Menuntaskan domain keempat: merumuskan strategi infrastruktur dan cloud lintas AWS-GCP-on-premise, menetapkan technology standards yang ditaati bukan diabaikan, mengelola risiko obsolescence, dan menyusun tech roadmap untuk PT Bumi Niaga

Setelah di episode 6 portofolio aplikasi Bumi Niaga mendapat disposisi TIME dan roadmap rasionalisasi, kita tiba di domain dasar yang menopang semuanya: technology architecture. Ini domain favorit engineer — dan justru karena itu penuh jebakan bias: mudah sekali memulai dari teknologi lalu mencari masalah yang cocok, persis kebalikan arah dependensi yang kita sepakati di episode 3.
Tiga isu konkret menunggu jawaban di Bumi Niaga: landscape tercecer di AWS (BelanjaKu), GCP (KirimKu), dan on-premise (BayarKu); identitas terpisah tiga tempat; dan tidak ada konektivitas antar-lini. Episode ini membahas cara EA bekerja di domain teknologi: strategy sebelum tools, standards yang hidup, dan roadmap yang mengelola usia teknologi.
Technology architecture di level EA bukan soal memilih instance type — melainkan beberapa keputusan struktural yang menentukan fleksibilitas dan biaya bertahun-tahun:
| Pola | Kelebihan | Kekurangan |
|---|---|---|
| Single-cloud | Diskon volume, skill terpusat, operasi sederhana | Daya tawar vendor menurun, risiko ketergantungan |
| Multi-cloud by design | Best-of-breed, daya tawar | Biaya ganda: skill, security, tooling |
| Multi-cloud by accident | - | Yang terjadi di Bumi Niaga: biaya tanpa manfaat |
| Hybrid | Regulasi/data sensitif tetap on-prem | Kompleksitas konektivitas & operasi |
Pembeda pentingnya: multi-cloud by design vs by accident. Yang pertama punya justifikasi eksplisit per workload; yang kedua lahir dari keputusan lokal anak perusahaan dan membayar dua kali untuk segalanya. Diagnosis Bumi Niaga: multi-cloud by accident. Namun jawabannya belum tentu migrasi massal — biaya re-platforming tiga landscape harus dibandingkan manfaatnya. Rekomendasi pragmatis yang akan kita olah di praktik: tetapkan cloud primer per workload category, bukan perusahaan; samakan identity layer; bangun konektivitas antar-cloud; dan evaluasi konsolidasi saat momen natural (renewal, refresh, migrasi aplikasi bertanda Migrate).
Apa pun cloudbuya, fondasi yang distandardisasi adalah nilai EA paling nyata di domain ini: landing zone — blueprint akun/proyek, network topology, IAM baseline, logging, tagging, dan guardrail keamanan yang otomatis dipakai setiap workload baru. Manfaatnya terukur: workload baru naik dalam hari dengan kontrol bawaan, bukan bulan dengan audit menyusul.
Untuk identitas terpisah tiga tempat, arah standarnya jelas: satu identity provider enterprise (SSO + SCIM provisioning) yang difederasikan ke semua cloud dan aplikasi SaaS. Ini prasyarat zero trust yang kita bahas di episode 14, dan fondasi akses yang diaudit untuk BayarKu.
Regulasi membuat sebagian data transaksi fintech sulit keluar dari fasilitas milik sendiri. Posisi EA yang sehat bukan "cloud bagus, pindahkan" melainkan klasifikasi: workload mana yang regulasinya mengizinkan region/cloud lokal, mana yang harus on-premise, dan apakah model colocation/private cloud memenuhi syarat regulator dengan biaya lebih efisien. Keputusan ini selalu diambil bersama compliance — dan kita peruncing lagi di episode 19.
