Episode ini membahas virtualisasi dan container di Devuan: menjalankan QEMU/libvirt dengan virt-manager dan KVM, mengelola kontainer dengan LXC, serta memakai Docker dan Podman dalam mode non-systemd dan rootless.

Devuan bukan hanya desktop — ia juga merupakan platform server yang tangguh untuk virtualisasi dan container. Episode 19 membahas empat teknologi: QEMU/libvirt dengan virt-manager, KVM untuk akselerasi hardware, LXC untuk kontainer sistem, serta Docker dan Podman dalam mode non-systemd dan rootless.
Poin penting yang sering menakutkan pengguna baru: banyak tool container dan VM di dunia modern mengasumsikan systemd. Di Devuan, semuanya berjalan sebagai service init biasa, dan Podman bahkan mendesain mode rootless tanpa daemon sama sekali — sejalan dengan filosofi Devuan.
libvirt adalah API yang mengelola hypervisor; virt-manager adalah GUI-nya; KVM adalah akselerasi kernel:
sudo apt update
sudo apt install qemu-kvm libvirt-daemon-system virt-manager
sudo service libvirtd start
sudo service libvirtd statussudo service libvirtd start menyalakan daemon libvirt. Tambahkan user kalian ke group yang mengelola VM:
sudo usermod -aG libvirt budi
sudo usermod -aG kvm budiSetelah login ulang, virsh list --all akan berfungsi dan virt-manager bisa dipakai lewat GUI.
Dari virt-manager, buat VM baru, pilih ISO Devuan (episode 0), dan alokasikan CPU, RAM, serta disk. Atau buat dari CLI:
virt-install --name devuan-test --memory 2048 --vcpus 2 \
--disk size=20 --cdrom /tmp/devuan.iso --os-variant debian12virt-install --name devuan-test membuat VM bernama devuan-test dengan 2 GB RAM dan disk 20 GB. Verifikasi dengan virsh list --all dan virsh start devuan-test.
LXC menyediakan kontainer yang menyerupai sistem penuh dengan init sendiri — sangat cocok untuk Devuan di dalam Devuan:
sudo apt install lxc
sudo lxc-create -n lab -t download -- -d debian -r trixie -a amd64
sudo lxc-start -n lab
sudo lxc-attach -n labsudo lxc-create -n lab -t download mengunduh template dan membuat kontainer. Setelah lxc-start, lxc-attach memindahkan kalian ke dalam kontainer — tempat kalian bisa menginstal apa pun tanpa memengaruhi host.
Perintah dasar pengelolaan LXC:
sudo lxc-ls --fancy
sudo lxc-stop -n lab
sudo lxc-destroy -n labsudo lxc-ls --fancy menampilkan daftar kontainer dengan status dan IP-nya. Gunakan lxc-stop untuk mematikan dan lxc-destroy untuk menghapus secara permanen.
Docker di Devuan berjalan sebagai service init biasa. Meskipun daemon Docker lazim dikelola systemd, paket Devuan menyediakan init scripts:
sudo apt install docker.io
sudo service docker start
sudo service docker status
docker run --rm hello-worldsudo service docker start menyalakan daemon docker. Uji instalasi dengan docker run hello-world — keluaran sukses menandakan daemon dan runtime bekerja.
Podman adalah alternatif Docker yang berjalan tanpa daemon sentral dan mendukung rootless — container berjalan di namespace user kalian:
sudo apt install podman
podman info
podman run --rm hello-worldpodman info menampilkan konfigurasi runtime. Karena tidak ada daemon, Podman berjalan langsung sebagai user biasa — keamanan dan kesederhanaannya selaras dengan filosofi Devuan. Untuk kebanyakan workload container baru, Podman adalah rekomendasi utama di Devuan.
Sintaks Podman dirancang kompatibel dengan Docker:
alias docker=podman
podman volume create data
podman run -v data:/app -d nginxpodman volume create data membuat volume; perintah podman run menerima flag yang sama dengan docker. Banyak organisasi memakai Podman sebagai pengganti drop-in.
Episode 19 membahas virtualisasi dan container di Devuan: QEMU/libvirt dengan virt-manager dan KVM untuk VM, LXC untuk kontainer sistem, serta Docker dan Podman sebagai opsi container — dengan Podman rootless sebagai rekomendasi untuk sistem non-systemd.
Inti yang harus dibawa pulang:
Di episode 20 selanjutnya kita akan membahas performance dan tuning — menyetel kernel dengan sysctl, memilih I/O scheduler, mempercepat boot dengan init minimal, serta memantau sistem dengan htop, sysstat, psacct, dan dmesg.