Merancang domain data tingkat enterprise: menyusun enterprise data model, menyelesaikan tiga definisi pelanggan lewat master data management, membangun data governance yang hidup, dan memilih bentuk data platform yang menopang keputusan operating model Coordination

Setelah di episode 4 kalian membangun capability map, value stream, dan mengambil keputusan operating model Coordination untuk Bumi Niaga — proses otonom, data inti terpadu — kini saatnya menurunkan keputusan itu ke domain pertama yang terdampak: data and information architecture.
Ingat temuan episode 3: tabel customer milik BelanjaKu, user wallet milik BayarKu, dan nama penerima paket di KirimKu adalah tiga definisi "pelanggan" yang tidak saling bicara. Di bawah pola Coordination, ini tidak bisa dibiarkan — cross-sell, loyalty lintas lini, dan satu pandangan risiko nasabah semuanya mati di hambatan ini. Episode ini membahas empat alat EA untuk domain data: enterprise data model, master data management, data governance, dan data platform.
Enterprise data model (EDM) adalah peta entitas informasi penting organisasi beserta relasinya — pada tingkat konseptual, bukan skema tabel. Fokusnya pada pertanyaan bisnis: entitas apa yang bernilai, siapa yang memilikinya, dan bagaimana definisinya disepakati.
Struktur EDM yang saya rekomendasikan berlapis:
Untuk Bumi Niaga, entitas paling kontroversial adalah Pelanggan. Latihan EDM memaksakan pertanyaan yang tak pernah ditanyakan: apakah "user wallet BayarKu" itu pelanggan yang sama dengan "customer BelanjaKu"? Jawaban bisnisnya ya — orang yang sama — maka model konseptual menetapkan satu entitas Pelanggan dengan banyak role: shopper, pengirim paket, pemilik wallet. Definisi tunggal, banyak peran. Itulah pekerjaan arsitektur data yang sesungguhnya: kesepakatan makna, bukan diagram ERD raksasa.
Master data adalah data referensi inti yang dipakai banyak sistem — pelanggan, produk, supplier, lokasi. MDM (Master Data Management) adalah kombinasi teknologi dan proses untuk memastikan semua sistem memakai satu versi kebenarannya.
Empat gaya arsitektur MDM, dari ringan ke berat:
| Gaya | Cara Kerja | Kapan Dipilih |
|---|---|---|
| Registry | Indeks golden record, data tetap di sistem sumber | Cepat, risiko rendah, mulai perbaikan mutu |
| Consolidation | Sistem sumber dikumpulkan ke satu store untuk analitik | Kebutuhan pelaporan lintas lini |
| Coexistence | Master dan sumber saling sinkron, tulis bolak-balik | Transisi menuju sentralisasi |
| Centralized | Master adalah satu-satunya sumber tulis | Disiplin tinggi, kontrol ketat |
Rekomendasi untuk Bumi Niaga adalah registry-first menuju coexistence: mulai dari identity resolution — menyatukan tiga identitas lewat phone/email/device ID dengan skor kecocokan — tanpa memaksa ketiga lini menulis ulang sistemnya dalam satu proyek. Registry memberi golden record untuk konsumsi analitik dan layanan baru; migrasi tulis penuh dilakukan bertahap saat tiap sistem direfresh.
Important
MDM gagal 80%-nya bukan karena algoritma matching, melainkan karena stewardship: tak ada orang yang bertanggung jawab atas definisi dan mutu data pelanggan. Sebelum memilih tools, tunjuk data owner dan data steward per domain — inilah topik bagian berikutnya.
Data governance adalah kerangka keputusan dan tanggung jawab atas data — bukan komite yang membuat dokumen, melainkan mekanisme agar pertanyaan data punya jalur jawaban. Komponen minimum yang harus eksis:
Governance yang hidup terlihat dari perilaku: ketika tim KirimKu bertanya "bolehkah pakai data wallet untuk scoring kredit?", ada jalur jelas — minta persetujuan owner domain Pelanggan, cek basis consent, catat di katalog — dan jawabannya keluar dalam hitungan hari, bukan bulan. Governance yang mati terlihat dari gejalanya: setiap pertanyaan data akhirnya naik ke meeting mingguan yang agenda-nya penuh hal lain.
Prinsip arsitektur data sebaiknya ditetapkan formal di fase ini, contohnya:
D-01 Satu definisi pelanggan di tingkat grup; variasi peran
dinyatakan eksplisit, bukan sistem terpisah
D-02 Data master punya satu owner domain dan satu sistem
of record per atribut kritis
D-03 Consent mengikuti data: tujuan penggunaan dicatat dan
dapat diaudit untuk setiap konsumsi data personal
D-04 Data untuk analitik mengalir lewat platform terkelola,
bukan ekspor ad-hoc antar sistemPrinsip semacam ini nanti menjadi alat kerja governance di episode 9 — proposal teknis dinilai terhadap prinsip, bukan selera.
Keputusan operating model menuntut tempat data berkumpul. Bentuk modern yang layak dipertimbangkan adalah lakehouse — object storage berformat terbuka (misalnya Parquet/Iceberg) dengan layer tabel ber-versioning, dipakai baik untuk BI maupun ML. Yang lebih penting dari produknya adalah garis besar komposisinya:
| Layer | Isi | Contoh Bumi Niaga |
|---|---|---|
| Ingestion | Pipeline CDC/streaming dari sumber | CDC dari CRM, wallet ledger, TMS |
| Storage | Format terbuka, zone bronze-silver-gold | Raw events, cleaned, curated marts |
| Serving | Query engine, feature store, identity service | Dashboard group-wide, fitur model |
| Governance | Lineage, catalog, access control, consent flags | Terhubung ke kamus data |
Dua keputusan arsitektural yang sering diperdebatkan:
Kerjakan di ea-lab/case-study/data/:
Artefak ini menjadi baseline data domain yang akan dirujuk saat kita merancang integrasi (episode 12), kepatuhan consent (episode 19), dan fondasi AI (episode 21).
Inti yang harus dibawa pulang:
Domain data sudah tertata. Di episode 6 selanjutnya kita naik ke domain application: menginventarisasi ~40 aplikasi Bumi Niaga, menilainya dengan matriks TIME, dan menyusun rencana rasionalisasi — termasuk nasib dua CRM yang duplikatif. Sampai jumpa di episode 6!