Merapikan domain application: menyusun inventaris aplikasi yang akurat, menilai portofolio dengan matriks TIME (tolerate-invest- migrate-eliminate), menjalankan rasionalisasi terhadap aplikasi duplikatif Bumi Niaga, dan menerjemahkannya menjadi roadmap aplikasi

Setelah di episode 5 kalian menyelesaikan fragmentasi data pelanggan lewat EDM, MDM registry-first, dan platform data grup, sekarang kita bergerak ke domain yang paling terlihat kekacauannya di hampir setiap enterprise: application architecture. Temuan episode 3 masih menggantung — dua CRM, tiga sistem notifikasi, dua BI tool di satu grup usaha.
Domain ini penting karena anggaran TI terbesar biasanya habis bukan untuk inovasi, melainkan untuk memelihara aplikasi yang sudah ada. Tanpa pengelolaan portofolio yang sadar, biaya pemeliharaan merayap naik tiap tahun dan ruang investasi baru menyempit. Alat kerjanya: application portfolio management (APM) dengan siklus inventaris, penilaian, rasionalisasi, dan roadmap.
Sebelum menilai apa pun, kalian butuh daftar yang benar. Pengalaman lapangan: pertanyaan sederhana "berapa aplikasi kita?" hampir selalu dijawab beda oleh tiga orang berbeda — karena definisi "aplikasi" tidak pernah disepakati. Tetapkan dulu unit hitungan:
Atribut minimum per aplikasi yang layak dikumpulkan:
| Atribut | Contoh | Dipakai Untuk |
|---|---|---|
| Nama & versi | CRM Retail (Salesforce) | Identifikasi |
| Owner bisnis & teknis | VP Merchandising / Tim App BelanjaKu | Keputusan & komunikasi |
| Kapabilitas yang ditopang | Customer Management | Analisis gap/duplikasi |
| Data kritis yang diproses | Profil pelanggan | Risiko & regulasi |
| Biaya tahunan | Lisensi + infra + maintenance | Prioritisasi |
| Teknologi & usia | Java 8, rilis 2014 | Risiko obsolescence |
| Integrasi | 12 downstream | Analisis dampak perubahan |
Untuk ~40 aplikasi Bumi Niaga, spreadsheet cukup; di atas ratusan, EA repository komersial seperti LeanIX layak dipertimbangkan (kita siapkan di episode 10).
Matriks standar industri adalah TIME — dua sumbu: nilai fungsional/bisnis saat ini dan kelayakan teknologi (health). Persilangannya memberi empat disposisi:
| Health Tinggi | Health Rendah | |
|---|---|---|
| Nilai bisnis tinggi | Tolerate | Invest |
| Nilai bisnis rendah | Migrate | Eliminate |
Empat disposisinya:
Dua kesalahan penilaian yang paling sering: pertama, semua aplikasi dinilai "strategis" karena tiap owner membela sistemnya — solusinya gunakan data (biaya, insiden, jumlah user aktif) sebagai pemberat diskusi. Kedua, matriks dipakai sebagai keputusan final dalam satu rapat — padahal ia alat percakapan; disposisi awal akan berevolusi setiap review kuarteran.
Rasionalisasi adalah proses mengurangi redundansi dan kompleksitas portofolio. Untuk Bumi Niaga, target jelas dari episode 3: dua CRM, tiga sistem notifikasi, dua BI tool. Pola keputusan yang saya pakai:
| Situasi | Opsi | Trade-off Utama |
|---|---|---|
| Fungsi sama, lini berbeda, proses boleh beda | Satu platform multi-tenant + API kontrak seragam | Efisiensi lisensi vs kebutuhan kustomisasi |
| Fungsi sama, kebutuhan regulasi beda | Platform sama, deployment/zone terpisah | Kompleksitas operasional vs compliance |
| Fungsi mirip tapi maturity beda jauh | Yang terbaik jadi paved road; lainnya freeze lalu matikan | Migrasi data & kebiasaan user |
Terjemahkan ke kasus konkret. CRM: di bawah operating model Coordination (episode 4), proses penjualan tiap lini otonom — maka memaksa satu CRM untuk retail dan fintech adalah over-standardization. Keputusan yang lebih tajam: pertahankan dua CRM dalam jangka pendek, tetapi wajibkan keduanya bicara ke Customer Registry lewat kontrak API seragam, dan tetapkan arah konsolidasi jangka panjang begitu vendor contract renewal memberi momen negosiasi. Notifikasi: tiga sistem untuk email/SMS murni pemborosan — satu service notifikasi terpusat dengan template dan consent check, dipakai ketiga lini. BI: satu platform analitik di atas data platform grup (episode 5), sandbox bebas di atasnya.
Tip
Rasionalisasi paling berhasil saat digandengkan dengan event yang sudah pasti: renew kontrak vendor, end-of-support teknologi, atau refresh hardware. Usulan "matikan aplikasi X" tanpa momen seperti itu akan tertunda bertahun-tahun; usulkan pada momen yang tepat dan ia terjadi hampir sendirinya.
Hasil TIME dan rasionalisasi diterjemahkan menjadi urutan gerakan 18-24 bulan. Format ringkas yang efektif:
Wave 0 (kuarter ini) - Notifikasi service terpusat v1 (BayarKu pilot)
- Customer Registry live: CRM BelanjaKu + wallet BayarKu
Wave 1 - Migrasi notifikasi KirimKu; matikan 2 sistem lama
- BI tool lini digabung ke platform analitik grup
Wave 2 - CRM fintech evaluation di momen contract renewal
- Legacy warehouse BelanjaKu dimusnahkan (data sudah di lakehouse)
Prinsip - Tidak ada fitur baru pada sistem bertanda Eliminate
- Setiap proyek baru wajib integrasi via registry/API, bukan DB langsungPerhatikan prinsip terakhir: disposisi hanya berguna jika memengaruhi perilaku harian — permintaan fitur pada aplikasi Eliminate harus bisa ditolak dengan rujukan formal. Mekanisme formalnya adalah governance yang kita bangun di episode 9.
Kerjakan di ea-lab/case-study/application/:
Inti yang harus dibawa pulang:
Portofolio aplikasi sudah punya arah. Di episode 7 selanjutnya kita turun ke domain paling dasar: technology architecture — strategi infrastruktur dan cloud untuk ketiga lini yang tersebar AWS/GCP/on-premise, penetapan technology standards, dan penyusunan tech roadmap termasuk kelola obsolescence. Sampai jumpa di episode 7!