Sebelum menyentuh tools riset, kalian perlu mengasah empati, rasa ingin tahu, berpikir kritis, dan komunikasi, lalu menyiapkan tools riset seperti Maze, Dovetail, spreadsheet, dan analytics yang akan dipakai untuk praktik sepanjang series Belajar UX Researcher

Selamat datang di series Belajar UX Researcher! Series ini akan membawa kalian menguasai UX research — disiplin mengubah pertanyaan bisnis menjadi insight perilaku pengguna yang actionable — dari riset kualitatif & kuantitatif, interview & observasi, usability testing, analisis & sintesis, hingga AI-powered research di 2026. Total ada 28 episode yang tersusun dalam enam fase, dari fondasi konsep sampai production readiness.
Sebelum membuka tools riset, ada skill dasar dan perangkat yang wajib kalian siapkan. Mengapa prasyarat ini penting? Karena UX researcher tidak bekerja seperti peneliti laboratorium — ia bekerja di tengah kekacauan dunia nyata: mengobrol dengan pengguna yang sibuk, mengamati perilaku yang tidak sesuai cerita, dan menavigasi data yang berantakan. Tanpa skill inti ini, tools sehebat apa pun tidak akan menghasilkan insight yang baik.
Episode 0 ini adalah peta jalan kalian: kita akan memastikan skill dasar terpenuhi, menyiapkan perangkat lunak riset, dan memverifikasi environment untuk pertama kali. Studi kasus sepanjang series adalah WarungNaik, platform pemesanan stok grosir untuk pemilik warung — aplikasi ini akan menemani kalian dari research plan hingga presentasi insight.
UX researcher adalah profesi yang dibangun di atas pertanyaan. Rasa ingin tahu yang sehat — bukan sekadar penasaran, melainkan keinginan untuk memahami mengapa orang berperilaku seperti itu — adalah bahan bakar seluruh pekerjaan kalian. Latih dengan kebiasaan sederhana: setiap kali melihat produk yang membuat frustrasi, tanyakan "mengapa saya frustrasi?" dan "apa yang akan membuatnya lebih baik?". Episode 4 dan 5 akan mengubah kebiasaan ini menjadi metode.
Riset bukan sekadar mengumpulkan data — ia menilai kualitas data. Berpikir kritis berarti mencurigai asumsi: apakah responden ini mewakili pengguna kita? Apakah jawaban ini jujur atau hanya ingin menyenangkan? Apakah angka ini benar-benar signifikan atau hanya kebetulan? Latihan kecil: ambil satu artikel statistik, lalu catat tiga hal yang membuat datanya meragukan. Episode 17 akan mengasah sisi statistiknya.
Empati adalah kemampuan memahami dunia dari sudut pandang orang lain — bukan merasa kasihan, melainkan memahami. Saat pemilik warung berkata "aplikasi pesan stok itu ribet", kalian harus bisa melihat dunia di balik kalimat itu: keterbatasan kuota internet, kecepatan melayani pembeli, dan rasa takut dihakimi. Episode 11 akan mengubah empati menjadi persona yang konkret.
Hasil riset sehebat apa pun tidak berguna jika tidak bisa dikomunikasikan. Kalian akan mewawancarai pengguna, berdiskusi dengan desainer dan developer, dan mempresentasikan insight ke stakeholder. Episode 12 membahas ini secara khusus, tapi mulai sekarang biasakan menyampaikan ide secara ringkas dan jelas. Latihan kecil: ceritakan ulang satu artikel yang kalian baca hari ini kepada teman dalam 60 detik — tanpa jeda dan tanpa kehilangan poin penting.
Jujurlah pada diri sendiri — tandai yang sudah kalian kuasai:
Tidak semua perlu dikuasai sekarang — series ini justru melatihnya. Yang penting kalian tahu titik lemah kalian sejak awal, agar bisa fokus mengasahnya di episode yang relevan.
Untuk usability testing unmoderated, siapkan akun Maze (free tier cukup) atau UserTesting. Di episode 7 kita akan membuat test task dan menjalankannya dengan tool ini. Kalian juga butuh alat rekam untuk interview — bisa Zoom, Google Meet, atau Loom.
Dovetail adalah tool untuk menyimpan, menandai, dan menganalisis data riset. Di episode 13 kita membangun research repository; di episode 4-5 kita memakainya untuk menandai transkrip interview. Buat akun free tier sekarang dan buat satu project bernama WarungNaik Research.
# Dovetail, Maze, dan Google Meet adalah aplikasi web — tidak diinstall via terminal.
# Pastikan kalian bisa login dan membuat project baru di masing-masing tool.Spreadsheet adalah workhorse UX researcher: dipakai untuk sampling plan, matrix rekrutmen, tabulasi survey, dan analisis kuantitatif. Google Sheets atau Excel cukup. Buat satu spreadsheet bernama WarungNaik Research dengan tab: Recruiting, Interview Notes, dan Survey Data.
Untuk episode 9 dan 24, siapkan akses ke tools analytics seperti Amplitude, Mixpanel, atau minimal Google Analytics. Free tier sudah cukup — di episode 9 kita akan membaca funnel dan event yang sudah ada.
Riset tidak butuh perangkat mahal. Yang wajib: laptop/PC dengan browser yang stabil, ponsel untuk menghubungi partisipan (WhatsApp sangat umum dipakai di Indonesia), dan headset dengan mikrofon yang layak agar rekaman interview terdengar jelas. Jika kalian merekam sesi, pastikan storage cukup dan rekaman tersimpan otomatis di cloud (perhatikan keamanannya, episode 19).
Note
Tidak wajib menyiapkan semua sekaligus. Untuk fase 1 (episode 0-2) spreadsheet dan Google Meet sudah cukup. Maze baru dibutuhkan di episode 7, Dovetail di episode 4-5, dan analytics di episode 9. Kalian bisa menyiapkannya bertahap.
Sebelum lanjut ke episode 1, jalankan verifikasi menyeluruh:
WarungNaik Research dibuat.WarungNaik Research dengan tab Recruiting, Interview Notes, Survey Data.Rangkuman yang sudah kalian siapkan di episode 0:
Jika ada yang belum terpenuhi, berhenti dulu dan lengkapi sebelum melanjutkan. Perjalanan 27 episode ke depan akan jauh lebih lancar dengan pijakan yang kuat ini.
Inti yang harus dibawa pulang:
Di episode 1 selanjutnya kita akan membahas peran UX researcher dan mengapa ia paling dicari di 2026 — dari fungsi mengumpulkan & menginterpretasi insight, risiko membangun produk di atas asumsi, hingga tantangan riset baru yang lahir dari AI products seperti trust dan transparency. Pastikan environment kalian sudah siap, karena perjalanan Belajar UX Researcher baru saja dimulai!