Sebelum menyentuh Ceph, kalian perlu memahami konsep storage block, file, dan object, serta dasar distributed systems dan fault tolerance. Di episode ini kalian menyiapkan environment Linux, bootstrap cluster pertama dengan cephadm, dan memverifikasi health cluster.

Selamat datang di series Belajar Ceph! Series ini akan membawa kalian menguasai Ceph — software-defined, open-source distributed storage yang menyediakan block, file, dan object storage dalam satu cluster — dari fondasi konsep sampai production readiness. Total ada 23 episode yang tersusun dari enam fase.
Tapi sebelum menyentuh ceph dan cephadm, ada beberapa skill dasar dan perangkat lunak yang wajib kalian miliki. Mengapa prasyarat ini penting? Karena Ceph bukan sekadar aplikasi yang diinstall lalu selesai. Ceph adalah sistem terdistribusi di mana data dipecah, direplikasi, dan ditempatkan ke banyak node berdasarkan algoritma CRUSH. Kalau kalian belum paham konsep storage block, file, dan object, atau belum familiar dengan administrasi Linux, semua operasi akan terasa seperti kotak hitam.
Episode 0 ini adalah peta jalan kalian: kita akan memastikan skill dasar, menyiapkan perangkat lunak dan hardware, lalu bootstrap cluster Ceph pertama dengan cephadm dan memverifikasi kesehatannya. Setelah episode ini selesai, seluruh series bisa diikuti dengan nyaman.
Ceph menyediakan tiga tipe storage sekaligus, jadi kalian wajib paham perbedaannya sejak awal:
Semua operasi Ceph berjalan di atas Linux. Kalian wajib nyaman dengan command line, manajemen disk, dan networking:
uname -a
cat /etc/os-release
free -h
df -hPastikan sistem kalian berbasis Red Hat (RHEL, Rocky, AlmaLinux) atau Debian (Ubuntu). Keduanya didukung penuh oleh Ceph.
Ceph dibangun di atas prinsip distributed systems. Beberapa konsep yang harus kalian pahami:
Untuk lab, kalian bisa menjalankan multi-node Ceph di atas VM atau container. Pastikan kalian paham:
Ceph 18 (Reef) dan Ceph 19 (Squid) adalah release yang direkomendasikan per penulisan series ini. Tool utama untuk deployment modern adalah cephadm, yang menjalankan setiap daemon Ceph sebagai container:
curl -fsSL https://download.ceph.com/rpm-19.2.0/el9/x86_64/cephadm -o /usr/sbin/cephadm
chmod +x /usr/sbin/cephadm
cephadm versionJika kalian memakai Ubuntu, ganti rpm-19.2.0/el9/x86_64 dengan deb-squid/. Verifikasi bahwa cephadm version menampilkan versi yang kalian unduh.
Siapkan tool berikut sejak awal karena akan dipakai di banyak episode:
Untuk produksi, Ceph merekomendasikan minimal 3 node cluster. Ini bukan saran sembarangan: quorum MON dan penempatan replika CRUSH membutuhkan minimal tiga lokasi yang independen.
RAM : 8 GB atau lebih
CPU : 4 core atau lebih
Disk : 1 disk untuk OS + 1 disk atau lebih untuk OSD
Network: 1 Gbps minimum, 10 Gbps direkomendasikanUntuk lab, kalian cukup membuat tiga VM yang memenuhi spesifikasi di atas. Perhatikan bahwa disk untuk OSD sebaiknya terpisah dari disk OS, karena OSD menyimpan DB/WAL yang sensitif terhadap I/O.
Pisahkan konsep public network (dipakai client) dan cluster network (dipakai antar daemon). Jika hanya punya satu NIC, Ceph tetap bisa berjalan, tapi performa backfill dan recovery akan berbagi bandwidth dengan trafik client.
Bootstrap dijalankan di node pertama dan otomatis membuat MON pertama, MGR pertama, dan menyalin keyring ke /etc/ceph:
cephadm bootstrap --mon-ip 192.168.100.10Ganti 192.168.100.10 dengan IP node pertama. Di akhir proses, terminal menampilkan URL dashboard, username, dan password default admin/random yang dicetak ke konsol.
Pastikan SSH dari node pertama ke semua node berjalan tanpa password, lalu tambahkan host dan deploy OSD:
ceph orch host add node2 --ssh-user <user>
ceph orch host add node3 --ssh-user <user>
ceph orch apply osd --all-available-devicesPerintah ceph orch apply osd --all-available-devices akan memformat semua disk yang tersedia dan belum terpakai di setiap node menjadi OSD. Pastikan kalian tidak menjalankannya di mesin yang disk-nya masih dipakai data penting.
Setelah semua node dan OSD terpasang, verifikasi cluster:
ceph status
ceph health detail
ceph orch psceph status menampilkan ringkasan: versi, mon/mgr/osd yang aktif, dan status PG. Idealnya ceph health menunjukkan HEALTH_OK. Jika muncul HEALTH_WARN di episode awal, itu normal — misalnya karena OSD belum seluruhnya up atau ada PG incomplete saat masih menyetel cluster.
Jalankan juga verifikasi read/write sederhana lewat dashboard untuk memastikan cluster benar-benar bisa dipakai. Jika semua indikator hijau, environment kalian sudah siap untuk fase berikutnya.
Di episode 0 ini kalian sudah menyiapkan pijakan untuk seluruh series: memahami perbedaan storage block, file, dan object, dasar distributed systems dan fault tolerance, menyiapkan cephadm, bootstrap cluster pertama, menambahkan host dan OSD, serta memverifikasi health cluster.
Inti yang harus dibawa pulang:
ceph status dan ceph health detail.Di episode 1 selanjutnya kita akan membahas sejarah, latar belakang, dan mengapa memilih Ceph — dari kelahirannya di tahun 2006 oleh Sage Weil, desain RADOS yang ingin menghapus single point of failure, hingga posisinya sebagai fondasi storage di cloud-native dan OpenStack. Pastikan cluster kalian sudah siap, karena perjalanan Belajar Ceph baru saja dimulai!