Standar teknologi adalah daftar pilihan yang sudah disepakati agar ratusan keputusan harian tidak dilakukan berulang-ulang. Bentuk yang saya rekomendasikan adalah tiered list:
TIER 1 - STRATEGIC (default, self-service, didukung penuh)
compute : containerized services di Kubernetes managed
data store : PostgreSQL managed, object storage
messaging : Kafka-compatible event streaming
identity : enterprise IdP (SSO wajib)
TIER 2 - APPROVED (boleh dengan justifikasi singkat)
cache : Redis; search: Elasticsearch/OpenSearch
TIER 3 - DEPRECATED (tidak boleh workload baru)
Java 8 runtime; database Oracle baru; bare-metal ad-hoc
EXCEPTIONS : via ARB (episode 9), expiry date wajibTiga hal yang membuat standards ditaati: (1) tier strategic benar-benar enak dipakai — templated, termonitor, cepat; (2) jalur exception resmi dan cepat, sehingga tidak ada insentif diam-diam; (3) daftar direview rutin — standar basi lebih merusak reputasi daripada tidak ada standar.
Important
Standar bukan daftar teknologi terpopuler. Ia turunan dari kebutuhan portofolio: kalau 80% workload adalah API bisnis dengan traffic moderat, satu stack strategic yang matang lebih bernilai daripada lima alternatif "best-of-breed" yang tiap-tiap butuh tim khusus.
Setiap teknologi punya umur ekonomi. EA menjadikan penuaan ini terkelola, bukan kejutan: catat end-of-life di portfolio (kolom teknologi & usia dari episode 6), tetapkan ambang alarm (misalnya EOL kurang dari 18 bulan), dan anggarkan migrasinya sebagai program berkala — bukan proyek darurat saat support berhenti. Metrik sederhana yang layak dilaporkan ke CIO: persentase workload di Tier 3, jumlah exception aktif, dan usia median stack utama. Angka-angka ini nanti masuk dashboard value EA di episode 25.
Prasyarat fisik dari seluruh integrasi logika episode 12 adalah jaringan yang menghubungkan tiga environment. Tiga opsi utama dengan trade-off-nya:
| Opsi | Karakteristik | Cocok Untuk |
|---|---|---|
| VPN over internet | Murah, jadi dalam hari, latency bervariasi | PoC, trafik kecil non-kritis |
| Dedicated interconnect | Bandwidth besar, SLA eksplisit, setup berbulan | Trafik produksi lintas cloud |
| SD-WAN / overlay | Fleksibel multi-site, satu operasi terpadu | Banyak lokasi plus DC on-premise |
Rekomendasi Bumi Niaga: dedicated interconnect AWS-GCP untuk trafik produksi, site-to-site ke DC BayarKu dengan enkripsi end-to-end, dan routing policy tertulis — termasuk aturan bahwa traffic data teregulasi hanya melalui jalur private yang terdaftar (nanti menjadi bagian privacy zone di episode 19). VPN tetap dipertahankan sebagai jalur cadangan DR, diuji berkala — jalur darurat yang tak pernah dites bukan jalur darurat.
Kerjakan di ea-lab/case-study/technology/:
Dua jebakan klasik domain ini: keputusan topology diambil per tim tanpa peta grup (lahirlah multi-cloud by accident yang kalian diagnosis), dan standards ditulis lalu tak pernah direview sampai isinya melarang teknologi yang sudah punah — standar basi merusak kredibilitas semua standar lain.
Catatan terakhir sebelum praktik: artefak episode ini akan kalian rujuk berulang di episode-episode lanjutan — rawat ia seperti kode produksi, bukan tugas sekali jalan.
Inti yang harus dibawa pulang:
Empat domain arsitektur kini punya baseline: business (ep 4), data (ep 5), application (ep 6), technology (hari ini). Di episode 8 selanjutnya kita menyatukannya: menerjemahkan strategi bisnis menjadi IT strategy dan roadmap enterprise — teknik menyusun strategic themes, transition states, dan roadmap EA yang meyakinkan dewan direksi. Sampai jumpa di episode 8!