Instalasi Artix memakai basestrap, installer berbasis pacman yang menginstall sistem ke direktori mount. Episode ini membahas partisi, mount, basestrap, fstabgen, chroot, dan pemasangan GRUB sampai sistem pertama kali boot dengan init pilihan.

Setelah memahami arsitektur, saatnya tangan mulai bekerja. Episode 3 memandu kalian menginstall Artix dari ISO live ke disk — proses yang disebut basstrap karena memakai alat basestrap, saudara dari pacstrap milik Arch. Jika kalian pernah menginstall Arch manual, alur ini terasa familier dengan beberapa penyesuaian penting.
Di akhir episode ini, kalian memiliki sistem Artix yang bisa boot dengan init pilihan dan GRUB terpasang. Semua langkah di sini mengikuti Installation Guide di wiki.artixlinux.org, jadi jangan ragu membukanya sebagai referensi pendamping.
Boot dari ISO Artix, lalu jalankan cfdisk untuk mempartisi. Untuk skema UEFI standar, buat dua partisi: EFI System Partition dan partisi root. Contoh layout:
/dev/sda1 /efi FAT32 1 GiB tipe: EFI System
/dev/sda2 / ext4 sisa tipe: Linux filesystemUntuk BIOS legacy, partisi root cukup, tanpa ESP. Kalian juga bisa menyisipkan partisi swap sesuai kebutuhan. Gunakan cfdisk dengan skema label GPT untuk UEFI dan DOS untuk BIOS:
cfdisk /dev/sdaPastikan menandai partisi pertama dengan tipe EFI System agar firmware mengenalinya. Setelah partisi dibuat, format filesystem-nya:
mkfs.fat -F 32 /dev/sda1
mkfs.ext4 /dev/sda2Sekarang mount root dan EFI ke direktori yang benar. Urutan mount penting karena /efi berada di dalam /:
mount /dev/sda2 /mnt
mount --mkdir /dev/sda1 /mnt/efimount --mkdir membuat folder target secara otomatis jika belum ada. Untuk sistem dengan partisi terpisah seperti /home, mount juga partisi tersebut setelah root.
Instalasi dasar memakai basestrap, yang mengambil paket dari repo base dan menulisnya ke /mnt. Tambahkan init pilihan dan meta package-nya:
basestrap /mnt base base-devel openrc elogind linux linux-firmwareGanti openrc dengan runit, s6, atau dinit sesuai pilihan kalian. Meta package base menarik pull seluruh sistem dasar, sedangkan base-devel menyediakan toolchain build yang dibutuhkan untuk AUR nanti.
Setelah instalasi selesai, buat file /etc/fstab dengan fstabgen agar mount otomatis saat boot:
fstabgen -U /mnt >> /mnt/etc/fstabOpsi -U memakai UUID sehingga identifikasi partisi tahan terhadap perubahan urutan disk. Verifikasi hasilnya dengan membaca file yang baru dibuat:
cat /mnt/etc/fstabApabila baris root dan efi tampil dengan benar, lanjut ke chroot. Kesalahan paling umum di sini adalah lupa menambah baris ke fstab sehingga sistem tidak menemukan root saat reboot.
Gunakan artix-chroot untuk masuk ke lingkungan sistem baru. Dari sini, semua perintah dikerjakan seolah-olah di dalam sistem tersebut:
artix-chroot /mntDi dalam chroot, atur zona waktu, lokal, dan nama host:
ln -sf /usr/share/zoneinfo/Asia/Jakarta /etc/localtime
hwclock --systohc
echo "LANG=en_US.UTF-8" > /etc/locale.confJangan lupa aktifkan locale yang diinginkan di /etc/locale.gen, lalu jalankan locale-gen. Buat juga user dan password untuk akses normal sehari-hari.
Agar jaringan aktif setelah reboot, daftarkan service jaringan di init yang dipakai. Untuk OpenRC:
rc-update add NetworkManager defaultUntuk init lain, ikuti konvensi masing-masing. Kita akan membahas detail user, group, dan jaringan lebih dalam di episode 7.
Dari dalam chroot, install paket GRUB lalu pasang ke disk. Untuk UEFI:
pacman -S grub efibootmgr
grub-install --target=x86_64-efi --efi-directory=/efi --bootloader-id=GRUB
grub-mkconfig -o /boot/grub/grub.cfgUntuk BIOS legacy, gunakan grub-install --target=i386-pc /dev/sda tanpa opsi EFI. Pastikan paket intel-ucode atau amd-ucode terinstall agar microcode terbaru termuat saat boot.
Paket linux sudah menyertakan initramfs yang dibangun otomatis saat instalasi. Kalau kernel berubah, regenerasi initramfs dilakukan dengan mkinitcpio. Pastikan mkinitcpio.conf memakai hooks yang sesuai, terutama jika memakai enkripsi disk seperti yang dibahas di episode 10.
Sebelum keluar dari chroot, pastikan semua langkah selesai: password root, user baru di grup wheel, bootloader terpasang, dan service jaringan aktif. Kemudian unmount dan reboot:
exit
umount -R /mnt
rebootPastikan media ISO dilepas agar sistem boot dari disk. Saat pertama kali boot, perhatikan baris perintah init di layar: untuk OpenRC, akan muncul service yang dijalankan runlevel demi runlevel.
Sesampainya di sistem baru, konfirmasi identitas sistem dan init yang berjalan:
cat /etc/os-release
ps -p 1 -o comm=
pacman -SyuOutput cat /etc/os-release menampilkan ID=artix dan ID_LIKE=arch. Jalankan pacman -Syu untuk memastikan sistem sudah ter-update penuh sebelum dipakai.
Urutan lengkap instalasi yang barusan kalian lakukan:
cfdisk, format dengan mkfs./mnt.basestrap /mnt base base-devel openrc elogind linux linux-firmware.fstabgen -U /mnt >> /mnt/etc/fstab.artix-chroot /mnt untuk konfigurasi zona waktu, locale, dan user.grub-mkconfig.pacman -Syu.Jika ada langkah yang gagal, Installation Guide di wiki Artix adalah referensi pertama yang harus dibuka.
Episode 3 membawa kalian dari ISO kosong menuju sistem Artix yang bisa boot: partisi, mount, basestrap, fstabgen, chroot, konfigurasi dasar, dan GRUB — semuanya diwarnai oleh pilihan init yang kalian tetapkan sejak awal.
Inti yang harus dibawa pulang:
basestrap menggantikan pacstrap; artix-chroot menggantikan arch-chroot.fstabgen -U memakai UUID untuk identifikasi partisi yang stabil.ps -p 1 -o comm= dan pacman -Syu setelah boot.Di episode 4 selanjutnya kita akan membahas package management dengan pacman secara mendalam: pacman -Syu, -S, -R, -Q, -F, konfigurasi /etc/pacman.conf, mirrorlist, dan manajemen kunci PGP.