Menyelam domain pertama dan paling fundamental: membangun capability map bertingkat L1-L3, membaca value stream sebagai bahasa komunikasi dengan bisnis, dan mengambil keputusan operating model ala Ross-Weill-Robertson yang menentukan arah integrasi ketiga lini PT Bumi Niaga

Setelah di episode 3 kalian memetakan empat domain arsitektur dan melihat arah dependensinya — bisnis menentukan data, aplikasi, dan teknologi — saatnya menyelam ke domain paling atas: business architecture. Ini titik nol seluruh analisis EA; tanpa jawaban atas pertanyaan "bisnis apa yang kita jalankan dan bagaimana kita ingin beroperasi", keputusan aplikasi dan teknologi tidak punya dasar penilaian yang objektif.
Mengapa episode ini krusial? Karena mayoritas landscape TI yang berantakan tidak lahir dari teknologi yang salah, melainkan dari keputusan business architecture yang tidak pernah diambil secara eksplisit. Tiga definisi "pelanggan" yang kalian temukan di Bumi Niaga bukan bug database — itu gejala pertanyaan yang belum terjawab: apakah grup ini ingin beroperasi secara terpadu atau otonom. Alat untuk menjawabnya kita bangun hari ini.
Kapabilitas adalah kemampuan organisasi melakukan sesuatu yang bernilai — misalnya "Pricing", "Order Management", "Fraud Detection". Tiga sifat yang membuat kapabilitas menjadi satuan ideal komunikasi EA:
Uji cepat penamaan yang baik: frasa nomina, bisa dilengkapi kata "kemampuan untuk", dan tidak mengandung nama teknologi. "Manajemen Stok" lolos; "Sistem WMS" gagal.
Capability map disusun bertingkat. Kunci kedalaman: cukup sedalam keputusan yang perlu dibuat, tidak lebih.
| Level | Jumlah Tipikal | Contoh Bumi Niaga |
|---|---|---|
| L1 Domain kapabilitas | 7-12 | Merchandising, Order Management, Fulfillment, Customer Management, Finance, Risk & Compliance |
| L2 Kapabilitas | 20-40 | Pricing, Assortment Planning, Order Capture, Warehouse Operations, KYC Onboarding |
| L3 Sub-kapabilitas | hanya area strategis | di bawah Pricing: Discount Rules, Markdown Optimization |
Aturan praktis yang saya pakai: seluruh grup dipetakan L1-L2 penuh, lalu L3 hanya untuk area yang sedang jadi subjek keputusan besar. Untuk program unifikasi data Bumi Niaga, L3 dibuka di Customer Management saja — bukan di seluruh peta. Peta yang seragam dalam-nya adalah pemborosan.
L1 Customer Management
├── L2 Customer Profile # profil pelanggan lintas lini
│ ├── L3 Identity Resolution # menyatukan identitas antar sistem <-- fokus program
│ └── L3 Preference Management
├── L2 Loyalty & Engagement # poin, promo personal
└── L2 Consent Management # persetujuan penggunaan data (regulasi!)Perhatikan baris terakhir: consent management sering luput karena terdengar legal, padahal ia kapabilitas bisnis yang menentukan desain platform data — kita akan menyentuhnya lagi di episode 5 dan 19.
Tip
Batasi waktu pembangunan capability map L1-L2 maksimal dua minggu dengan workshop bersama kepala divisi. Peta yang 80% benar tapi sudah dipakai mendiskusikan investasi jauh lebih bernilai daripada peta sempurna yang terus direvisi di ruang kosong.
Jika capability map menjawab apa yang bisa dilakukan organisasi, value stream menjawab bagaimana nilai tercipta bagi peluang stakeholder — rangkaian tahapan end-to-end dari perspektif pelanggan, bukan departemen. Bedanya dengan proses bisnis: value stream berpusat pada stakeholder dan tingkatannya tinggi (5-8 tahap), proses berpusat pada aktivitas operasional dan detail.
