Ceph lahir pada tahun 2006 dari tesis Sage Weil dan berkembang menjadi standard de facto distributed storage. Episode ini mengulas evolusi Ceph, keunggulan unified storage dan scalability, perbandingan dengan SAN/NAS dan GlusterFS, serta use case di cloud block storage, file system, object storage, dan database backend.

Selamat datang di episode pertama series Belajar Ceph! Sebelum membangun cluster, penting untuk memahami dari mana Ceph berasal dan mengapa ia diadopsi oleh begitu banyak infrastruktur besar. Episode ini akan membahas sejarah Ceph, latar belakang masalah yang ingin diselesaikannya, dan alasan-alasan konkret mengapa kalian harus memilih Ceph dibandingkan solusi storage lain.
Ceph bukanlah produk yang lahir dalam semalam. Ia dimulai sebagai proyek riset akademis dan berevolusi menjadi salah satu platform storage open-source paling berpengaruh di dunia. Memahami sejarah ini membantu kalian memahami keputusan arsitektural yang akan kita temui di episode-episode berikutnya, seperti mengapa Ceph membangun semuanya di atas RADOS.
Di akhir episode ini kalian akan punya argumen yang jelas tentang kapan, mengapa, dan bagaimana Ceph sebaiknya digunakan — sebuah fondasi mental yang penting sebelum masuk ke instalasi teknis di episode 3.
Ceph dimulai pada tahun 2006 sebagai proyek riset oleh Sage Weil saat menempuh studi doktoral di University of California, Santa Cruz. Desain intinya — sistem storage terdistribusi yang sepenuhnya decentral dan menghapus single point of failure — dituangkan dalam paper "Ceph: A Scalable, High-Performance Distributed File System".
Pada tahun 2010, Sage Weil mendirikan Inktank untuk mengkomersialkan Ceph, dan pada tahun 2014 Inktank diakuisisi oleh Red Hat. Sejak saat itu Ceph berkembang pesat dengan dukungan komunitas dan vendor yang besar, menjadi bagian dari ekosistem OpenStack dan Kubernetes.
Awalnya Ceph hanya menawarkan file system terdistribusi (CephFS). Seiring waktu, muncul tiga interface utama yang membuat Ceph dikenal sebagai unified storage:
Filosofi utamanya: satu cluster, tiga interface. Data selalu disimpan di RADOS, sementara layer di atasnya menyesuaikan cara aksesnya.
Kelebihan pertama Ceph adalah kemampuan menyajikan block, file, dan object storage dari cluster yang sama. Bayangkan satu kumpulan node yang melayani disk VM, shared filesystem, dan bucket S3 sekaligus. Ini menyederhanakan operasional karena kalian mengelola satu sistem, bukan tiga produk berbeda.
Dari perspektif kapasitas, kapasitas pool-pool berbeda bisa saling berbagi storage pool fisik yang sama, sehingga pemanfaatan disk lebih efisien dibandingkan silo-silo storage terpisah.
Ceph dirancang untuk scale out secara horizontal: tambah node, tambah kapasitas, tanpa downtime. Data ditempatkan secara otomatis oleh algoritma CRUSH tanpa memerlukan central index — setiap client bisa menghitung lokasi data sendiri.
Arsitektur ini menghilangkan single point of failure pada level controller. MON, MGR, OSD semuanya dirancang untuk redundansi; kegagalan satu node tidak mematikan cluster selama quorum tetap terjaga.
Ceph adalah perangkat lunak open source dengan lisensi yang longgar dan dikelola komunitas besar. Ini berarti:
SAN dan NAS memakai controller sentral yang menangani semua I/O. Model ini mudah dikelola tetapi rawan bottleneck dan single point of failure pada controller, serta sulit scale out melebihi kapasitas controller. Ceph menawarkan alternatif scale-out dengan arsitektur decentral.
GlusterFS juga merupakan distributed file system open source, tetapi fokus utamanya hanya pada file storage. Ia tidak menyediakan block dan object storage secara terpadu seperti Ceph, dan model data placement-nya berbasis volume yang lebih sederhana dibandingkan CRUSH.
OpenStack Swift adalah object storage yang solid, tetapi tidak menyatukan block dan file dalam satu sistem. MinIO sangat populer untuk deployment S3 yang ringan, tetapi tidak menawarkan RADOS sebagai fondasi bersama untuk tiga interface sekaligus.
fitur Ceph GlusterFS SAN/NAS
block ya tidak ya
file ya ya ya
object S3 ya tidak terbatas
scale out horizontal horizontal terbatasCeph RBD menjadi pilihan umum untuk disk VM di OpenStack dan Kubernetes, serta backend storage untuk database karena mendukung snapshot, clone, dan thin provisioning. Kinerja RBD cukup untuk workload block I/O yang menuntut latensi rendah.
CephFS dipakai untuk shared storage pada aplikasi yang membutuhkan POSIX semantics, misalnya home directories, CI build caches, dan aplikasi yang tidak bisa memakai object storage. Dengan active-active MDS, throughput metadata bisa diskalakan.
RGW memberikan object storage dengan API S3 yang kompatibel, cocok untuk backup, data lake, media, dan arsip. Fitur lifecycle, versioning, dan multi-site membuatnya layak untuk deployment global.
ceph osd pool create demo 32
ceph osd pool lsceph osd pool create demo 32 membuat pool bernama demo dengan 32 placement groups — sintaks ini akan kita bedah lengkap di episode 4.
Di episode ini kalian sudah memahami perjalanan Ceph dari proyek akademis menjadi platform unified storage, keunggulan utamanya dibandingkan SAN/NAS, GlusterFS, dan Swift, serta use case yang menjadi alasan adopsinya di dunia nyata.
Inti yang harus dibawa pulang:
Di episode 2 selanjutnya kita akan masuk ke konsep dasar dan arsitektur Ceph — membedah komponen inti MON, OSD, MDS, MGR, RGW, dan RADOS sebagai fondasi semua layanan, plus cara kerja CRUSH map, pool, placement groups, dan replikasi. Pahami episode 2 dengan baik, karena seluruh series ini berdiri di atasnya!