Episode ini membimbing kalian merencanakan hardware NAS: CPU, RAM ECC untuk ZFS, HBA passthrough, NIC 10GbE, hingga cache SSD seperti SLOG dan L2ARC. Kalian juga belajar menyusun layout disk yang menyeimbangkan kapasitas, port bay, budget, dan reliability sesuai kebutuhan produksi.

NAS yang andal dimulai dari hardware yang direncanakan dengan baik. Episode 3 ini fokus pada perencanaan hardware dan storage: memilih CPU dan RAM yang tepat, memahami pentingnya RAM ECC untuk ZFS, memilih HBA dan NIC, serta merancang layout disk yang menyeimbangkan kapasitas, port bay, budget, dan reliability.
Banyak pemula membuat kesalahan dengan langsung membeli disk termurah tanpa menghitung kebutuhan. Padahal keputusan hardware menentukan batas maksimal performa, kapasitas, dan keamanan data NAS kalian bertahun-tahun ke depan.
Di akhir episode ini kalian akan bisa membuat daftar spesifikasi NAS yang sesuai kebutuhan, dari NAS hemat hingga build production-grade dengan 10GbE dan ECC.
CPU untuk NAS tidak perlu yang paling mahal, tetapi harus cukup untuk workload. Untuk file sharing dasar, CPU entry-level dengan beberapa core sudah memadai. Jika kalian berencana menjalankan apps, VMs, atau enkripsi ZFS, pilih CPU dengan lebih banyak core dan dukungan virtualisasi.
Perhatikan pula bahwa enkripsi native ZFS dan kompresi zstd bisa memanfaatkan instruction set modern. CPU generasi terbaru akan membuat operasi ini jauh lebih cepat tanpa membebani sistem.
ZFS adalah pemakai RAM yang rakus, dan itu disengaja: ARC (Adaptive Replacement Cache) memanfaatkan RAM kosong untuk mempercepat akses data yang sering dipakai. Aturan praktisnya, sediakan minimal 1 GB RAM per terabyte raw storage, ditambah ruang untuk sistem dan aplikasi.
Yang tidak kalah penting: RAM ECC. Karena ZFS mengandalkan checksum untuk mendeteksi korupsi data, RAM tanpa ECC yang diam-diam merusak data di memori bisa membuat checksum tidak berguna. Untuk data penting, gunakan motherboard dan CPU yang mendukung ECC.
dmidecode -t memory | grep -E "Error Correction Type|Maximum Capacity"Jika output menunjukkan Multi-bit ECC, sistem kalian mendukung koreksi kesalahan memori. Ini nilai plus besar untuk ZFS.
HBA (Host Bus Adapter) adalah kartu yang menghubungkan banyak disk ke sistem, biasanya berbasis chip LSI/Broadcom dengan mode IT. Hindari RAID card dalam mode RAID hardware: untuk ZFS, disk harus diakses mentah agar ZFS yang mengatur redundancy.
lspci | grep -i "sas\|raid"
lsblkPerintah lspci menampilkan controller SAS/RAID yang terpasang. Pastikan controller berjalan dalam mode IT (passthrough), bukan mode RAID.
Jika NAS berjalan sebagai VM, pertimbangkan PCIe passthrough HBA ke VM sehingga ZFS mendapat akses langsung ke disk tanpa lapisan virtualisasi. Ini menghindari masalah kompatibilitas SMART dan snapshot. Pada Proxmox atau ESXi, passthrough dilakukan dengan memetakan PCI device HBA ke VM.
NIC (Network Interface Card) menentukan kecepatan transfer NAS. Untuk kebutuhan dasar, 1GbE cukup untuk media streaming dan file sharing biasa. Jika workload melibatkan video editing, backup besar, atau banyak user, pertimbangkan 10GbE yang 10 kali lebih cepat.
Perhatikan juga jumlah port: NIC dengan dua port atau lebih memungkinkan bonding/LAG di episode 8 untuk agregasi bandwidth dan redundancy link.
ethtool eth0Output Speed pada perintah ethtool menunjukkan kecepatan link aktual, misalnya 10000Mb/s untuk 10GbE.
SLOG (Separate Intent Log) adalah perangkat SSD khusus yang menangkap operasi synchronous write agar ZFS bisa mengakuinya secepat mungkin. SLOG bukan cache baca-tulis; dia adalah perekam intent log yang membuat write sync jauh lebih cepat. Gunakan SSD dengan perlindungan power-loss (power-loss protection) dan dukungan fdatasync yang baik.
L2ARC adalah cache baca kedua yang menempati SSD atau NVMe. Tidak seperti ARC yang memakai RAM, L2ARC bisa jauh lebih besar. Gunakan hanya jika ada hot data yang teridentifikasi, karena L2ARC tetap memakan RAM untuk metadata indeksnya.
Special VDEV menyimpan metadata dan data kecil (small blocks) sehingga operasi seperti pembuatan file dan listing direktori menjadi sangat cepat, sementara disk HDD utama fokus pada data besar. Ini topik lanjutan yang akan kita bedah di episode 17.
Setelah komponen inti diputuskan, rancang layout disk sesuai jumlah bay yang tersedia:
Jangan lupa menyediakan hot-spare dan mempertimbangkan budget: disk besar lebih murah per terabyte tetapi memperpanjang waktu rebuild. Untuk NAS produksi, prioritaskan RAIDZ2 atau double mirror daripada menghemat satu disk.
lsblk -o NAME,SIZE,MODELGunakan output lsblk untuk memetakan kapasitas aktual tiap disk sebelum membuat keputusan topologi.
Di episode 3 ini kalian sudah merencanakan hardware NAS secara menyeluruh: CPU dan RAM dengan pertimbangan ECC untuk ZFS, HBA mode IT dengan passthrough, NIC hingga 10GbE, opsi cache SLOG dan L2ARC, serta layout disk yang menyeimbangkan budget dan reliability.
Inti yang harus dibawa pulang:
Di episode 4 selanjutnya kita akan melakukan instalasi dan konfigurasi awal TrueNAS SCALE dan OpenMediaVault — dari install ISO, boot environment, hingga setup storage pools dan network pertama lewat Web UI. Hardware kalian sudah direncanakan, sekarang saatnya dipasang.