Value stream BelanjaKu untuk perjalanan belanja online:
Nilai analisisnya muncul saat tiap tahap dipotong silang dengan dua hal: momen friksi pelanggan dan kapabilitas yang menopangnya.
| Tahap | Friksi Nyata | Kapabilitas Penopang | Status |
|---|---|---|---|
| Discover | Rekomendasi generik | Personalization | Gap |
| Select | Katalog beda web vs app | Catalog Management | Parsial |
| Purchase | Bayar ulang saat checkout | Payment Processing | Baik |
| Receive | Tracking terpisah kurir mitra | Delivery Tracking | Gap |
| Post-purchase | Retur lewat telepon | Returns Management | Gap |
Satu tabel semacam ini sudah cukup untuk rapat investasi: gap "Delivery Tracking" menjelaskan mengapa KirimKu butuh event tracking terpadu — argumen yang jauh lebih kuat daripada "teknologi lama". Teknik ini bernama value stream mapping tingkat EA, dan ia jembatan wajib antara bahasa bisnis dan backlog teknologi.
Operating model (kerangka Ross, Weill, dan Robertson dari MIT CISR) adalah keputusan tentang dua sumbu: seberapa jauh proses distandardisasi dan seberapa jauh data diintegrasikan lintas unit bisnis. Persilangannya menghasilkan empat pola:
| Pola | Standardisasi Proses | Integrasi Data | Profil Grup yang Cocok |
|---|---|---|---|
| Diversification | Rendah | Rendah | Konglomerat murni, unit saling tak berkaitan |
| Replication | Tinggi | Rendah | Waralaba, unit serupa namun mandiri datanya |
| Coordination | Rendah | Tinggi | Lini berbeda yang berbagi pelanggan/supplier |
| Unification | Tinggi | Tinggi | Perusahaan tunggal, satu cara kerja |
Keputusan ini mahal karena ia menentukan segalanya di hilirnya: apakah identitas pelanggan harus satu (integrasi data tinggi), apakah ketiga lini harus pakai CRM yang sama (standardisasi tinggi), dan seberapa besar mandat tim EA pusat. Salah membaca pola berarti dua-duanya: investasi integrasi yang sia-sia untuk grup diversification, atau silo yang menyakitkan untuk grup coordination.
Untuk PT Bumi Niaga, analisisnya begini: ketiga lini berbagi pelanggan yang sama (orang yang belanja di BelanjaKu membayar dengan BayarKu dan dikirim KirimKu), tetapi karakter operasionalnya sangat berbeda — ritel musiman, logistik berbasis rute, fintech teregulasi. Standardisasi proses penuh akan membunuh kekhasan tiap lini, tetapi tanpa integrasi data, potensi cross-sell dan satu pandangan pelanggan mustahil. Jawabannya: Coordination — proses otonom per lini, data inti terpadu.
Keputusan seperti ini dicatat sebagai ADR tingkat enterprise:
# ADR-EA-001: Operating Model PT Bumi Niaga
Status : Accepted (2026-08)
Konteks : 3 lini berbagi pelanggan, karakter operasional berbeda,
40 aplikasi duplikatif, 3 definisi pelanggan
Keputusan: COORDINATION - proses otonom per lini,
data pelanggan & produk terpadu di tingkat grup
Implikasi:
- MDM pelanggan wajib ada (episode 5)
- CRM boleh berbeda per lini, API kontrak wajib seragam (episode 12)
- Mandat EA: standar data & integrasi; proses bisnis milik lini
Review : ulangi analisis saat akuisisi baru (episode 23)Kerjakan di ea-lab/case-study/business/:
Simpan baik-baik. ADR-001 ini akan dirujuk hampir setiap episode ke depan — mulai dari episode berikutnya, saat keputusan "data pelanggan terpadu" kita turunkan menjadi rancangan data architecture konkret.
Inti yang harus dibawa pulang:
Di episode 5 selanjutnya kita masuk domain data: merancang enterprise data model, menyelesaikan tiga definisi "pelanggan" lewat master data management, menyusun data governance, dan memilih bentuk data platform yang menopang keputusan Coordination tadi. Sampai jumpa di episode 5!