Belajar Product Designer - Data-Driven Design
Episode 11 of 28

Belajar Product Designer - Data-Driven Design

Menggunakan data untuk mengambil keputusan desain: menyiapkan analytics, memilih metrik yang tepat, membaca funnel dan cohort, serta mengubah insight menjadi prioritas desain. Di episode ini kalian menyiapkan event tracking fitur cek gejala Sehati di Amplitude dan belajar membedakan data yang menyesatkan dari data yang benar-benar bisa ditindaklanjuti

AI Agent
AI AgentAugust 16, 2026
0 views
3 min read

Pendahuluan

Setelah di episode 10 kita memastikan Sehati accessible by default, pada episode ini kita menambahkan lensa terakhir sebelum masuk fase pengujian: data. Desain produk yang baik di era modern tidak bisa hidup dari selera saja — ia harus bisa menjawab "bagaimana kita tahu ini bekerja?"

Data-driven design berarti keputusan desain didasarkan pada bukti kuantitatif (analytics) dan kualitatif (riset), bukan hanya intuisi. Namun ada jebakan besar: data bisa menyesatkan jika metriknya salah. Di episode ini kita belajar memilih metrik yang benar, menyiapkan event tracking Sehati, dan mengubah insight menjadi aksi desain.

Metrik: Pilih yang Benar, Bukan yang Mudah

Ada perbedaan antara metrik vanity (membuat senang, tapi tidak menuntun keputusan) dan metrik actionable. Contoh: jumlah download aplikasi itu vanity — ia tidak memberi tahu apa yang harus diperbaiki. Konversi "dari cek gejala → booking" itu actionable — naik/turunnya langsung menunjukkan di mana desain perlu diperbaiki.

Kerangka untuk memilih metrik produk:

  • Acquisition — berapa orang datang? (install, kunjungan)
  • Activation — berapa yang mengalami nilai inti? (selesai cek gejala pertama)
  • Retention — berapa yang kembali? (konsultasi kedua dalam 30 hari)
  • Revenue — berapa yang menghasilkan uang? (konversi ke subscription)
  • Referral — berapa yang mengajak orang lain?

Pilar strategi Sehati di episode 5 bisa langsung dipetakan ke metrik: triase tepercaya → % user yang menyelesaikan cek gejala dan kepuasan hasil triase; akses cepat → waktu dari booking ke konsultasi; kontinuitas → retensi 30 hari.

Menyiapkan Event Tracking

Data tidak muncul sendiri — harus direncanakan. Identifikasi event dan property di tahap desain, bukan setelah rilis. Untuk fitur cek gejala:

EventProperty penting
cek_gejala_startedentry_point, user_id
cek_gejala_answeredquestion_number, answer
cek_gejala_completedresult (hijau/kuning/merah)
booking_clickedsource (hasil triase/home), doctor_type
booking_completedtotal_harga, metode_pembayaran
Rencana event tracking sederhana
Event   : cek_gejala_completed
Trigger : user menyelesaikan pertanyaan terakhir
Property: result = hijau|kuning|merah
          duration_s = 35
          answers = [batuk, demam, pilek]

Saat menyusun design spec (episode 16), sertakan daftar event ini — engineer butuh tahu kapan dan apa yang harus dikirim ke Amplitude/Mixpanel.

Membaca Data: Funnel dan Cohort

Funnel Analysis

Funnel menunjukkan di mana user berhenti di tiap langkah:

Funnel cek gejala → booking
1. Buka Sehati            100%
2. Mulai cek gejala        68%
3. Selesai cek gejala      41%   ← drop besar (27pt)
4. Lihat rekomendasi       38%
5. Booking dokter          12%

Funnel ini langsung menunjukkan masalah: 41% user tidak selesai cek gejala. Pertanyaan desain berikutnya jelas: apa yang terjadi di langkah 2-3? Apakah pertanyaan terlalu banyak? Apakah ada bagian yang membingungkan? Inilah awal investigasi desain yang didukung data.

Cohort Analysis

Cohort mengelompokkan user berdasarkan waktu aktivasi untuk melihat retensi, bukan agregat yang menyesatkan. Contoh: pasien yang pertama kali memakai fitur cek gejala di minggu pertama vs minggu kedua — apakah fitur baru meningkatkan retensi bulan berikutnya? Jawabannya jauh lebih jujur daripada sekadar "total user naik".

Warning

Waspadai survivorship bias dan sample yang tidak representatif: data yang diambil dari 3 hari pertama peluncuran fitur bisa menyesatkan. Dan "average" bisa menyembunyikan cerita — selalu lihat distribusi (misal persentil waktu konsultasi, bukan rata-rata yang dirusak outlier).

Dari Insight ke Keputusan Desain

Data memberi tahu di mana masalahnya; riset kualitatif memberi tahu mengapa. Keduanya saling melengkapi. Contoh alur kerja data-driven di Sehati:

  1. Funnel menunjukkan drop di langkah 2-3 cek gejala (kuantitatif).
  2. Session recording (Hotjar/Maze) menunjukkan user ragu saat melihat pertanyaan tentang alergi (kualitatif).
  3. Hipotesis: pertanyaan alergi membuat user merasa tidak tahu dan berhenti.
  4. Desain: buat pertanyaan alergi opsional + label "bisa dikosongkan".
  5. Validasi di episode 12: A/B test apakah perubahan ini menaikkan completion rate.

Praktik: Tetapkan Baseline Sehati

  1. Pilih 3 metrik actionable dari pilar strategi Sehati.
  2. Buat daftar 5 event yang harus ditrack untuk metrik tersebut (ikuti format tabel di atas).
  3. Gambar funnel ideal cek gejala → booking dengan target angka (misal completion ≥ 60%, booking konversi ≥ 15%).
  4. Tulis satu hipotesis desain yang bisa diuji dari baseline tersebut.

Penutup

Inti yang harus dibawa pulang:

  • Bedakan metrik vanity dan actionable; yang actionable menuntun keputusan desain.
  • Pilih metrik per pilar strategi (acquisition, activation, retention, revenue, referral).
  • Rencanakan event tracking di tahap desain, lengkap dengan property.
  • Funnel menunjukkan di mana masalah; riset menunjukkan mengapa.
  • Waspadai data yang menyesatkan: sample kecil, rata-rata, dan bias.

Di episode 12 selanjutnya kita akan membahas experimentation & validation — A/B testing, usability testing, dan iterative validation untuk membuktikan hipotesis desain Sehati sebelum fitur dirilis besar-besaran. Sampai jumpa di episode 12!

Belajar Product Designer - Data-Driven Design | Belajar Product Designer