Episode ini menelusuri lahirnya Devuan sebagai fork Debian pada 2014 setelah debat systemd yang memecah komunitas, filosofi init freedom, serta jajaran rilis dari Jessie, Beowulf, Chimaera, Daedalus, sampai Excalibur. Kalian juga belajar mengapa sysvinit dan eudev dipilih.

Setiap teknologi punya cerita kelahiran, dan Devuan lahir dari salah satu momen paling kontroversial dalam sejarah distro Linux modern. Episode 1 ini mengajak kalian memahami mengapa Devuan ada — bukan sekadar apa itu Devuan. Kalian akan menelusuri debat systemd di Debian, filosofi init freedom, dan jajaran rilis yang membawa Devuan sampai ke era 6.0.
Memahami latar belakang ini penting karena semua keputusan arsitektur di episode selanjutnya — sysvinit sebagai PID 1, eudev sebagai device manager, elogind untuk session — adalah jawaban langsung atas debat tersebut. Tanpa konteks sejarah, kalian akan melihat banyak pilihan Devuan sebagai hal yang rumit padahal semuanya bermuara pada satu prinsip.
Di akhir episode ini, kalian akan bisa menjelaskan kepada orang lain mengapa Devuan ada, apa misinya, dan mengapa pilihan ini tetap relevan bahkan sepuluh tahun setelah fork dimulai.
Pada tahun 2014, keputusan Debian menjadikan systemd sebagai init system default memicu perdebatan panjang di komunitas. Sebagian pengembang menilai systemd melanggar filosofi Unix — banyak fungsi yang seharusnya menjadi tool terpisah justru digabung dalam satu daemon besar yang memegang PID 1. Sebagian lagi menilai systemd adalah arah modern yang tepat.
Debat ini bukan sekadar soal teknis; ia menyentuh tata kelola proyek, kompatibilitas dengan sysvinit, dan siapa yang berhak menentukan arah distro. Ketika konsensus tidak tercapai, kelompok yang menolak systemd mengambil langkah berani: membentuk proyek baru.
Keluarlah para mantan pengembang Debian yang membentuk Devuan sebagai fork Debian dengan misi yang tegas: Debian tanpa systemd. Prinsip utamanya adalah init freedom — hak pengguna memilih init system yang mereka yakini — dan filosofi Unix sederhana, di mana tiap komponen mengerjakan satu tugas dengan baik.
Devuan merilis versi stabil mengikuti basis Debian. Setiap nama besar dalam sejarahnya:
Perhatikan bahwa versi 2.0 "ASCII" pernah ada di antara Jessie dan Beowulf, tetapi yang kalian perlu ingat adalah pola: setiap rilis Devuan dibangun di atas rilis Debian yang sudah matang, sehingga pengalaman apt dan ekosistem paket tetap terjaga.
Verifikasi rilis yang sedang kalian pakai dengan:
cat /etc/os-release
grep PRETTY_NAME /etc/os-releaseKeluaran cat /etc/os-release menampilkan PRETTY_NAME="Devuan GNU/Linux 6 (excalibur)" pada sistem berbasis Excalibur. Informasi ini menjadi patokan apakah repositori dan contoh kalian masih relevan.
Keunggulan terbesar Devuan adalah kompatibilitas penuh dengan paket Debian. Karena hampir seluruh repositori diambil dari Debian, kalian tetap bisa memakai apt, dpkg, dan ekosistem ribuan paket Debian. Yang diganti hanyalah lapisan init: sysvinit sebagai default, dengan OpenRC dan runit sebagai alternatif, plus eudev — fork dari udev yang berjalan tanpa systemd.
Bagi organisasi yang sudah lama memakai init klasik atau menolak vendor lock-in, Devuan menawarkan jalan tengah: ekosistem Debian yang stabil dengan kebebasan memilih init. Kalian tidak perlu belajar ulang apt, dpkg, atau struktur filesystem — semuanya sama dengan Debian.
Devuan sangat relevan bagi beberapa kelompok: server lama yang berjalan di hardware terbatas, pengguna yang ingin memahami setiap komponen sistem tanpa misteri, operator yang butuh proses boot yang dapat diprediksi dan deterministik, serta pendukung prinsip perangkat lunak bebas yang menginginkan kontrol penuh atas init.
