Sebelum menyentuh Figma dan tools desain, kalian perlu mengasah empati user, observasi, dan pola pikir problem-first. Di episode ini kalian menyiapkan Figma, tools riset, notebook insight, dan memverifikasi seluruh environment siap dipakai sepanjang series dengan studi kasus JagaKota.

Selamat datang di series Belajar UX Designer! Series ini akan membawa kalian menguasai UX design — disiplin merancang pengalaman pengguna secara end-to-end: riset, arsitektur informasi, flow, usability, dan iterasi — dari UX fundamentals, research, wireframing & prototyping, usability testing, hingga agentic & ethical UX di tahun 2026. Total ada 28 episode yang tersusun dalam enam fase.
Sebelum membuka Figma, ada skill dasar dan perangkat yang wajib kalian siapkan. Mengapa prasyarat ini penting? Karena UX designer bukan sekadar "membuat aplikasi jadi enak dipakai" — ia pekerjaan riset dan pengambilan keputusan berbasis bukti tentang manusia. Tanpa empati dan kemampuan observasi, kalian akan merancang untuk user khayalan; tanpa alat kerja yang tertata, praktik di setiap episode akan berantakan.
Episode 0 ini adalah peta jalan kalian. Studi kasus sepanjang series adalah JagaKota, aplikasi pelaporan dan pelacakan masalah infrastruktur kota (lubang jalan, lampu mati, sampah) untuk warga dan pemerintah kota — aplikasi ini akan menemani kalian dari riset hingga strategi produk.
UX dimulai dari kemampuan menempatkan diri pada posisi orang lain. Latih dengan cara sederhana: setiap kali memakai produk digital, tanyakan tiga hal — "apa yang ingin dicapai orang ini?", "apa yang menghambatnya?", dan "apa yang dia rasakan?". Biasakan mencatat satu momen frustrasi setiap hari; itu bahan riset paling jujur.
Perhatikan perilaku nyata, bukan asumsi. Orang sering tidak bisa menjelaskan apa yang mereka lakukan, tapi mereka selalu menunjukkannya. Episode 3 akan melatih ini lewat interview dan observation.
UX designer menolak godaan langsung melompat ke solusi. Sebelum bertanya "bagaimana desainnya?", tanya dulu "masalah apa yang sedang dipecahkan dan untuk siapa?". Episode 2 dan 4 akan mengasah pola pikir ini secara sistematis.
Sebelum lanjut, cek jujur posisi kalian:
| Skill | Sudah lancar | Perlu berlatih |
|---|---|---|
| Empati & observasi | Bisa menebak perasaan pengguna dari perilaku | Mulai dari mencatat frustrasi harian |
| Problem-first | Menahan diri dari langsung bikin solusi | Latih tulis masalah dulu, ide belakangan |
| Dasar visual | Tahu grid, kontras, hierarki | Baca episode 8-9 series UI/UX |
Tidak perlu sempurna — series ini dibangun bertahap. Yang penting kalian tahu titik mulai, bukan meniru jawaban.
Tip
Buat notebook insight — catatan fisik atau digital (Notion/Obsidian) khusus untuk observasi, kutipan user, dan ide. Sepanjang series, kalian akan membutuhkan tempat menampung data riset sebelum diolah menjadi keputusan desain.
Figma adalah tool utama kita; free tier-nya sudah cukup untuk seluruh series.
# Figma adalah aplikasi desktop/web — tidak diinstall via terminal.
# Pastikan kalian bisa login di figma.com dan membuat file baru.Buat satu File Project bernama JagaKota dan dua frame: 390 × 844 (mobile) dan 1440 × 900 (desktop). Kita pakai keduanya mulai episode 7.
Di episode 3 dan 12 kita butuh alat untuk survey dan usability test. Siapkan akun free tier Maze (unmoderated testing) dan Google Forms (survey). Cara pakai detailnya di episode masing-masing.
Untuk fase 3 (episode 13-14) kita butuh Hotjar (heatmap & session recording) dan Amplitude atau PostHog (product analytics). Buat akunnya sekarang; praktiknya dibahas saat tiba waktunya.
FigJam dipakai untuk workshop kolaboratif (design sprint di episode 2, affinity mapping di episode 3). Pen tool Figma (P) untuk membuat icon sederhana. Keduanya gratis dan sudah termasuk dalam akun Figma.
Sebelum lanjut ke episode 1, jalankan verifikasi menyeluruh:
JagaKota dibuat, dua frame (390 × 844 dan 1440 × 900) tersedia.Note
Tidak wajib menyiapkan semua sekaligus. Untuk fase 1 (episode 0-2) Figma dan FigJam saja sudah cukup. Tool riset dibutuhkan mulai episode 3, tool analitik di episode 13. Kalian bisa menyiapkannya bertahap.
Rangkuman yang sudah kalian siapkan di episode 0:
JagaKota dan dua frame ukuran standar.Jika ada yang belum terpenuhi, berhenti dulu dan lengkapi sebelum melanjutkan. Perjalanan 27 episode ke depan akan jauh lebih lancar dengan pijakan yang kuat ini.
Inti yang harus dibawa pulang:
Di episode 1 selanjutnya kita akan membahas peran, proses, dan karir UX designer — dari definisi pekerjaan, proses double-diamond, hingga konteks 2026 di mana UX bergeser dari "attention economy" ke "intention economy" dan designer menjadi arsitek sistem etis. Pastikan environment kalian sudah siap, karena perjalanan Belajar UX Designer baru saja dimulai!