Menguasai teknik riset user dasar — interview, survey, observation, dan persona — lalu mempraktikkannya dengan riset sederhana untuk studi kasus JagaKota mulai dari menyusun interview guide hingga menyintesis temuan menjadi persona.

Setelah di episode 2 kita memahami design thinking dan menjalankan mini design sprint, pada episode ini kita masuk ke jantung pekerjaan UX designer: user research. Tanpa riset, semua keputusan desain hanyalah tebakan yang dibungkus keyakinan.
Mengapa riset penting? Karena asumsi tentang pengguna hampir selalu salah — bukan karena kita bodoh, tapi karena manusia kompleks dan konteks tak terlihat. Riset adalah cara murah untuk memindahkan keputusan dari "menurut saya" ke "berdasarkan data". Episode ini membekali kalian empat teknik dasar: interview, survey, observation, dan persona.
Interview adalah percakapan semi-terstruktur untuk menggali pengalaman dan motivasi. Kuncinya bukan bertanya — tapi mendengar. Aturan penting:
1. Pembuka (2 menit): perkenalan, tujuan, izin rekam.
2. Konteks (5 menit): kegiatan sehari-hari, rute yang sering dilalui.
3. Pengalaman (10 menit): kapan terakhir kali menghadapi masalah
infrastruktur? apa yang dilakukan? ke mana melapor? kenapa?
4. Emosi (5 menit): bagaimana rasanya menunggu tanpa kabar?
5. Penutup (3 menit): hal lain yang ingin disampaikan? terima kasih.Survey menjangkau lebih banyak orang, tapi kedalamannya dangkal. Cocok untuk memvalidasi temuan interview dan mengukur distribusi, bukan untuk menemukan insight baru. Contoh item validasi untuk JagaKota:
Skala 1-5: "Saya percaya laporan infrastruktur akan ditindaklanjuti
jika diajukan lewat saluran resmi pemerintah."
Pilihan ganda: "Ketika menghadapi masalah infrastruktur, saluran apa
yang paling sering Anda gunakan?"
a) Media sosial (Twitter/X, Facebook, grup WA)
b) Saluran resmi (hotline, aplikasi, situs web)
c) Tidak melapor sama sekaliNote
Survey adalah alat kuantitatif; ia menjawab "berapa banyak" dan "berapa sering", bukan "mengapa". Kombinasi ideal: interview menemukan pola, survey mengkonfirmasi seberapa luas pola itu. Episode 13 membahas analitik kuantitatif lebih dalam.
Kadang orang tidak bisa menjelaskan apa yang mereka lakukan — atau malu mengakuinya. Observation menangkap perilaku nyata di konteks asli. Untuk JagaKota, ini berarti duduk di taman kota dan melihat bagaimana orang berinteraksi dengan fasilitas, atau menonton rekaman orang mencoba form lapor. Catat fakta, bukan interpretasi: "menghentikan pengisian form di kolom alamat" lebih berguna daripada "form-nya susah".
Hasil interview dan observasi biasanya kacau — banyak kutipan, catatan, dan pengamatan tercampur. Affinity mapping merapikannya: tulis tiap data di satu sticky note, kelompokkan yang serupa, beri nama tiap kelompok. Pola yang muncul (misal "khawatir laporan tidak ditindaklanjuti") menjadi bahan problem statement di episode 4.
[ Tidak tahu saluran ] [ Tidak percaya proses ] [ Ingin bukti ]
- "lapor ke mana?" - "udah pernah lapor, - "ada nomor
- "nomor hotline?" gak jelas abis" laporannya?"
- "kayak kotak hitam" - "butuh kabar
lanjutan"Setelah riset, sintesis temuan menjadi persona — arketipe semi-fiktif yang mewakili kelompok pengguna nyata. Persona bukan karakter imajiner; ia adalah kompresi data riset. Contoh untuk JagaKota:
Nama: Bu Ratna (34)
Konteks: Ibu dua anak, tinggal di kompleks perumahan, aktif di
grup WA RT/RW, sering melihat lubang jalan di rute antar-jemput anak.
Tujuan: jalanan aman dan layak dilewati anaknya.
Frustrasi: tidak tahu nomor hotline; pernah melapor via medsos,
kasus hilang di tengah ribuan komentar lain.
Kebutuhan: saluran lapor yang jelas, ada bukti laporan diterima,
dan kabar lanjutan tanpa harus mengejar-ngejar petugas.
Harapan: "saya cukup lapor sekali, dan tahu laporan saya diproses."Persona membantu tim berhenti berdebat "menurut saya" dan mulai berkata "Bu Ratna butuh ini". Episode 5 akan menggunakannya sebagai dasar arsitektur informasi.
Untuk praktik episode ini, lakukan riset mini 2-3 jam:
Inti yang harus dibawa pulang:
Di episode 4 selanjutnya kita akan membahas jobs-to-be-done dan problem framing — memahami bahwa orang "menyewa" produk untuk menyelesaikan pekerjaan — plus menyusun problem statement dan success metrics yang terukur untuk JagaKota. Pastikan hasil riset kalian sudah dicatat di notebook insight!