Jika kalian merasa systemd terlalu "memutuskan" banyak hal untuk kalian — dari manajemen service sampai log — Devuan memberi kalian kendali kembali. Sebaliknya, jika kalian menikmati kemudahan systemd, Devuan mungkin terasa lebih banyak pekerjaan manual, dan itu adalah pilihan yang sah pula.
Pada praktiknya, banyak pengguna Devuan datang dari latar belakang server: mereka menghargai boot yang cepat karena minim, log yang bisa dibaca sebagai file teks biasa, dan tidak adanya proses tersembunyi yang berjalan tanpa sepengetahuan mereka. Sifat inilah yang membuat Devuan populer di kalangan operator yang membenci kejutan.
Di luar itu, prinsip free software juga menjadi pendorong: dengan init yang benar-benar di bawah kendali komunitas, tidak ada perusahaan tunggal yang mendikte arah pengembangan sistem operasi. Devuan menjaga kemandirian ini lewat struktur proyek yang didanai dan dikelola komunitas — bukan vendor.
Cara termudah membuktikan prinsip ini adalah memeriksa PID 1 dan daftar paket:
ps -p 1 -o comm=
apt list --installed | grep -i systemd || echo "tidak ada paket systemd"Jika keluaran ps -p 1 -o comm= menampilkan init atau openrc-init alih-alih systemd, berarti sistem kalian memang berjalan dengan init alternatif. Perintah kedua seharusnya tidak menemukan paket systemd sama sekali — dan ini bukan kebetulan, melainkan hasil kerja keras para pengembang Devuan.
Prinsip init freedom menegaskan bahwa pengguna berhak memilih bagaimana sistem mereka diboot dan dikelola. Devuan mewajibkan semua paket inti berjalan di atas init alternatif, dan menolak ketergantungan tersembunyi pada systemd. Hasilnya adalah sistem yang lebih transparan: setiap service adalah script shell sederhana di /etc/init.d/ yang bisa dibaca dan diedit langsung.
Ini juga mengapa Devuan menjaga eudev — device manager yang fungsinya setara systemd-udev tetapi tidak bergantung pada systemd — dan menyediakan elogind sebagai lapisan session opsional untuk desktop. Kita akan membedah arsitektur ini secara utuh di episode 2.
Penting untuk dicatat apa yang justru tidak berubah di Devuan: sistem paket apt/dpkg, repositori, struktur direktori, kernel Linux, dan mayoritas tooling Debian tetap identik. Inilah yang membuat Devuan terasa akrab bagi pengguna Debian dan memudahkan migrasi — topik yang akan kita bahas di episode 18.
Ada anggapan bahwa Devuan hanya Debian minus systemd. Kenyataannya lebih dari itu: Devuan memelihara eudev, menyusun init scripts alternatif untuk ribuan paket, menyediakan installer dengan pilihan init, dan menjaga repositorinya sendiri di deb.devuan.org. Menghapus systemd dari Debian yang sudah terinstall bisa memicu ketidakstabilan — itulah sebabnya episode 18 menjelaskan proses migrasi yang benar.
Karena memakai sysvinit yang usianya puluhan tahun, sebagian orang menyangka Devuan ketinggalan zaman. Faktanya, Devuan Excalibur dibangun di atas Debian Trixie dengan kernel 6.12, GNOME 48, dan Python 3.13 — teknologi terkini. Yang "lama" hanyalah filosofi desainnya: komponen kecil yang transparan, bukan teknologi usang. Kernel, paket, dan repositori Devuan selalu mengikuti perkembangan Debian secara berkala.
Episode 1 menjelaskan bahwa Devuan lahir dari debat systemd di Debian pada 2014 sebagai fork yang mempertahankan init freedom dan filosofi Unix sederhana. Kalian juga mengenal jajaran rilis Devuan dari Jessie hingga Excalibur serta alasan memilih Devuan: kompatibilitas penuh paket Debian dengan kebebasan penuh atas init.
Inti yang harus dibawa pulang:
Di episode 2 selanjutnya kita akan membahas konsep dasar dan arsitektur utama Devuan — bagaimana kernel dan paket Debian tetap dipakai sementara lapisan init diganti, peran sysvinit, OpenRC, runit, eudev, dan elogind, serta struktur repositori Devuan yang dipakai apt setiap hari.