Artix memadukan kernel dan userland Arch dengan lapisan init non-systemd sebagai PID 1. Episode ini membedah arsitekturnya: komponen pengganti systemd, peran repositori base, world, galaxy, serta alur boot dari init sampai login manager.

Episode 2 mengajak kalian melihat mesin Artix dari atas: bagaimana kernel, userland, dan init system tersusun menjadi satu kesatuan. Kalian akan memahami bahwa Artix bukan sekadar Arch yang "dipotong" systemd-nya, melainkan Arch yang ditata ulang dengan komponen pengganti yang matang.
Kunci untuk membaca series ini ada di arsitektur. Kalau kalian mengerti bagian mana yang dipakai systemd di Arch dan apa penggantinya di Artix, maka perintah-perintah service di episode 5 sampai 7 akan terasa logis. Mari kita bedah lapis demi lapis.
Bagian paling dalam Artix persis seperti Arch: kernel Linux dengan build standard Arch, toolchain glibc, dan package manager pacman. Model rolling release juga diwariskan sepenuhnya, sehingga kalian menikmati update berkelanjutan dari paket-paket terbaru.
Karena userland-nya sama, aplikasi yang berjalan di Arch hampir selalu bisa berjalan di Artix. Perbedaannya hanya di lapisan bawah: sistem init, device manager, dan session manager. Inilah mengapa migrasi Arch ke Artix relatif mulus, seperti yang dibahas di episode 18.
Di Arch, proses nomor 1 adalah systemd. Di Artix, PID 1 adalah init yang kalian pilih saat instalasi:
OpenRC -> /sbin/openrc-init
runit -> /sbin/runit
s6 -> /sbin/s6-svscan
dinit -> /sbin/dinitInit inilah yang menjadi orang tua semua proses. Saat sistem mati, init memastikan service dihentikan dalam urutan yang benar; saat crash, init yang menangani. Pilihan init memengaruhi cara kalian menulis service setiap hari, jadi kenali baik-baik.
systemd bukan hanya init; ia juga menyediakan udev untuk mengelola perangkat. Di Artix, peran ini diambil eudev, implementasi udev yang berdiri sendiri tanpa bergantung pada systemd. Ketika kalian menyambungkan USB atau menambah disk, eudev-lah yang membuat node perangkat di /dev.
Cek bahwa eudev berjalan:
ps aux | grep eudev | grep -v grep
ls /dev/disk/by-id/Apabila daemon eudev aktif, perintah ls /dev/disk/by-id/ akan menampilkan symlink disk yang dikenali. Jika tidak ada output, ada masalah pada device manager yang harus segera diperbaiki.
systemd-logind mengelola sesi login, power management, dan hak akses untuk audio serta perangkat. Artix menggantinya dengan elogind — bagian dari logind yang di-port berdiri sendiri. Berkat elogind, aplikasi seperti pengaturan volume dan suspend bekerja normal tanpa systemd.
Kelas pengguna seperti seat dan video tetap ada, sehingga pengalaman desktop tidak berbeda jauh dengan Arch. Di episode 8 kita akan memanfaatkan ini saat mengatur hak akses untuk X server dan Wayland.
Banyak aplikasi desktop bergantung pada D-Bus untuk komunikasi antar-proses. Artix menyediakan D-Bus seperti biasa, dijalankan lewat service init pilihan. Tidak ada perubahan perilaku dari sudut pandang aplikasi — hanya cara service dijalankan yang berbeda.
Polanya konsisten: Artix memakai komponen-komponen GNU/Linux standar, lalu mengikatnya dengan init system. Tidak ada lagi "satu daemon untuk semuanya" seperti systemd; setiap peran dipegang alat khusus yang bisa diganti.
Repositori Artix disusun menggantikan repositori Arch:
[base]
Include = /etc/pacman.d/mirrorlist
[world]
Include = /etc/pacman.d/mirrorlist
[galaxy]
Include = /etc/pacman.d/mirrorlistbase menggantikan core, world menggantikan extra, dan galaxy menggantikan community. Semua paket di dalamnya di-build tanpa systemd dan menyertakan service untuk keempat init. Konfigurasi lengkap repositori kalian ada di /etc/pacman.conf.
Saat menginstall paket layanan seperti nginx, kalian akan melihat pilihan subpaket service:
pacman -Ss nginx-openrc
pacman -Ss nginx-runit
pacman -Ss nginx-s6
pacman -Ss nginx-dinitInstal subpaket yang sesuai dengan init kalian. Misalnya untuk OpenRC: sudo pacman -S nginx nginx-openrc. Subpaket inilah yang menyediakan script init dan konfigurasi service, sehingga kalian tidak menulis dari nol.
Untuk aplikasi yang tidak ada di repo resmi, kalian tetap bisa memakai AUR melalui yay atau paru. Yang membedakan Artix adalah tambahan AURIS, repository init-script yang menyediakan service resmi untuk aplikasi AUR populer. Keduanya dibahas mendalam di episode 15.
Memahami alur boot membantu troubleshooting. Prosesnya kurang lebih sebagai berikut: firmware memuat bootloader GRUB, GRUB memuat kernel dan initramfs, kernel menjalankan PID 1 sesuai init pilihan, init menjalankan script/servis boot, lalu masuk ke runlevel default yang menyalakan jaringan, display manager, dan layanan lain.
Cek service yang berjalan saat boot dengan perintah init masing-masing:
rc-status # OpenRC
sv status /etc/runit/runsvdir/* # runit
s6-rc -l list # s6
dinitctl list # dinitOutput rc-status untuk OpenRC menampilkan service di setiap runlevel beserta statusnya. Untuk init lain, gunakan perintah yang sesuai barisnya. Pola yang sama berlaku di seluruh series: perintah mengikuti init.
Untuk membuktikan semua lapisan bekerja, jalankan tiga pemeriksaan singkat:
ps -p 1 -o comm= pid= comm=
ls /run/dbus/system_bus_socket
loginctl show-session $(loginctl) 2>/dev/null | head -n 3Baris pertama menunjukkan PID 1, baris kedua membuktikan D-Bus aktif, dan baris ketiga menunjukkan elogind mengelola sesi. Kalau ketiganya sehat, arsitektur dasar Artix kalian berfungsi seperti yang diharapkan.
Peta arsitektur ini akan kalian pakai terus: episode 5 mendalami OpenRC sebagai init, episode 6 membandingkan runit, s6, dan dinit, episode 7 membahas user dan jaringan, dan episode 18 menjelaskan migrasi dari systemd. Simpan gambaran besar ini di kepala kalian.
Episode 2 memetakan arsitektur Artix: kernel dan userland Arch dengan init pilihan sebagai PID 1, eudev sebagai device manager, elogind sebagai session manager, D-Bus untuk komunikasi, dan repositori base, world, galaxy yang bebas systemd.
Inti yang harus dibawa pulang:
base, world, galaxy menggantikan core, extra, community.Di episode 3 selanjutnya kita akan praktik langsung: instalasi dan setup Artix dengan basestrap, partisi disk, mount, fstab, chroot, dan pemasangan GRUB hingga sistem pertama kali boot.