Menguasai UX kuantitatif untuk WarungNaik: mengukur pengalaman dengan SUS dan SUPR-Q, membaca funnel analytics untuk menemukan titik drop-off, serta memahami dasar A/B testing untuk menguji perubahan desain secara terkontrol

Setelah di episode 8 kita mengikuti perilaku pengguna dari waktu ke waktu, pada episode ini kita masuk ke fondasi kuantitatif: UX metrics & analytics. Data perilaku adalah "mata" yang mengawasi seluruh pengguna WarungNaik setiap detik — dan researcher yang bisa membaca data ini punya keunggulan besar: tahu apa yang terjadi pada ribuan pengguna, bukan hanya pada 6 orang yang diwawancarai.
Namun data analytics punya keterbatasan: ia tahu pengguna berhenti, tapi tidak tahu mengapa. Karena itu posisi UX metrics dalam toolkit adalah pengukur, bukan penjelas — dan pada episode ini kalian belajar memilih metrik yang tepat, membaca funnel, dan mendesain A/B test yang valid.
SUS adalah kuesioner 10 pernyataan yang mengukur persepsi kegunaan secara cepat dan sudah teruji validitasnya. Skor akhir 0-100. Contoh pernyataan (diparafrasekan):
1. Saya akan sering menggunakan aplikasi ini
2. Aplikasi ini tidak perlu serumit ini
3. Aplikasi ini mudah digunakan
4. Saya butuh bantuan teknisi untuk menggunakannya
5. Berbagai fungsi aplikasi terpadu dengan baik
6. Terlalu banyak hal yang tidak konsisten
7. Saya bisa belajar memakainya dengan cepat
8. Aplikasi ini sangat tidak praktis dipakai
9. Saya merasa percaya diri menggunakannya
10. Saya perlu belajar banyak sebelum bisa memakainyaSkoring SUS tidak sekadar rata-rata: pernyataan ganjil dikurang 1, pernyataan genap dihitung 5 dikurang nilai, lalu dijumlah dan dikali 2.5. Skor di atas 68 dianggap di atas rata-rata; di bawah 50 sinyal masalah serius. SUS menawarkan angka yang bisa dibandingkan antar waktu dan antar produk.
SUPR-Q mengukur persepsi kualitas pengalaman dalam 4 dimensi: usability, trust, appearance, loyalty. Ia lebih kaya daripada SUS karena menangkap dimensi kepercayaan — sangat relevan untuk WarungNaik di mana pengguna memutuskan memakai aplikasi untuk urusan uang dan stok.
| Metrik | Dimensi | Cocok untuk |
|---|---|---|
| SUS | Usability (persepsi) | Benchmark cepat |
| SUPR-Q | Usability, trust, appearance, loyalty | Evaluasi menyeluruh + trust |
| Task metrics | Success, time, error | Kemampuan aktual per task |
Kombinasi ideal: SUS/SUPR-Q untuk persepsi + task metrics (episode 7) untuk kemampuan + analytics untuk perilaku. Masing-masing mengukur lapisan berbeda.
Funnel adalah rangkaian langkah yang diharapkan pengguna lalui — misal untuk WarungNaik: buka aplikasi → lihat produk → tambah ke keranjang → checkout → konfirmasi pesanan. Funnel menunjukkan di langkah mana pengguna berhenti.
Langkah Pengguna Drop-off
Buka aplikasi 10.000 —
Lihat halaman produk 6.200 38%
Tambah ke keranjang 3.400 45%
Masuk halaman checkout 1.800 47%
Isi alamat & kirim pesanan 900 50%
Konfirmasi pesanan 540 40%Funnel ini menunjukkan masalah di setiap langkah turun, tapi yang paling mencurigakan: halaman produk (38% hilang) dan keranjang (45% hilang) — dua langkah pertama justru yang paling menurunkan. Angka ini memunculkan pertanyaan riset: mengapa pengguna pergi di langkah ini? Jawabannya butuh metode kualitatif (interview, usability test) atau analisis lebih dalam (session replay, episode 24).
A/B test membandingkan dua versi (A = kontrol, B = varian) pada sekelompok pengguna yang dibagi acak, lalu mengukur mana yang lebih baik pada metrik yang ditetapkan sebelumnya. Contoh WarungNaik: apakah tombol "Pesan Ulang" di beranda (A) meningkatkan checkout dibanding tombol di halaman keranjang (B)?
Pengguna masuk aplikasi
↓
Dibagi acak 50/50
↓
A: tombol di beranda B: tombol di keranjang
↓ ↓
└───── ukur checkout ──┘Warning
Kesalahan paling umum A/B test pemula: menghentikan test terlalu cepat karena melihat perbedaan sebelum signifikan, atau menjalankan test dengan traffic terlalu kecil sehingga hasilnya murni noise. Jika kalian tidak yakin tentang kekuatan statistik, konsultasikan dengan data analyst atau jangan klaim signifikansi — klaim prematur lebih merusak kredibilitas daripada tidak punya klaim.
Tip
Posisi researcher dalam A/B test: bukan sekadar melaporkan "B menang 2%". Researcher yang baik bertanya lebih jauh — mengapa B menang, segmen mana yang merespons, dan apakah kenaikan checkout mengorbankan metrik lain (misal retensi). Gabungkan hasil A/B dengan wawancara singkat atau survey untuk memahami mekanisme di balik angka.
Pada episode 9 ini, kalian telah menguasai quantitative UX dan analytics.
Inti yang harus dibawa pulang:
Di episode 10 selanjutnya kita akan masuk ke jantung analisis kualitatif: synthesis & affinity mapping — mengubah tumpukan catatan interview, observasi, dan survey menjadi tema dan insight yang actionable. Sampai jumpa di episode 10!