
Kenapa TPM wajib paham dasar LLM? Karena keputusan-keputusan paling mahal produk AI terjadi sebelum engineering menulis kode: apakah masalah ini butuh LLM sama sekali, model besar atau kecil, akurasi berapa yang bisa diterima, dan siapa yang menanggung biaya inference per bulan. Tanpa pemahaman dasar, kalian hanya bisa menunggu jawaban vendor.
Cukup lima konsep untuk bisa berdiskusi:
Analoginya: LLM adalah pegawai yang membaca sangat luas, cepat, dan pandai merangkum, tetapi kadang mengarang dengan penuh percaya diri, lupa segalanya begitu giliran selesai, dan ditagih biaya per kata. Semua desain produk AI adalah jawaban atas empat sifat itu.
Tiga pergeseran fundamental yang harus kalian masukkan ke PRD:
| Dimensi | Software deterministik | Produk AI |
|---|---|---|
| Output | Sama input → sama output | Variatif, probabilistik |
| Definisi benar | Lolos test case = benar | Gradasi kualitas, butuh rubrik |
| QA | Unit & integration test | Eval dataset + uji manusia |
| Biaya runtime | Murah & stabil per request | Biaya token bervariasi per request |
| Kegagalan | Error jelas (500) | Salah secara halus tanpa error |
Konsekuensi praktisnya: fitur AI hampir selalu dirancang sebagai asisten dengan manusia memverifikasi, bukan otomatisasi penuh, pada iterasi awal. Dan setiap PRD fitur AI wajib punya bagian eval — persyaratan baru yang belum ada di template PRD episode 5.
Hampir semua fitur AI bernilai jatuh ke empat pola. Kenali polanya supaya diskusi "tambahkan AI" langsung konkret:
Untuk NusaPay, kandidat pertama yang layak bukan "chatbot keren", melainkan pola 1-2: klasifikasi dan ekstraksi punya ground truth jelas sehingga bisa dieval murah.
Manajemen ingin "AI deteksi penipuan". Alih-alih menerima brief vagu, pecah menjadi spesifikasi TPM:
Warning
Hindari janji "AI 100% akurat" ke merchant atau manajemen. Produk AI probabilistik: bicaralah dalam precision/recall dan threshold, dan tuliskan ekspektasi itu eksplisit di PRD serta materi sales. Janji deterministik atas sistem probabilistik adalah bom waktu reputasi.
Sebelum fitur AI kalian boleh tayang, tiga pertanyaan eval harus punya jawaban tertulis:
Topik ini kami perdalam di episode 21 (eval framework lengkap, guardrails, cost engineering) dan episode 22 (agentic products). Untuk sekarang, disiplin dataset + rubrik + ambang sudah membuat kalian lebih siap dari mayoritas tim.
Sebagian besar produk AI memakai model pihak ketiga. Sebelum kontrak, jawaban lima pertanyaan ini wajib ada di tangan kalian:
Pertanyaan-pertanyaan ini biasanya menjawab dirinya lewat dokumen keamanan vendor — dan persis jenis due diligence yang kita latih di episode 14 dan 20.
Inti yang harus dibawa pulang:
Di episode 10 selanjutnya kita bahas musuh senyap setiap roadmap: Technical Debt & Quality — definisi hutang teknis yang presisi, kuadran deliberate-reckless, cara menetapkan budget debt vs feature, dan menyusun debt register yang bisa dipertanggungjawabkan ke manajemen. Sampai jumpa!