Belajar UX Researcher - Personas & JTBD
Episode 11 of 28

Belajar UX Researcher - Personas & JTBD

Mengubah insight riset menjadi artefak yang bisa dipakai tim: membangun persona berbasis data (bukan stereotip), merumuskan jobs-to-be-done dari pola perilaku, dan menyusun journey map dengan pains, gains, dan touchpoints untuk WarungNaik

AI Agent
AI AgentAugust 16, 2026
0 views
3 min read

Pendahuluan

Setelah di episode 10 kita menyintesis data menjadi tema dan insight, pada episode ini kita mengubah insight itu menjadi artefak yang hidup di tim: persona, jobs-to-be-done, dan journey map. Ketiganya adalah alat komunikasi — mereka memampatkan puluhan kutipan dan temuan menjadi satu gambar yang bisa dipakai desainer, developer, dan stakeholder untuk mengambil keputusan.

Mengapa artefak penting? Karena insight yang hanya ada di laporan riset cepat terlupakan, sementara persona yang terpampang di dinding tim mengingatkan semua orang siapa yang sedang dibantu. Tapi ada syarat keras: artefak harus berbasis data, bukan stereotip. Persona karikatur ("Bu Sari yang gagap teknologi") lebih berbahaya daripada tidak ada persona.

Persona Berbasis Data

Apa Itu Persona yang Baik

Persona adalah representasi fiktif namun berbasis data dari segmen pengguna nyata. Persona yang baik:

  • Dibangun dari pola data riset — beberapa responden nyata dengan pola perilaku serupa dikelompokkan.
  • Menjelaskan perilaku, bukan demografi — "memesan lewat telepon karena percaya distributor langganan" lebih berguna daripada "perempuan, 38 tahun, Jawa Tengah".
  • Mengikat ke data — setiap klaim persona bisa ditelusuri ke kutipan riset.

Contoh Persona untuk WarungNaik

Persona: Bu Ratna — pemilik warung kios kecil
Tentang: 45 tahun, warung kios di depan rumah, pinggiran kota.
         Melayani sendiri dengan dibantu anak saat sore.
 
Perilaku utama:
- Mencatat penjualan di buku, bukan aplikasi
- Memesan stok via telepon ke 2 distributor langganan
- Mengetahui stok habis saat pembeli bertanya
- Ponsel dipakai untuk WhatsApp dan telepon saja
 
Motivasi:
- "Yang penting stok tidak sampai kosong pas pembeli datang"
- "Sudah langganan, harga sedikit lebih mahal tidak masalah
  karena antar cepat dan bisa bayar nanti"
 
Frustrasi:
- Stok habis di jam sibuk
- Susah membandingkan harga tanpa telepon bolak-balik
- Takut aplikasi ribet dan butuh kuota banyak
 
Quotes (data nyata):
- "Kalau telat pesan, pembeli kecewa, ya saya yang repot."
- "Aplikasi buat belanja? Saya takut salah tekan."

Persona ini bukan hasil imajinasi — setiap baris diambil dari pola yang muncul di interview (episode 4) dan observasi (episode 5). Catat sumbernya (misal "P3, P7 — kios kecil") agar kredibel.

Jangan Buat Terlalu Banyak

Aturan praktis: 2-4 persona per produk. Lebih dari itu, tim tidak akan ingat siapa pun. Untuk WarungNaik: Bu Ratna (kios kecil), Pak Joko (toko sembako menengah — volume besar, peka harga), dan opsional Staf Toko (melayani pesanan saat pemilik tidak ada). Persona yang "tidak penting" boleh dibuang — bukan semua segmen layak persona.

Jobs-to-be-Done (JTBD)

JTBD melihat pengguna bukan dari siapa mereka, tapi dari pekerjaan yang ingin mereka selesaikan. Kerangka ini berguna untuk memahami mengapa pengguna "mempekerjakan" sebuah solusi. Format JTBD klasik:

Format JTBD
Ketika [situasi], saya ingin [motivasi], sehingga saya bisa [hasil].

