Menelusuri evolusi jaringan seluler dari GSM, UMTS, hingga LTE: elemen jaringan tiap generasi, protocol stack user plane & control plane, perbedaan multiple access FDMA/TDMA/WCDMA/OFDMA, serta praktik menganalisis sinyal dan paket signaling dengan srsRAN dan Wireshark

Setelah di episode 3 kalian menguasai RF fundamentals — spektrum, propagasi, antena, dan link budget — sekarang kita naik satu lapis: bagaimana gelombang radio itu disusun menjadi sistem seluler yang bisa melayani jutaan pelanggan. Kita akan menelusuri tiga generasi yang masih hidup di jaringan nyata hari ini: GSM (2G), UMTS (3G), dan LTE (4G).
Mengapa masih perlu belajar teknologi "lama"? Tiga alasan praktis. Pertama, 2G/3G masih beroperasi untuk fallback suara dan IoT (meski sedang dimatikan bertahap). Kedua, spesifikasi LTE/5G dibangun di atas konsep-konsep generasi sebelumnya — tanpa paham GSM kalian akan tersesat membaca 3GPP. Ketiga, interview telecom engineer hampir selalu menyentuh evolusi ini karena ia adalah narasi utama industri.
GSM (Global System for Mobile communications) mempopulerkan SIM card dan roaming internasional. Multiple access-nya gabungan FDMA + TDMA: frekuensi dibagi carrier 200 kHz, tiap carrier dibagi 8 timeslot.
Elemen jaringannya:
| Elemen | Peran |
|---|---|
| BTS | Radio transceiver di site |
| BSC | Mengatur channel, handover intra-BSS, paging |
| MSC | Switching panggilan, mobility inter-BSC |
| VLR | Database pengunjung (pelanggan yang berada di area MSC) |
| HLR/AuC | Database langganan & autentikasi pusat |
Suara lewat TDM circuits (64 kbps per call setelah transcoding ~13 kbps), SMS lewat signaling channel. Semuanya circuit-switched — dunia pra-internet-seluler.
GSM diberi kemampuan data packet dengan menambahkan SGSN dan GGSN ke jaringan core (disebut PS domain). EDGE meningkatkan modulasi sampai 8PSK (~200-400 kbps realistis). Lambat menurut standar kini, tapi konsep SGSN/GGSN inilah nenek moyang MME/SGW/PGW di LTE.
UMTS mengganti udara ke WCDMA: semua pengguna menumpuk di carrier 5 MHz yang sama, dipisahkan oleh kode (CDMA), bukan waktu/frekuensi. Elemen radio berganti nama:
BTS → NodeB (radio saja, cerdasnya pindah atas)
BSC → RNC (cerdas & mengendalikan handover soft handover)
MSC/VLR tetap (CS domain)
HLR → HSS (plus data IP multimedia)Kelebihan WCDMA: soft handover halus. Kelemahan: efisiensi spektrum rendah pada beban tinggi — semua pengguna saling menjadi interferensi satu sama lain. HSPA/HSPA+ menyelamatkannya sementara dengan scheduling cepat dan modulasi lebih tinggi (hingga ~42 Mbps teoritis).
LTE melompat besar: semua trafik jadi packet-switched, suara pun via VoLTE (IP). Udara pakai OFDMA downlink / SC-FDMA uplink — subcarrier 15 kHz yang saling ortogonal sehingga efisien dan tahan multipath. Arsitektur jauh lebih flat:
| Elemen LTE | Peran |
|---|---|
| eNodeB | BTS + otak radio; langsung terhubung core — tidak ada BSC/RNC |
| MME | Control plane: attach, autentikasi, paging, handover |
| SGW | User plane anchor intra-EPC |
| PGW | Gerbang ke internet; alokasi IP, charging, policy |
| HSS | Database pelanggan |
| PCRF | Kebijakan & kontrol charging (QoS per layanan) |
Interface penting yang wajib kalian kenali saat baca trace: Uu (UE↔eNB), X2 (eNB↔eNB, handover), S1-MME (signaling ke MME, protokol S1AP over SCTP), S1-U/GTP-U (user data tunneling), S6a (ke HSS, protokol Diameter).
Perbandingan stack user plane yang ringkas — hafalkan ini:
UE eNodeB SGW/PGW
├─ APP ├─ PDCP ├─ GTP-U
├─ IP ├─ RLC └─ UDP/IP ... internet
├─ PDCP (enkripsi, header) └─ MAC
├─ RLC (segmentasi, ARQ) │
├─ MAC (scheduling, HARQ) │
└─ PHY (OFDMA, coding) ─────┘Poin-poin penting tiap lapis: PHY menangani modulasi/coding dan resource block allocation; MAC menjadwalkan siapa boleh kirim kapan; RLC menyusun ulang segmen; PDCP mengenkripsi dan kompresi header. Di 5G NR stack-nya mirip — belajar LTE sekali, dua kali paham.
Dengan SDR murah (RTL-SDR ~ratusan ribu rupiah), kita bisa benar-benar melihat sinyal GSM/LTE di sekitar. Contoh merekam IQ dan membuat spektrogram dengan Python:
import numpy as np
import matplotlib.pyplot as plt
from scipy import signal as sig
# Rekam IQ via rtl_sdr -f 1842500000 -s 2000000 samples.bin (band 3)
data = np.fromfile("samples.bin", dtype=np.uint8)
iq = (data.astype(float) - 127.5) / 128.0
i, q = iq[0::2], iq[1::2]
complex_iq = i + 1j * q
f, t, Sxx = sig.spectrogram(complex_iq[:2_000_000], fs=2e6, nperseg=1024)
plt.pcolormesh(t, f / 1e6, 10 * np.log10(Sxx + 1e-12), shading="auto")
plt.ylabel("Frekuensi (MHz offset)"); plt.xlabel("Waktu (s)")
plt.title("Spektrogram LTE band 3"); plt.colorbar(label="dB")
plt.savefig("spektrum.png", dpi=120)Peak yang lebar ±9-10 MHz di tengah adalah carrier LTE 10 MHz — persis seperti diagram di buku, tapi kini dari udara kalian sendiri.
Warning
Merekam spektrum untuk pembelajaran sah, tetapi mendekripsi trafik orang lain ilegal. Selain itu LTE mengenkripsi user plane (PDCP) — yang bisa kalian amati publik hanya pola signaling dan level daya. Gunakan RTL-SDR hanya sebagai alat lihat, bukan intip.
Di lab Open5GS + UERANSIM (dari episode 0), capture trafik antara gNB simulator dan core:
sudo tcpdump -i any -w ngap.pcap 'sctp'
tshark -r ngap.pcap -Y 'ngap' -T fields \
-e frame.number -e ngap.procedureCode 2>/dev/null | head -20Prosedur NGAP awal yang kalian lihat (NG Setup, Initial UE Message) adalah padanan langsung prosedur S1AP di LTE — konsep yang sama, generasi baru. Untuk LTE sungguhan, tools komersial seperti QXDM/QCAT dipakai engineer untuk membaca log UE level layer 3.
Inti yang harus dibawa pulang:
Di episode 5 kita masuk generasi terkini: arsitektur 5G — NR dan beamforming massive MIMO, Service-Based Architecture di 5G Core, network slicing, dan praktik mendesain jaringan 5G mini dengan Open5GS. Sampai jumpa!