Episode ini membahas performance dan tuning di Devuan: menyetel kernel dengan sysctl, memilih I/O scheduler, mempercepat boot dengan init minimal, serta memantau sistem dengan htop, sysstat, psacct, dan dmesg.

Sistem yang sehat bukan hanya yang berjalan — tapi yang berjalan efisien. Episode 20 membahas performance dan tuning di Devuan: menyetel kernel dengan sysctl, memilih I/O scheduler yang sesuai, mempercepat boot dengan init minimal, serta memantau kesehatan sistem dengan htop, sysstat, psacct, dan dmesg.
Kabar baiknya, sistem non-systemd punya keunggulan tersembunyi: boot yang sederhana biasanya lebih cepat dan lebih mudah diukur. Kalian bisa melihat setiap langkah boot tanpa unit systemd yang menyembunyikan prosesnya.
sysctl mengatur parameter kernel saat berjalan. Mulai dari memeriksa nilai saat ini:
sysctl vm.swappiness
sysctl net.ipv4.tcp_congestion_controlsysctl vm.swappiness menampilkan kecenderungan kernel memakai swap — nilai default Debian adalah 60. Untuk server yang punya banyak RAM, nilai lebih rendah (misalnya 10) mengurangi penulisan swap yang tidak perlu.
Ubah nilai sementara lalu buat permanen lewat file konfigurasi:
sudo sysctl -w vm.swappiness=10
echo "vm.swappiness=10" | sudo tee /etc/sysctl.d/99-tuning.conf
sudo sysctl --systemsudo sysctl -w vm.swappiness=10 menerapkan langsung; baris kedua menyimpannya. sysctl --system memuat ulang semua file konfigurasi — cara menerapkan perubahan tanpa reboot.
Beberapa parameter yang sering disetel di server Devuan:
vm.dirty_ratio = 20
vm.dirty_background_ratio = 5
net.core.somaxconn = 1024
fs.file-max = 65535Parameter vm.dirty_ratio dan vm.dirty_background_ratio mengendalikan kapan kernel menulis data kotor ke disk, sedangkan net.core.somaxconn dan fs.file-max menaikkan batas koneksi dan file untuk workload tinggi.
I/O scheduler menentukan urutan penulisan dan pembacaan disk. Kernel modern memakai scheduler per-device:
cat /sys/block/sda/queue/scheduler
echo none | sudo tee /sys/block/sda/queue/schedulercat /sys/block/sda/queue/scheduler menampilkan scheduler yang tersedia dan aktif dalam kurung siku. Untuk SSD, none (atau mq-deadline di kernel lama) biasanya terbaik; untuk HDD klasik, bfq atau mq-deadline lebih responsif.
Agar pilihan bertahan dari reboot, setel lewat parameter kernel GRUB:
sudo sed -i 's/^GRUB_CMDLINE_LINUX=.*/GRUB_CMDLINE_LINUX="elevator=none"/' /etc/default/grub
sudo update-grubupdate-grub membangun ulang menu GRUB. Setelah reboot, kernel memakai parameter elevator=none untuk semua disk.
Semakin sedikit service yang diaktifkan, semakin cepat boot. Audit service yang ikut boot di runlevel 2:
ls /etc/rc2.d/
service --status-all | grep "\[ + \]"ls /etc/rc2.d/ menampilkan symlink service aktif. Nonaktifkan service yang tidak dibutuhkan:
sudo update-rc.d bluetooth disable
sudo update-rc.d cups disableupdate-rc.d bluetooth disable mencegah bluetooth ikut boot. Di server, hapus service grafis dan audio dari runlevel default untuk boot paling cepat.
Ukur durasi boot untuk membandingkan sebelum dan sesudah tuning:
systemd-analyze 2>/dev/null || time (echo "boot selesai")
date -d @$(awk '{print $1}' /proc/uptime) -u +%T/proc/uptime menampilkan waktu sejak boot dalam detik — cara sederhana mengukur durasi boot. Catat nilainya sebelum dan sesudah perubahan untuk melihat efek tuning.
sysstat menyediakan sar untuk riwayat performa; psacct mencatat penggunaan resource per proses:
sudo apt install sysstat htop psacct btop
sudo service sysstat startsudo service sysstat start mengaktifkan pengumpulan data sar berkala. Aktifkan juga psacct agar aktivitas pengguna tercatat.
Pantau sistem secara real-time dan historis:
htop
sar -u 1 5
dmesg | grep -iE "error|warn" | tailhtop menampilkan proses dan penggunaan CPU/RAM interaktif. sar -u 1 5 mengambil lima sampel penggunaan CPU tiap detik. Untuk diagnostik hardware, dmesg | grep -iE "error|warn" menampilkan masalah terakhir yang dilaporkan kernel.
Episode 20 membahas performance dan tuning di Devuan: menyetel parameter kernel dengan sysctl, memilih I/O scheduler per device, mempercepat boot dengan init minimal, serta memantau sistem dengan htop, sysstat, psacct, dan dmesg.
Inti yang harus dibawa pulang:
Di episode 21 selanjutnya kita akan membahas roadmap dan community — arahan rilis Excalibur point release dan suite testing, peran ceres, pengembangan installer dan init tooling, serta sumber komunitas Devuan seperti forum, mailing list, dan IRC.