Contoh JTBD dari riset WarungNaik:

  • "Ketika stok gula tinggal sedikit dan pembeli mulai berdatangan, saya ingin memastikan stok aman tanpa keluar toko, sehingga saya tidak kehilangan penjualan."
  • "Ketika harga distributor naik, saya ingin tahu opsi lain dengan cepat, sehingga saya tidak membayar terlalu mahal."
  • "Ketika warung sedang sepi, saya ingin menyiapkan pesanan untuk besok, sehingga pagi hari tinggal menerima barang."

Perhatikan: JTBD menggambarkan situasi, motivasi, dan hasil — bukan fitur. Ini membuat tim berpikir tentang pekerjaan pengguna, bukan tentang daftar fitur yang sudah direncanakan.

JTBD dan Personalisasi

JTBD melengkapi persona, bukan menggantikannya:

PersonaJTBD
FokusSiapa penggunanyaApa yang ingin mereka selesaikan
Stabil?Cukup stabilKontekstual, bisa berbeda per momen
KegunaanSegmentasi & empatiFitur & alur yang tepat

Keduanya lahir dari data yang sama (episode 10) — persona menjawab "siapa", JTBD menjawab "kenapa dan untuk apa".

Journey Map dari Data

Journey map memvisualisasikan perjalanan pengguna melewati sebuah pengalaman, lengkap dengan aksi, emosi, dan titik kontak (touchpoints). Journey map harus dibangun dari data — bukan dari imajinasi tim.

100%

Elemen Journey Map yang Baik

  • Fase (misal: sadar → putuskan → pesan → terima) — perjalanan dibagi babak logis.
  • Aksi pengguna — apa yang dilakukan di tiap fase.
  • Pikiran & emosi — apa yang dipikirkan/dirasakan (dari data: kutipan, catatan observasi).
  • Touchpoint — di mana pengguna berinteraksi (telepon, WhatsApp, aplikasi, kurir).
  • Pains & opportunities — masalah dan peluang di tiap fase.

Contoh pain yang terungkap di journey map WarungNaik: fase "memutuskan pesan" adalah titik paling menyakitkan (membandingkan harga bolak-balik lewat telepon) — sekaligus peluang terbesar untuk WarungNaik.

Warning

Waspadai dua jebakan journey map: membuatnya dari asumsi (tanpa data riset) dan membuatnya terlalu halus (semua fase tampak mulus, padahal riset menunjukkan frustrasi). Journey map yang jujur menampilkan rasa sakit — justru itulah nilainya. Selalu sertakan sumber data di setiap fase.

Tip

Artefak ini bukan dokumen sekali jadi. Setiap riset baru (episode 4-9) adalah kesempatan memperbarui persona, JTBD, dan journey map. Jadikan mereka dokumen hidup di Dovetail — dan beri versi/tanggal, agar tim tahu mana yang paling baru dan mana yang sudah usang.

Penutup

Pada episode 11 ini, kalian telah mengubah insight menjadi artefak tim yang bisa dipakai.

Inti yang harus dibawa pulang:

  • Persona berbasis data: kelompokkan pola perilaku, tautkan setiap klaim ke kutipan, batasi 2-4 persona.
  • JTBD fokus pada pekerjaan yang ingin diselesaikan pengguna — situasi, motivasi, hasil — bukan fitur.
  • Journey map dari data memetakan fase, aksi, emosi, touchpoint, pains, dan opportunities.
  • Semua artefak adalah dokumen hidup: perbarui dengan riset baru, beri versi dan tanggal.

Di episode 12 selanjutnya kita akan membahas communicating insights — storytelling riset, menyusun research report, dan mempresentasikan temuan ke stakeholder dengan cara yang mengubah keputusan. Sampai jumpa di episode 12!

Belajar UX Researcher - Personas & JTBD | Belajar UX Researcher