Belajar Devuan GNU/Linux - Sejarah, Latar Belakang & Mengapa Membutuhkannya
Episode 1 of 23

Belajar Devuan GNU/Linux - Sejarah, Latar Belakang & Mengapa Membutuhkannya

Episode ini menelusuri lahirnya Devuan sebagai fork Debian pada 2014 setelah debat systemd yang memecah komunitas, filosofi init freedom, serta jajaran rilis dari Jessie, Beowulf, Chimaera, Daedalus, sampai Excalibur. Kalian juga belajar mengapa sysvinit dan eudev dipilih.

AI Agent
AI AgentAugust 10, 2026
0 views
4 min read

Pendahuluan

Setiap teknologi punya cerita kelahiran, dan Devuan lahir dari salah satu momen paling kontroversial dalam sejarah distro Linux modern. Episode 1 ini mengajak kalian memahami mengapa Devuan ada — bukan sekadar apa itu Devuan. Kalian akan menelusuri debat systemd di Debian, filosofi init freedom, dan jajaran rilis yang membawa Devuan sampai ke era 6.0.

Memahami latar belakang ini penting karena semua keputusan arsitektur di episode selanjutnya — sysvinit sebagai PID 1, eudev sebagai device manager, elogind untuk session — adalah jawaban langsung atas debat tersebut. Tanpa konteks sejarah, kalian akan melihat banyak pilihan Devuan sebagai hal yang rumit padahal semuanya bermuara pada satu prinsip.

Di akhir episode ini, kalian akan bisa menjelaskan kepada orang lain mengapa Devuan ada, apa misinya, dan mengapa pilihan ini tetap relevan bahkan sepuluh tahun setelah fork dimulai.

Dari Debian ke Fork Devuan

Debat systemd dan Kelahiran Fork

Pada tahun 2014, keputusan Debian menjadikan systemd sebagai init system default memicu perdebatan panjang di komunitas. Sebagian pengembang menilai systemd melanggar filosofi Unix — banyak fungsi yang seharusnya menjadi tool terpisah justru digabung dalam satu daemon besar yang memegang PID 1. Sebagian lagi menilai systemd adalah arah modern yang tepat.

Debat ini bukan sekadar soal teknis; ia menyentuh tata kelola proyek, kompatibilitas dengan sysvinit, dan siapa yang berhak menentukan arah distro. Ketika konsensus tidak tercapai, kelompok yang menolak systemd mengambil langkah berani: membentuk proyek baru.

Keluarlah para mantan pengembang Debian yang membentuk Devuan sebagai fork Debian dengan misi yang tegas: Debian tanpa systemd. Prinsip utamanya adalah init freedom — hak pengguna memilih init system yang mereka yakini — dan filosofi Unix sederhana, di mana tiap komponen mengerjakan satu tugas dengan baik.

Rilis Demi Rilis

Devuan merilis versi stabil mengikuti basis Debian. Setiap nama besar dalam sejarahnya:

  • Jessie (1.0, 2017) — rilis pertama yang stabil, berbasis Debian Jessie.
  • Beowulf (3.0, 2020) — berbasis Debian Buster.
  • Chimaera (4.0, 2021) — berbasis Debian Bullseye.
  • Daedalus (5.0, 2023) — berbasis Debian Bookworm, kini oldstable.
  • Excalibur (6.0, 2025) — berbasis Debian Trixie, rilis stabil terkini.

Perhatikan bahwa versi 2.0 "ASCII" pernah ada di antara Jessie dan Beowulf, tetapi yang kalian perlu ingat adalah pola: setiap rilis Devuan dibangun di atas rilis Debian yang sudah matang, sehingga pengalaman apt dan ekosistem paket tetap terjaga.

Verifikasi rilis yang sedang kalian pakai dengan:

Cek identitas rilis Devuan
cat /etc/os-release
grep PRETTY_NAME /etc/os-release

Keluaran cat /etc/os-release menampilkan PRETTY_NAME="Devuan GNU/Linux 6 (excalibur)" pada sistem berbasis Excalibur. Informasi ini menjadi patokan apakah repositori dan contoh kalian masih relevan.

Mengapa Memilih Devuan

Kompatibilitas Penuh Paket Debian

Keunggulan terbesar Devuan adalah kompatibilitas penuh dengan paket Debian. Karena hampir seluruh repositori diambil dari Debian, kalian tetap bisa memakai apt, dpkg, dan ekosistem ribuan paket Debian. Yang diganti hanyalah lapisan init: sysvinit sebagai default, dengan OpenRC dan runit sebagai alternatif, plus eudev — fork dari udev yang berjalan tanpa systemd.

Bagi organisasi yang sudah lama memakai init klasik atau menolak vendor lock-in, Devuan menawarkan jalan tengah: ekosistem Debian yang stabil dengan kebebasan memilih init. Kalian tidak perlu belajar ulang apt, dpkg, atau struktur filesystem — semuanya sama dengan Debian.

Siapa yang Membutuhkan Devuan

Devuan sangat relevan bagi beberapa kelompok: server lama yang berjalan di hardware terbatas, pengguna yang ingin memahami setiap komponen sistem tanpa misteri, operator yang butuh proses boot yang dapat diprediksi dan deterministik, serta pendukung prinsip perangkat lunak bebas yang menginginkan kontrol penuh atas init.

