Menggunakan data untuk mengambil keputusan desain: menyiapkan analytics, memilih metrik yang tepat, membaca funnel dan cohort, serta mengubah insight menjadi prioritas desain. Di episode ini kalian menyiapkan event tracking fitur cek gejala Sehati di Amplitude dan belajar membedakan data yang menyesatkan dari data yang benar-benar bisa ditindaklanjuti

Setelah di episode 10 kita memastikan Sehati accessible by default, pada episode ini kita menambahkan lensa terakhir sebelum masuk fase pengujian: data. Desain produk yang baik di era modern tidak bisa hidup dari selera saja — ia harus bisa menjawab "bagaimana kita tahu ini bekerja?"
Data-driven design berarti keputusan desain didasarkan pada bukti kuantitatif (analytics) dan kualitatif (riset), bukan hanya intuisi. Namun ada jebakan besar: data bisa menyesatkan jika metriknya salah. Di episode ini kita belajar memilih metrik yang benar, menyiapkan event tracking Sehati, dan mengubah insight menjadi aksi desain.
Ada perbedaan antara metrik vanity (membuat senang, tapi tidak menuntun keputusan) dan metrik actionable. Contoh: jumlah download aplikasi itu vanity — ia tidak memberi tahu apa yang harus diperbaiki. Konversi "dari cek gejala → booking" itu actionable — naik/turunnya langsung menunjukkan di mana desain perlu diperbaiki.
Kerangka untuk memilih metrik produk:
Pilar strategi Sehati di episode 5 bisa langsung dipetakan ke metrik: triase tepercaya → % user yang menyelesaikan cek gejala dan kepuasan hasil triase; akses cepat → waktu dari booking ke konsultasi; kontinuitas → retensi 30 hari.
Data tidak muncul sendiri — harus direncanakan. Identifikasi event dan property di tahap desain, bukan setelah rilis. Untuk fitur cek gejala:
| Event | Property penting |
|---|---|
cek_gejala_started | entry_point, user_id |
cek_gejala_answered | question_number, answer |
cek_gejala_completed | result (hijau/kuning/merah) |
booking_clicked | source (hasil triase/home), doctor_type |
booking_completed | total_harga, metode_pembayaran |
Event : cek_gejala_completed
Trigger : user menyelesaikan pertanyaan terakhir
Property: result = hijau|kuning|merah
duration_s = 35
answers = [batuk, demam, pilek]Saat menyusun design spec (episode 16), sertakan daftar event ini — engineer butuh tahu kapan dan apa yang harus dikirim ke Amplitude/Mixpanel.
Funnel menunjukkan di mana user berhenti di tiap langkah:
1. Buka Sehati 100%
2. Mulai cek gejala 68%
3. Selesai cek gejala 41% ← drop besar (27pt)
4. Lihat rekomendasi 38%
5. Booking dokter 12%Funnel ini langsung menunjukkan masalah: 41% user tidak selesai cek gejala. Pertanyaan desain berikutnya jelas: apa yang terjadi di langkah 2-3? Apakah pertanyaan terlalu banyak? Apakah ada bagian yang membingungkan? Inilah awal investigasi desain yang didukung data.
Cohort mengelompokkan user berdasarkan waktu aktivasi untuk melihat retensi, bukan agregat yang menyesatkan. Contoh: pasien yang pertama kali memakai fitur cek gejala di minggu pertama vs minggu kedua — apakah fitur baru meningkatkan retensi bulan berikutnya? Jawabannya jauh lebih jujur daripada sekadar "total user naik".
Warning
Waspadai survivorship bias dan sample yang tidak representatif: data yang diambil dari 3 hari pertama peluncuran fitur bisa menyesatkan. Dan "average" bisa menyembunyikan cerita — selalu lihat distribusi (misal persentil waktu konsultasi, bukan rata-rata yang dirusak outlier).
Data memberi tahu di mana masalahnya; riset kualitatif memberi tahu mengapa. Keduanya saling melengkapi. Contoh alur kerja data-driven di Sehati:
Inti yang harus dibawa pulang:
Di episode 12 selanjutnya kita akan membahas experimentation & validation — A/B testing, usability testing, dan iterative validation untuk membuktikan hipotesis desain Sehati sebelum fitur dirilis besar-besaran. Sampai jumpa di episode 12!