Episode ini menelusuri kelahiran OpenStack oleh Rackspace dan NASA pada 2010, mendefinisikan OpenStack sebagai platform IaaS open-source, membedah arsitektur utama dengan Control Plane, Compute, Network, dan Storage Nodes, lalu membandingkannya dengan VMware vSphere, CloudStack, dan Proxmox.

Di episode 0 kalian sudah berdiri di depan pintu gerbang: DevStack berjalan dan openstack service list menampilkan jajaran service. Sekarang waktunya memahami mengapa OpenStack ada, apa yang dia kerjakan, dan bagaimana dia disusun. Inilah fondasi konseptual yang membedakan operator paham dengan sekadar penyalin perintah.
Episode 1 membahas tiga hal: sejarah dan latar belakang OpenStack, definisi OpenStack sebagai platform IaaS, serta arsitektur utama dengan empat jenis node. Di akhir episode, kalian juga akan melihat posisi OpenStack dibandingkan platform lain seperti VMware vSphere, CloudStack, dan Proxmox.
OpenStack lahir tahun 2010 sebagai proyek bersama Rackspace dan NASA. Rackspace, perusahaan hosting, dan NASA yang butuh infrastruktur komputasi fleksibel, menggabungkan dua codebase: Swift (object storage) dan Nova (compute). Keduanya dirilis open-source dan menjadi fondasi OpenStack pertama.
Sejak saat itu, OpenStack dikelola oleh Open Infrastructure Foundation (OpenInfra Foundation) — organisasi non-profit yang juga menaungi proyek seperti Kubernetes sub-projects dan Airship. Komunitasnya terdiri dari ratusan vendor dan ribuan kontributor dari seluruh dunia.
OpenStack merilis versi dengan nama kota, mengikuti urutan alfabet:
2010 Austin
2011 Diablo
2012 Folsom
2014 Icehouse
2016 Newton
2018 Rocky
2020 Ussuri
2022 Zed
2024 Caracal
2026 - dan seterusnyaSetiap rilis membawa perbaikan stabilitas dan fitur baru. Ini membuat kalian perlu memperhatikan versi saat men-deploy produksi, karena API dan perilaku service bisa berubah.
OpenStack adalah platform IaaS (Infrastructure-as-a-Service) open-source yang mengelola Compute, Networking, dan Storage secara terpusat melalui API dan Dashboard. Beda dengan platform managed seperti AWS, OpenStack kalian deploy sendiri di atas hardware kalian — itulah yang disebut private cloud.
Dengan OpenStack, kalian bisa menyediakan sumber daya cloud internal:
openstack endpoint list --interface publicopenstack endpoint list --interface public menampilkan semua API endpoint — bukti bahwa OpenStack memang API-first. Dashboard Horizon hanyalah klien dari API ini.
Beberapa istilah yang akan terus muncul sepanjang series:
Secara konseptual, cluster OpenStack dibagi menjadi empat peran:
| Node | Peran | Komponen Utama |
|---|---|---|
| Control Plane | API, scheduler, koordinasi | Keystone, Nova API, MariaDB/Galera, RabbitMQ |
| Compute Node | Menjalankan instance VM | Nova Compute, KVM/QEMU Hypervisor |
| Network Node | SDN dan routing | Neutron Server, Open vSwitch, L3 Agent |
| Storage Node | Block, object, shared FS | Cinder, Swift, Manila, Ceph |
Control Plane adalah otak cluster. Dia menjalankan seluruh API Services, Scheduler yang memilih node tujuan instance, database MariaDB/Galera yang menyimpan state, dan message queue RabbitMQ yang mengirim instruksi antar service.
user → API (Keystone/Nova) → Scheduler → Message Queue → Compute Node
↓
Database (state)Jika Control Plane mati, API tidak bisa diakses, meskipun instance yang sudah berjalan tetap hidup. Ini alasan mengapa produksi memakai lebih dari satu node controller (HA).
Compute Nodes adalah pekerja: mereka menjalankan instance VM memakai hypervisor KVM/QEMU. Network Nodes mengelola SDN (Software-Defined Networking) — routing, DHCP, dan NAT secara virtual. Storage Nodes menyediakan penyimpanan: block untuk volume, object untuk data tidak terstruktur, dan shared filesystem untuk akses bersama.
Dalam deployment produksi nyata, peran ini bisa digabung atau dipisah sesuai skala — topologi inilah yang akan kita bedah di episode 14.
OpenStack tidak sendirian. Tiga platform yang sering dibandingkan:
| Platform | Lisensi | Fokus | Kekuatan |
|---|---|---|---|
| OpenStack | Apache 2.0 | Private cloud IaaS | Open, API-first, multi-tenant, enterprise |
| VMware vSphere | Proprietary | Virtualisasi data center | Maturitas, dukungan vendor, hypervisor |
| Apache CloudStack | Apache 2.0 | IaaS cloud | Sederhana, cepat deploy |
| Proxmox VE | AGPL | Virtualisasi + Ceph | Ringan, Web UI, cocok SMB |
VMware vSphere adalah pemain dominan di data center tradisional dengan hypervisor matur dan fitur kaya, tapi proprietary dan biaya lisensi tinggi. CloudStack menawarkan IaaS yang lebih sederhana untuk dioperasikan. Proxmox sangat populer di skala kecil-menengah karena kemudahan penggunaannya.
OpenStack unggul di titik ini: vendor-neutral, API lengkap, multi-tenancy enterprise, dan ekosistem terbuka. Kekurangannya, kurva belajar dan kompleksitas operasional paling tinggi di antara semuanya. Inilah mengapa series ini penting — kalian belajar mengelola kompleksitas itu langkah demi langkah.
Episode 1 menempatkan OpenStack dalam konteks: sejarah kelahiran 2010 oleh Rackspace dan NASA di bawah OpenInfra Foundation, definisinya sebagai platform IaaS open-source yang API-first, arsitektur empat peran node (Control Plane, Compute, Network, Storage), dan posisinya melawan vSphere, CloudStack, dan Proxmox.
Inti yang harus dibawa pulang:
Di episode 2 selanjutnya kita akan membahas core services OpenStack dan komunikasi antar komponen — Keystone, Glance, Nova, Neutron, Cinder, dan Horizon, bagaimana mereka saling bicara lewat message queue RabbitMQ, database MariaDB/Galera, dan RESTful API. Pastikan openstack service list di lab kalian masih berjalan dengan baik.