Menelusuri perjalanan dari Web1 yang statis, Web2 yang tersentralisasi, hingga konsep Web3 yang dipopulerkan Gavin Wood pada 2014, serta empat alasan inti mengapa Web3 dibutuhkan: ownership, transparansi, trustless, dan interoperability

Setelah di episode 0 kita menyiapkan environment — Node.js, Foundry, MetaMask, dan RPC provider — pada episode ini kita menarik napas sejenak dan memahami mengapa Web3 ada. Sejarah sebuah paradigma mungkin terasa tidak penting, padahal justru di sanalah letak alasan mengapa arsitekturnya seperti sekarang.
Mengapa harus memahami sejarah Web3? Karena Web3 bukan sekadar tren teknologi: ia adalah respons terhadap kelemahan arsitektur Web2 yang kita rasakan setiap hari — data pribadi dikuasai platform, akun bisa dibekukan kapan saja, dan tidak ada cara untuk membuktikan kepemilikan digital. Memahami masalah ini akan menjelaskan semua keputusan desain Web3 yang akan kalian temui di sisa series.
Web1 (sekitar 1991-2004) adalah internet statis: halaman HTML yang hanya bisa dibaca. Server menyimpan file, browser menampilkannya. Pengguna adalah konsumen murni — tidak ada login, tidak ada profil, tidak ada komentar. Kata "web2.0" muncul justru untuk menggambarkan keterbatasan era ini.
Karakteristik Web1:
Web2 (sekitar 2004-sekarang) mengubah internet menjadi interaktif: aplikasi web dinamis, media sosial, e-commerce, dan API. Harga dari interaktivitas ini adalah sentralisasi: data pengguna dikumpulkan di server milik segelintir perusahaan.
| Sisi Baik | Sisi Buruk |
|---|---|
| Interaktif, real-time, mudah dipakai | Data & identitas dimiliki platform |
| Gratis secara finansial | "Gratis" berarti kalian adalah produknya |
| Ekosistem aplikasi besar | Akun bisa dibekukan / ditutup sepihak |
| API kaya untuk developer | Platform bisa mengubah aturan kapan saja |
Inti masalah Web2: kontrol terpusat. Privasi bergantung pada niat baik perusahaan, dan kepemilikan digital (misalnya saldo game atau koleksi digital) tidak bisa dibawa keluar dari platform.
Istilah Web3 dipopulerkan oleh Gavin Wood — salah satu pendiri Ethereum — pada 2014. Visinya: internet di mana user memegang data dan asetnya sendiri, bukan platform. Alih-alih server perusahaan sebagai sumber kebenaran, Web3 memakai blockchain sebagai basis data bersama yang tidak bisa dipalsukan dan tidak dimiliki siapa pun.
Perlu diluruskan: Web3 sering dikacaukan dengan "Web 3.0" (semantic web). Web3 adalah gerakan ekonomi & kepemilikan berbasis blockchain; Semantic Web adalah gagasan lama tentang metadata mesin yang dapat dipahami — dua hal yang berbeda.
Di Web2, "akun" kalian adalah baris di database platform. Di Web3, akun kalian adalah pasangan kunci kriptografi yang hanya kalian pegang. Selama private key aman, tidak ada pihak — termasuk pencipta aplikasi — yang bisa menyita aset kalian.
Semua transaksi di blockchain tercatat permanen dan bisa diverifikasi siapa pun. Kalian bisa memeriksa total supply token, riwayat transfer, atau logika smart contract yang menggerakkan aplikasi. Tidak ada ruang untuk "angka di balik layar".
Trustless bukan berarti "tanpa kepercayaan" dalam arti tidak percaya siapa pun — melainkan tidak perlu mempercayai pihak ketiga tertentu karena aturannya dijalankan oleh kode yang transparan. Smart contract menggantikan peran broker, escrow, dan clearing house.
Satu alamat Ethereum bisa dipakai di ribuan aplikasi: bukti identitas, aset, dan reputasi dibawa pengguna ke mana pun. Di Web2, konten dan pengikut kalian terjebak di satu platform; di Web3, semuanya portable.
| Tahun | Tonggak |
|---|---|
| 1991-2004 | Web1: halaman statis, read-only |
| 2004+ | Web2: aplikasi interaktif tersentralisasi |
| 2008 | Bitcoin whitepaper (Satoshi Nakamoto) — blockchain pertama |
| 2014 | Gavin Wood mempopulerkan istilah "Web3" |
| 2015 | Ethereum live — smart contract & DApp pertama |
| 2017-2021 | Gelombang DeFi, NFT, DAO; Web3 menjadi industri |
| 2024-2026 | Account abstraction produksi, L2 dominan, RWA & AI agents |
Note
Pahami Web3 sebagai spektrum, bukan ajaran mutlak. Banyak aplikasi "web3" tetap memakai server terpusat untuk frontend — yang penting adalah di mana aset & state yang kritis disimpan. Episode 5 akan membahas arsitektur campuran ini secara jujur.
Pada episode 1 ini, kalian telah menelusuri perjalanan dari Web1, Web2, hingga Web3.
Inti yang harus dibawa pulang:
Di episode 2 selanjutnya, kita akan membedah konsep dasar dan arsitektur utama Web3 — lapisan blockchain L1, L2/rollup, DApp (smart contract + frontend), storage terdesentralisasi, indexer, serta komponen seperti wallet, RPC node, EIPs/ERCs, dan bridges. Sampai jumpa di episode 2!