Membuktikan keputusan desain dengan eksperimen: merancang A/B test, menjalankan usability testing, dan menerapkan iterative validation. Di episode ini kalian merancang dan menjalankan eksperimen untuk hipotesis cek gejala Sehati dari episode 11, membaca hasilnya dengan benar, dan memutuskan langkah selanjutnya berdasarkan bukti

Setelah di episode 11 kita menyiapkan analytics dan menetapkan baseline metrik Sehati, pada episode ini kita menutup siklus data: eksperimen dan validasi. Hipotesis dari episode 11 ("pertanyaan alergi membuat user berhenti") tetap hipotesis sampai diuji dengan benar.
Validasi bisa dilakukan kuantitatif (A/B test dengan data nyata) dan kualitatif (usability test dengan observasi). Keduanya punya peran berbeda: A/B test menjawab "mana yang lebih baik?" dengan bukti skala besar; usability test menjawab "mengapa user berhenti?" dengan kedalaman. Product designer yang baik memakai keduanya sesuai pertanyaan.
Usability test mengamati perilaku nyata user mengerjakan task. Unmoderated (Maze) cepat dan murah; moderated (Live) lebih dalam. Langkah dasarnya:
Completion rate : % user menyelesaikan task tanpa bantuan
Error rate : jumlah kesalahan per task
Time on task : durasi menyelesaikan task
SUS / CSAT : skor kepuasan subjektifSaat moderasi, gunakan metode thinking aloud: minta participant mengucapkan apa yang mereka pikirkan. Ini membuka alasan di balik setiap kebingungan — bahan emas untuk iterative design.
A/B test membandingkan dua versi (A kontrol, B varian) dengan memecah traffic secara acak. Aturan yang harus dipegang:
| Parameter | Nilai |
|---|---|
| Hipotesis | Pertanyaan alergi opsional menaikkan completion cek gejala ≥ 5pt |
| Varian A | Pertanyaan alergi wajib (baseline) |
| Varian B | Pertanyaan alergi opsional + label "bisa dikosongkan" |
| Metrik primer | Completion rate cek gejala |
| Metrik sekunder | Konversi ke booking, waktu pengerjaan |
| Durasi | 2 minggu, minimal 5.000 user per varian |
Hasil yang mungkin: completion naik 8pt (menangkan B) atau naik tapi konversi booking turun (pertanyaan alergi memang penting untuk triase — jangan langsung menangkan hanya karena metrik primer!). Inilah pentingnya metrik sekunder.
Eksperimen bukan sekali jalan. Alurnya: uji → pelajari → perbaiki → uji lagi. Hasil A/B test sering membuka pertanyaan baru, bukan menutup. Jangan terobsesi pada satu angka; yang penting adalah arah dan magnitudo — dan memahami mengapa perubahan bekerja.
Iterasi 1: pertanyaan alergi → opsional. Completion +8pt ✓
Iterasi 2: muncul pertanyaan baru — user bingung di hasil kuning
→ perbaiki copy hasil → uji lagi (episode 15 critique)
Iterasi 3: hasil stabil → scale ke semua userNote
Jika kalian tidak sempat menjalankan A/B test sungguhan, cukup rancang dan dokumentasikan desain eksperimennya. Skill yang paling berharga bukan menekan tombol "run test", melainkan merumuskan hipotesis dan memilih metrik yang benar — ini yang membedakan desain "coba-coba" dari desain berbasis bukti.
Inti yang harus dibawa pulang:
Di episode 13 selanjutnya kita akan membahas kolaborasi dengan PM & Engineer — working agreements, membaca PRD, dan design-engineering handoff yang mulus, karena desain terbaik tidak berguna jika tidak bisa dibangun. Sampai jumpa di episode 13!