Episode ini membahas Zabbix Proxy untuk distributed monitoring: instalasi dan konfigurasi zabbix_proxy.conf, perbedaan proxy aktif dan pasif, pilihan database SQLite atau MySQL, serta use case branch office, firewall-NAT, dan scaling untuk banyak host remote.

Semua episode sebelumnya memakai satu server Zabbix yang langsung menghubungi host. Arsitektur ini sempurna untuk satu lokasi, tapi mulai rapuh saat host tersebar di branch office, jaringan dengan NAT ketat, atau lintas negara. Episode 10 ini memperkenalkan Zabbix Proxy — komponen yang memungkinkan monitoring terdistribusi tanpa mengorbankan satu titik kendali.
Konsep dari episode 2 tentang proxy kini menjadi konkret. Kalian akan menginstall proxy di lokasi remote, mengonfigurasi zabbix_proxy.conf, memilih antara proxy aktif dan pasif, lalu mengarahkan host untuk mengirim data lewat proxy. Di akhir episode, satu server pusat bisa memonitor host di lokasi mana pun.
Zabbix Proxy adalah proses yang mengumpulkan data atas nama server di lokasi yang jauh. Proxy mengambil alih collection dari host lokalnya, menyimpan data sementara di database sendiri, lalu mengirimnya ke server secara berkala. Ini mengurangi beban jaringan pusat dan mempercepat akses ke host yang sebenarnya berada dekat dengan proxy.
Proxy menjalankan proses yang mirip dengan server: poller, trapper, dan housekeeper. Perbedaan utamanya, proxy tidak mengevaluasi trigger — semua evaluasi tetap di server pusat. Proxy hanyalah penyalur data yang andal di lingkungan yang koneksinya tidak selalu stabil.
Install di mesin yang berada di lokasi remote. Paket proxy tersedia dalam varian database yang berbeda:
wget https://repo.zabbix.com/zabbix/7.0/ubuntu/pool/main/z/zabbix-release/zabbix-release_latest_7.0+ubuntu24.04_all.deb
dpkg -i zabbix-release_latest_7.0+ubuntu24.04_all.deb
apt update
apt install -y zabbix-proxy-sqlite3Paket zabbix-proxy-sqlite3 memakai database lokal SQLite — pilihan paling sederhana untuk lokasi kecil. Untuk proxy yang menangani banyak host, gunakan varian zabbix-proxy-mysql atau zabbix-proxy-pgsql.
File /etc/zabbix/zabbix_proxy.conf menentukan cara proxy berkomunikasi dengan server:
Server=192.168.1.10
Hostname=proxy-branch-jakarta
DBName=zabbix_proxy
DBUser=zabbix
DBPassword=ProxyPasswordParameter Server berisi alamat server pusat yang akan dihubungi proxy, dan Hostname adalah nama unik proxy yang harus cocok dengan nama proxy di frontend. Perintah systemctl restart zabbix-proxy diterapkan setelah setiap perubahan konfigurasi.
Arah koneksi menentukan mode kerja:
Mode diatur lewat parameter ProxyMode di zabbix_proxy.conf. Untuk mayoritas use case branch office, proxy aktif adalah pilihan yang paling mudah di-deploy.
Proxy menyimpan data sementara di database lokal sebelum diteruskan ke server:
Untuk varian MySQL, siapkan database dan user seperti di episode 3, lalu import schema yang ada di paket zabbix-sql-scripts. Jangan pernah mengarahkan proxy ke database server pusat — keduanya harus terpisah.
Proxy didaftarkan di menu Data collection → Proxies dengan nama yang sama persis dengan Hostname di zabbix_proxy.conf. Setelah terdaftar, proxy muncul sebagai opsi saat menambahkan atau mengedit host.
Pada host yang dimonitor lewat proxy, parameter Server dan ServerActive di zabbix_agent2.conf diarahkan ke alamat proxy, bukan server pusat:
Server=10.0.0.5
ServerActive=10.0.0.5
Hostname=host-branch-01Dengan konfigurasi ini, agent hanya berkomunikasi dengan proxy yang berada di jaringan lokalnya. Server pusat tetap mengendalikan semuanya lewat proxy tanpa harus menjangkau host secara langsung.
Pola deployment yang paling sering ditemui di produksi:
Server Pusat ── proxy-branch-jakarta ── host branch (10-50 host)
└─ proxy-dc-surabaya ── host branch (10-50 host)Setiap proxy meringankan beban jaringan dan collection. Jika proxy putus dari server, data tetap dikumpulkan dan disimpan sementara — begitu koneksi pulih, data dikirim otomatis. Ini membuat monitoring tetap berjalan meski jaringan antar lokasi tidak stabil.
Warning
Nama proxy harus unik dan stabil. Mengganti nama proxy di frontend tanpa mengubah konfigurasi host akan membuat data lama tidak lagi tercocok dengan host yang sama.
Episode 10 membuka skala baru: proxy mengumpulkan data di lokasi remote, menyimpannya sementara, dan meneruskannya ke server pusat. Kalian memahami perbedaan proxy aktif dan pasif, pilihan database SQLite atau MySQL, serta pola branch office dan NAT yang paling umum.
Inti yang harus dibawa pulang:
Di episode 11 selanjutnya kita akan membahas auto-registration dan discovery — network discovery untuk menemukan perangkat baru, action auto-registration untuk provisioning host otomatis, serta low-level discovery (LLD) untuk menemukan filesystem, interface, dan disk secara dinamis.