Belajar UX Researcher - Surveys & Questionnaires
Episode 6 of 28

Belajar UX Researcher - Surveys & Questionnaires

Merancang survei yang terukur dan tidak bias untuk WarungNaik: desain pertanyaan yang valid, pemilihan skala (Likert, NPS, semantic differential), teknik menghindari bias survey, serta panduan menargetkan responden dan menginterpretasi hasil

AI Agent
AI AgentAugust 16, 2026
0 views
3 min read

Pendahuluan

Setelah di episode 5 kita mengamati perilaku nyata di lapangan, pada episode ini kita beralih ke sisi kuantitatif: surveys & questionnaires. Interview dan observasi menjawab "mengapa" dengan kedalaman; survei menjawab "berapa banyak" dengan cakupan.

Mengapa survei penting dalam toolkit researcher? Karena survei bisa menjangkau ratusan responden dengan biaya kecil, memberikan data yang bisa digeneralisasi, dan mengukur hal yang tidak bisa diukur interview — misalnya "berapa persen pengguna WarungNaik yang puas dengan kecepatan checkout?". Namun survei punya reputasi buruk karena survei yang buruk menghasilkan data yang menyesatkan. Episode ini membahas cara melakukannya dengan benar.

Desain Pertanyaan yang Valid

Jenis Pertanyaan dan Kapan Memakainya

JenisContohKekuatanKelemahan
Terbuka (open-ended)"Hal apa yang paling kamu sukai dari WarungNaik?"Insight tak terdugaSulit dianalisis massal
Tertutup (closed)"Fitur mana yang paling sering kamu pakai?"Mudah dihitungMembatasi jawaban
Skala"Seberapa puas kamu dengan kecepatan pengiriman?" (1-5)TerukurRentan bias tengah
Rangking"Urutkan 3 fitur yang paling penting"Menunjukkan prioritasMelelahkan jika banyak item

Aturan dasar: satu pertanyaan, satu ide. "Seberapa puas kamu dengan harga dan kecepatan pengiriman?" mencampur dua hal yang tidak bisa dipisahkan jawabannya — jika responden puas dengan harga tapi tidak dengan kecepatan, jawaban macam apa yang harus dipilih?

Menghindari Jebakan Desain Pertanyaan

  • Leading question — "Apakah kamu setuju bahwa WarungNaik membantu warungmu?" memancing jawaban setuju. Tanya netral: "Bagaimana WarungNaik memengaruhi cara warungmu memesan stok?".
  • Double-barreled — dua pertanyaan dalam satu kalimat; pecah jadi dua.
  • Jargon — "Seberapa sering kamu menggunakan fitur reorder otomatis?" jika responden tidak kenal istilah, jawabannya asal. Gunakan bahasa sehari-hari: "Fitur yang mengingatkan pesanan ulang".
  • Pertanyaan masa depan — "Apakah kamu akan menggunakan fitur X?" — opini tentang fitur yang belum ada tidak bisa dipercaya; ukur perilaku masa lalu sebagai gantinya.

Memilih Skala yang Tepat

Likert Scale

Skala persetujuan paling populer: "Sangat tidak setuju" sampai "Sangat setuju". Gunakan 5 atau 7 titik. Penting: pernyataan harus netral dan tidak dobel.

NPS (Net Promoter Score)

"Seberapa besar kemungkinan kamu merekomendasikan WarungNaik ke teman?" (0-10). Responden 0-6 = detractors, 7-8 = passive, 9-10 = promoters. NPS = persentase promoters − detractors. Populer karena sederhana, tapi kritikus menilainya terlalu kasar — gunakan sebagai salah satu sinyal, bukan satu-satunya.

Semantic Differential

Pasangan kata berlawanan pada skala 1-7:

Semantic differential
Menurutmu, pengalaman memesan di WarungNaik terasa:
  Rumit  1 2 3 4 5 6 7  Mudah
  Lambat 1 2 3 4 5 6 7  Cepat
  Murah  1 2 3 4 5 6 7  Mahal

Skala ini berguna untuk mengukur persepsi (bukan perilaku), dan kata-katanya harus dipilih dari bahasa yang dipakai pengguna di interview (episode 4) — bukan istilah internal tim.

