Episode ini memandu instalasi Alpine dari nol menggunakan wizard setup-alpine: keymap, hostname, networking, repository, user admin, SSH, dan pemilihan skema disk sys atau data. Kalian juga belajar setup-disk, setup-xorg-base untuk desktop, serta proses boot dengan GRUB atau Syslinux.

Setelah memahami arsitektur, saatnya menaruh Alpine di perangkat nyata. Episode 3 memandu instalasi lengkap menggunakan setup-alpine — wizard interaktif yang menanyakan konfigurasi sistem satu per satu. Prosesnya jauh lebih cepat daripada distro lain: dari boot ISO sampai sistem siap pakai biasanya kurang dari sepuluh menit.
Kalian akan belajar setiap langkah wizard, memilih skema disk sys atau data, menginstall ke disk permanen, serta menambahkan desktop bila dibutuhkan. Episode ini menjadi dasar seluruh praktik lab di series ini, jadi ikuti dengan teliti.
Boot VM dari ISO Alpine yang diunduh di episode 0. Kalian akan melihat menu boot dengan opsi seperti boot system, diskless, dan RAM. Pilih opsi boot system (atau default), tunggu proses boot, lalu login sebagai root tanpa password.
Verifikasi bahwa kalian berada di lingkungan live Alpine:
cat /etc/alpine-release
lsblkOutput lsblk menampilkan daftar disk. Pada tahap ini belum ada sistem yang terinstall — semuanya berjalan dari RAM.
Jalankan wizard dengan satu perintah:
setup-alpineWizard akan bertanya secara berurutan:
us (atau id bila memakai keyboard Indonesia).alpine-lab.eth0 dan pilih DHCP atau IP statis.Asia/Jakarta.root dan lock root account — direkomendasikan mengunci akses root via SSH.Setelah selesai, reboot dan sistem akan boot dari disk:
rebootIngat opsi setup-alpine ini: di episode 8 kita akan kembali menggunakannya untuk mode diskless dan data.
Saat wizard sampai pada pertanyaan disk, Alpine menawarkan beberapa mode instalasi. Dua yang paling penting:
Untuk lab series ini pilih sys. Jika ditanya which disk do you want to use?, jawab dengan nama disk seperti sda atau vda:
setup-disk -m sys vda
setup-disk -m data sdaPerintah setup-disk -m sys vda menginstall Alpine penuh ke disk vda, sedangkan setup-disk -m data sda hanya menyiapkan partisi data.
Tergantung arsitektur dan disk, Alpine akan memasang GRUB (pada UEFI dan sebagian besar BIOS modern) atau Syslinux (bootloader klasik ringan pada BIOS). Untuk sistem UEFI, pastikan firmware VM diatur ke UEFI agar GRUB terpasang dengan benar.
Bila kalian ingin environment desktop di Alpine, ada dua tool bantu:
setup-xorg-base
setup-desktopsetup-xorg-base menginstall fondasi X.Org.setup-desktop memandu pemilihan desktop environment — Alpine 3.24 menyediakan GNOME 50, KDE Plasma 6.6, dan desktop ringan seperti Xfce.Kalian perlu menambahkan user ke group yang benar sebelum masuk desktop:
adduser -G audio -G video armanSetelah itu install desktop pilihan, misalnya:
apk add xfce4
rc-update add dbus default
rc-update add lightdm defaultPastikan service dbus dan display manager di-enable agar desktop muncul saat boot. Untuk penggunaan server di series ini, kalian bisa melewati bagian desktop.
Setelah reboot, login dengan user admin yang tadi dibuat dan verifikasi instalasi:
cat /etc/alpine-release
uname -a
df -h /
sudo -i
apk upgradeOutput df -h / menampilkan root filesystem yang kini terpasang di disk, bukan lagi di RAM. Jalankan apk upgrade untuk memastikan semua paket di versi terbaru — kebiasaan yang akan kita tekankan di episode 13.
Warning
Jika kalian memilih mengunci akun root saat wizard, semua tugas administrasi dilakukan lewat user admin menggunakan doas — bukan sudo. Topik doas akan dibahas lengkap di episode 6.
Episode 3 memandu instalasi Alpine dari boot ISO hingga sistem siap pakai: menjalankan setup-alpine langkah demi langkah, memilih skema disk sys atau data, memasang bootloader GRUB atau Syslinux, dan menyiapkan desktop bila dibutuhkan.
Inti yang harus dibawa pulang:
Di episode 4 selanjutnya kita akan membahas package management dengan apk — perintah dasar update, add, del, dan upgrade, struktur repository di /etc/apk/repositories, hingga apk search, apk info, dan apk audit beserta perbedaan apk v2 dan v3.