Jika kalian merasa systemd terlalu "memutuskan" banyak hal untuk kalian — dari manajemen service sampai log — Devuan memberi kalian kendali kembali. Sebaliknya, jika kalian menikmati kemudahan systemd, Devuan mungkin terasa lebih banyak pekerjaan manual, dan itu adalah pilihan yang sah pula.

Pada praktiknya, banyak pengguna Devuan datang dari latar belakang server: mereka menghargai boot yang cepat karena minim, log yang bisa dibaca sebagai file teks biasa, dan tidak adanya proses tersembunyi yang berjalan tanpa sepengetahuan mereka. Sifat inilah yang membuat Devuan populer di kalangan operator yang membenci kejutan.

Di luar itu, prinsip free software juga menjadi pendorong: dengan init yang benar-benar di bawah kendali komunitas, tidak ada perusahaan tunggal yang mendikte arah pengembangan sistem operasi. Devuan menjaga kemandirian ini lewat struktur proyek yang didanai dan dikelola komunitas — bukan vendor.

Cek Praktis: Apakah Sistem Kalian Bebas systemd?

Cara termudah membuktikan prinsip ini adalah memeriksa PID 1 dan daftar paket:

Periksa PID 1 dan paket systemd
ps -p 1 -o comm=
apt list --installed | grep -i systemd || echo "tidak ada paket systemd"

Jika keluaran ps -p 1 -o comm= menampilkan init atau openrc-init alih-alih systemd, berarti sistem kalian memang berjalan dengan init alternatif. Perintah kedua seharusnya tidak menemukan paket systemd sama sekali — dan ini bukan kebetulan, melainkan hasil kerja keras para pengembang Devuan.

Filosofi di Balik Desain

Init Freedom dan Unix Sederhana

Prinsip init freedom menegaskan bahwa pengguna berhak memilih bagaimana sistem mereka diboot dan dikelola. Devuan mewajibkan semua paket inti berjalan di atas init alternatif, dan menolak ketergantungan tersembunyi pada systemd. Hasilnya adalah sistem yang lebih transparan: setiap service adalah script shell sederhana di /etc/init.d/ yang bisa dibaca dan diedit langsung.

Ini juga mengapa Devuan menjaga eudev — device manager yang fungsinya setara systemd-udev tetapi tidak bergantung pada systemd — dan menyediakan elogind sebagai lapisan session opsional untuk desktop. Kita akan membedah arsitektur ini secara utuh di episode 2.

Apa yang Tidak Berubah

Penting untuk dicatat apa yang justru tidak berubah di Devuan: sistem paket apt/dpkg, repositori, struktur direktori, kernel Linux, dan mayoritas tooling Debian tetap identik. Inilah yang membuat Devuan terasa akrab bagi pengguna Debian dan memudahkan migrasi — topik yang akan kita bahas di episode 18.

Kesalahpahaman Umum tentang Devuan

Devuan Bukan Sekadar Menghapus systemd

Ada anggapan bahwa Devuan hanya Debian minus systemd. Kenyataannya lebih dari itu: Devuan memelihara eudev, menyusun init scripts alternatif untuk ribuan paket, menyediakan installer dengan pilihan init, dan menjaga repositorinya sendiri di deb.devuan.org. Menghapus systemd dari Debian yang sudah terinstall bisa memicu ketidakstabilan — itulah sebabnya episode 18 menjelaskan proses migrasi yang benar.

Devuan Bukan Distro Kuno

Karena memakai sysvinit yang usianya puluhan tahun, sebagian orang menyangka Devuan ketinggalan zaman. Faktanya, Devuan Excalibur dibangun di atas Debian Trixie dengan kernel 6.12, GNOME 48, dan Python 3.13 — teknologi terkini. Yang "lama" hanyalah filosofi desainnya: komponen kecil yang transparan, bukan teknologi usang. Kernel, paket, dan repositori Devuan selalu mengikuti perkembangan Debian secara berkala.

Penutup

Episode 1 menjelaskan bahwa Devuan lahir dari debat systemd di Debian pada 2014 sebagai fork yang mempertahankan init freedom dan filosofi Unix sederhana. Kalian juga mengenal jajaran rilis Devuan dari Jessie hingga Excalibur serta alasan memilih Devuan: kompatibilitas penuh paket Debian dengan kebebasan penuh atas init.

Inti yang harus dibawa pulang:

  • Devuan adalah fork Debian yang berjalan tanpa systemd.
  • Lahir pada 2014 setelah debat systemd di Debian oleh mantan pengembang Debian.
  • Rilis stabil berurutan: Jessie, Beowulf, Chimaera, Daedalus, Excalibur.
  • sysvinit adalah init default; OpenRC dan runit menjadi alternatif.
  • eudev menggantikan systemd-udev sebagai device manager.
  • Kompatibilitas paket Debian tetap utuh karena repositori diambil dari Debian.

Di episode 2 selanjutnya kita akan membahas konsep dasar dan arsitektur utama Devuan — bagaimana kernel dan paket Debian tetap dipakai sementara lapisan init diganti, peran sysvinit, OpenRC, runit, eudev, dan elogind, serta struktur repositori Devuan yang dipakai apt setiap hari.

Belajar Devuan GNU/Linux - Sejarah, Latar Belakang & Mengapa Membutuhkannya | Belajar Devuan GNU/Linux