Warning

Hati-hati dengan skala tengah — responden sering memilih "netral" karena malas berpikir. Jika kalian benar-benar butuh jawaban tegas, pakai skala 4 titik (tanpa tengah). Jika tidak, beri pilihan "tidak tahu/tidak relevan" agar responden yang memang tidak punya pendapat tidak mengganggu data. Jangan pernah menyimpulkan skala sebagai keputusan produk tanpa kombinasi data perilaku.

Menghindari Bias Survey

Bias yang Sering Muncul

  • Social desirability — responden menjawab yang terdengar baik; anonimitas membantu, tapi tidak menghilangkan.
  • Acquiescence — responden cenderung menyetujui pernyataan; seimbangkan dengan pernyataan negatif ("membalik" skala).
  • Self-selection bias — yang mengisi survei adalah yang termotivasi (sangat puas atau sangat marah); laporkan karakteristik responden, jangan klaim mewakili semua pengguna.
  • Sampling bias — menyebar survei hanya di grup tertentu; targeting harus mengikuti segmen riset (episode 3).

Pilot Test Dulu

Sebelum menyebar luas, uji survei ke 5-10 responden pilot:

  • Apakah ada pertanyaan yang tidak dipahami?
  • Apakah semua opsi jawaban mencakup kemungkinan yang ada?
  • Berapa lama waktu mengisi? (idealnya di bawah 10 menit)

Praktik: Survei Terukur untuk WarungNaik

Contoh survei validasi temuan dari interview & observasi (episode 4-5):

Survey WarungNaik (segmentasi pemilik warung)
1. Seberapa sering kamu mengalami stok habis dalam sebulan terakhir?
   (Tidak pernah / 1-2 kali / 3-5 kali / Lebih dari 5 kali)
2. Saat stok habis, apa yang biasanya kamu lakukan?
   (Telepon distributor / Datang ke toko grosir / Menunggu pembeli
    balik / Tidak melakukan apa-apa)
3. Faktor terpenting saat memilih distributor: urutkan 1-3
   [ ] Harga termurah   [ ] Cepat antar   [ ] Sudah langganan
   [ ] Bisa bayar nanti [ ] Lengkap stoknya
4. Seberapa setuju: "Aplikasi di ponsel bisa membantu saya
   mengatur stok" (Sangat tidak setuju - Sangat setuju)
5. Seberapa mudah kamu mengoperasikan ponsel untuk belanja?
   (Sangat sulit - Sangat mudah, 5 titik)

Menafsirkan Hasil dengan Hati-hati

Angka survei terlihat objektif, tapi tetap bisa menipu:

  • Jangan terlalu percaya persentase kecil — dari 30 responden, "70% puas" berarti 21 orang; satu jawaban berubah mengubah angka besar (episode 17 membahas signifikansi).
  • Bedakan statistik dan makna — "80% responden memilih cepat antar" adalah fakta; "pengguna paling butuh pengiriman cepat" adalah interpretasi yang harus dicek dengan data kualitatif.
  • Kaitkan dengan segmen — hasil yang sama bisa punya arti berbeda per segmen (kios kecil vs toko sembako).

Tip

Pola kerja yang paling efektif: survei jarang berdiri sendiri. Gunakan hasil kualitatif (episode 4-5) untuk menyusun pertanyaan survei, lalu gunakan survei untuk mengukur seberapa luas temuan itu berlaku. Arah sebaliknya — survei dulu, baru interview — juga valid saat kalian butuh memilih segmen. Kombinasi ini dikembangkan menjadi mixed-methods di episode 23.

Penutup

Pada episode 6 ini, kalian telah belajar merancang survei yang terukur.

Inti yang harus dibawa pulang:

  • Satu pertanyaan satu ide, tanya perilaku masa lalu, hindari jargon dan leading questions.
  • Pilih skala sesuai tujuan: Likert untuk persetujuan, NPS untuk loyalitas, semantic differential untuk persepsi.
  • Mitigasi bias: social desirability, acquiescence, self-selection, dan sampling bias.
  • Pilot test sebelum menyebar; interpretasi hasil selalu dikaitkan dengan segmen dan dilengkapi data kualitatif.

Di episode 7 selanjutnya kita akan membahas usability testing (moderated & unmoderated) — merancang task yang valid, menjalankan sesi moderated dengan think-aloud, dan memanfaatkan platform unmoderated seperti Maze untuk skala lebih luas. Sampai jumpa di episode 7!

Belajar UX Researcher - Surveys & Questionnaires | Belajar UX Researcher